Saturday, 25 Sep 2021
Temukan Kami di :
Opini

Kisah Cinta Rakyat dengan Pemimpinnya, Ada yang Cemburu

Indah Pratiwi Budi - 03/03/2021 14:36

FOKUS : Jokowi


Oleh : Agung Wibawanto

Beberapa jam paska kunjungan kerja Jokowi ke NTT dalam rangka peninjauan Food State dan peresmian waduk, grup wa diramaikan dengan postingan video dan foto Jokowi. Mulai dari sambutan rakyat NTT yang heboh merangsek maju mendekat ke mobil Presiden yang tengah berjalan hingga saat Jokowi berjalan sendiri membawa payung di tengah sawah saat hujan deras tanpa pengawalan.

Rakyat NTT begitu senang dan bangga akan kehadiran presiden ke daerah mereka. Namun sayang disayang, Presiden Jokowi hanya bisa membuka kaca jendela pintu atau atap mobilnya untuk melihat dan menyapa langsung warga sambil melambaikan tangan. Dapat dipahami sesungguhnya beliau juga rindu ingin mendekat, menyapa dan bersalaman serta biasanya melayani permintaan foto bareng oleh rakyatnya.

Tidak ada pemimpin yang tidak rindu berada di tengah-tengah rakyatnya. Turut merasakan apa yang mereka keluhkan, namun terkadang juga bercanda dan tertawa bersama. Jika ada pemimpin yang tidak ingin seperti itu, atau bahkan malas untuk "mendekat" hingga tidak ada jarak, maka bisa dipastikan pemimpin itu seorang yang angkuh pembawaan dan rakyat sendiri tidak sudi menghampiri.

Jokowi adalah kita, kita adalah rakyat Indonesia. Jadi sebenarnya Jokowi hanya seorang anak bangsa yang bukan malaikat ataupun super hero layaknya Superman. Kadang kita turut was-was dan menyayangkan setiap kejadian yang dilakukan Jokowi sebagai presiden. Namun sekali lagi Jokowi bukan seorang yang serba sempurna, layaknya saya dan kita semua.

Memang dan bisa saja ia melakukan kesalahan ataupun sesuatu yang tidak kita inginkan. Jokowi tidak bisa selalu melakukan sesuatu yang kita inginkan. Ada kalanya ia harus dengan terpaksa menabrak dan melangkah terus maju meski reputasi politik dipertaruhkan. Ia tidak takut menjadi tidak popular. Demi rakyat ia akan lakukan apapun sepanjang itu bukan sebuah kejahatan.

Munculnya keramaian dan kerumunan rakyat yang menyambut dan ingin mendekat kepada presidennya disikapi positif oleh pendukung Jokowi. Namun saya sudah menduga, akan menjadi sebuah bad news bagi pembenci. Dalam beberapa grup wa sempat saya posting bahwa video dan foto Jokowi di NTT akan viral, sebabnya selain diunggah pendukung yang memuji, juga diunggah pula oleh pembenci.

Mereka menyangkakan kepada Jokowi sebagai pelanggar UU Covid 19 (baca: kerumunan). Dan benar saja, hingga kini meski sudah selang dua hari, perdebatan masih berlangsung. Tidak kurang dr Tirta ikut nimbrung menyampaikan pendapatnya di laman Twitter. Argumen dr Tirta sama dengan yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa fakta kerumunan benar sama, meski secara jumlah berbeda.

Secara kuantitas masih lebih banyak massa di kasus Rizieq saat di bandara hingga TOL, di Petamburan dan juga Megamendung. Jumlah warga atau rakyat NTT yang ingin mendekat, seperti terekam dalam video adalah menyebar di sepanjang jalan tidak menjadi satu titik kerumunan, dan jumlahnya dipastikan tidak sebanyak jika aparat atau petugas protokol tidak melakukan upaya himbauan agar tidak berkerumun.

Petugas sudah bekerja sehingga rakyat tidak keluar rumah dan meluap seperti saat kunjungan Jokowi sebelumnya ke NTT. Hal berikutnya, tidak ada upaya secara sengaja dari pemerintah untuk mengundang rakyat dalam menyambut atau sekadar ingin melihat presiden datang. Sehingga hal ini sekali lagi berbeda dengan kasus Rizieq yang memang secara sengaja mengorganisir dan memobilisasi massa.

Saat kunjungan di Kalimantan Tengah sehari sebelumnya terbukti tidak ada masalah, menunjukkan memang tidak ada upaya memobilisasi massa. Di NTT bisa dikatakan mereka adalah massa spontan yang karena kesenangan dan kecintaannya kepada presiden Jokowi sehingga tidak terbendung ingin melihat lebih dekat. Ya begitu kalau rakyat jatuh cinta pada pemimpinnya.

Catatan terakhir, waktu yang disebut dengan berkerumun di NTT tersebut tidak berlangsung lama hanya sesaat ketika Jokowi bersama rombongan berkendara melewati rakyat yang sudah menunggu. Sekali lagi, berbeda dengan kasus Rizieq di mana kerumunan berada pada satu titik dan berlangsung berjam-jam, hingga selama 3 hari berturut-turut. Terakhir, bukan tidak ada upaya Jokowi untuk mematuhi prokes serta mengingatkan rakyatnya.

Dalam video dan foto terlihat jelas Jokowi selalu mengenakan masker serta menunjuk-nunjuk maskernya agar juga digunakan oleh rakyat. Diperoleh informasi pula bahwa Jokowi sempat mengatakan kepada Paspampresnya agar menyampaikan kepada rakyat, permohonan maaf Jokowi karena belum bisa mendatangi, menyalami serta berfoto bersama seperti biasanya.

Semata karena kondisi pandemi yang masih berlangsung. Jokowi juga mengucapkan terima kasih atas sambutan rakyat serta mengingatkan agar tetap menjaga protokol kesehatan. Itu yang bisa dilakukan Jokowi di tengah situasi yang mungkin menjadi serba salah tersebut. Demikian sepenggal penjelasan yang mungkin bisa dipahami oleh masyarakat. Tidak perlu berdebat.

Sampaikan argumen di atas gak perlu ngegas. Atau jika capek menjelaskan maka diamkan saja. Anggap mereka hanya cemburu melihat rakyat dan pemimpinnya saling mencintai. Orang kalau sudah cemburu bisa bisa berubah menjadi pembenci dan mampu melakukan apapun yang intinya menjelekkan orang yang dibencinya. Paham ya? Fokus bekerja daripada bicara. (Awib)

Sumber : Status facebook Agung Wibawanto




Berita Lainnya

HARU BERSAMA SEMESTA

24/09/2021 14:29 - Indah Pratiwi

Suroto Menampar Muka DPR, Oposisi dan Mahasiswa

24/09/2021 13:22 - Indah Pratiwi

Filosofi Dolane Kurang Adoh

24/09/2021 12:58 - Indah Pratiwi

LBP MENGGUGAT

24/09/2021 12:00 - Indah Pratiwi

Simulasi Pilpres 2024

24/09/2021 11:32 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA