Thursday, 13 May 2021
Temukan Kami di :
Opini

Saat Abas Gagal Mendefinisikan Banjir

Indah Pratiwi - 25/02/2021 19:40 Oleh : Zulfikar Basyir

Siapapun warga DKI pasti akan geram dengan penanganan banjir oleh Gubernur Abas. Tidak semakin baik semenjak era Foke dan Ahok, justru sebaliknya. Kalau hanya menyedot lumpur sungai dan melancarkan gorong gorong, itu bukan ide brilian.

Persoalan banjir tahunan di Ibukota bukan kesalahan sungai yang dangkal atau mampetnya drainase. Tetapi tidak adanya kawasan resapan air di saat semua tanah nyaris tertutup beton dan aspal. Itupun juga baru salah satu penyebabnya. Sebab lainnya persoalan klasik sampah. Salah warga DKI juga, sampah yang harusnya dibuang malah dijadikan Gubernur!?

Banjir tahunan DKI menjadi "uji nyali" setiap Gubernurnya. Apa saja yang sudah dilakukan sebelum skedul banjir datang menjadi pertanyaan utama. Khusus tahun ini tanpa harus bertanya, masyarakat sudah punya jawabannya : Gubernurnya tidak melakukan apa-apa. Sial juga kan warga DKI.

Lalu seharian kemarin dan hari ini, media sibuk mengabarkan pernak pernik terkait banjir. Bagaimana calon menantu Anang Hermansyah si Atta "Gledek" panik bukan kepalang saat garasinya tergenang air. Deretan mobil mewah berharga milyaran tinggal beberapa centi lagi mesinnya terendam air. Juga ada Iris Bella yang sedih gulana gegara kolam renangnya bercampur air banjir. Sementara kemarin beredar video 3 lelaki sibuk mengejar-ngejar segerombolan ikan koi-nya yang lepas di halaman rumahnya saat berubah menjadi kolam. Harga ikan koi bersertifikat kabarnya bisa mencapai 50 juta/ekor.

Banjir tahunan yang biasanya penuh duka warga menengah ke bawah yang tinggal di bantaran sungai, kini tragisnya sudah menjalar di orang kaya yang menjadi korbannya. Sudah tentu ekspresi sedihnya berbeda, meski airnya sama.

Warga kawasan elite Kemang dan Cilandak kali ini ikut "nyumpahin" Gubernurnya. Menyusul kawasan perumahan pejabat dan konglomerat lain meskipun santai harta bendanya basah, tetap saja menggerutu. Banjir kali ini sukses membuat orang kaya dan pejabat teriak. Tidak seperti biasanya yang hanya berisi tangisan warga pinggiran sungai, tinggal kasih sembako dan bantuan selesai berisiknya di medsos.

Hati hati dengan sumpah serapah orang kaya dan pejabat. Cukupkah untuk melengserkan Gubernur, tergantung self defense-nya.

Tiba tiba jadi ingat kisah Ahok mengatasi banjir saat dulu menjadi Wagub. Kawasan Kemang Village yang seharusnya menjadi lokasi resapan air, terbeli oleh Konglomerat Lippo. Ahok pusing bagaimana cara menggusurnya.

Kebetulan ada laporan lokasi Seaword Ancol yang merupakan kerja sama Pemda DKI dengan Lippo sudah habis ijin sewanya. Saat mau diusut ternyata ijin sudah diperpanjang 2 tahun sebelum habis. Di era Gubernur Foke itu sengaja dilakukan atas kong kalikong Pemda. Fee untuk Pemda yang sebelumnya 5% turun menjadi 2,5%.

Dan lengkap sudah kemarahan Ahok. Diperpanjang sebelum waktunya ditambah fee berkurang. Begitulah Ahok yang urat takutnya sudah putus. Sekelas Konglomerat Lippo dilawan, cabut ijin Kemang Village atau Seaword Ancol yang sama sama melanggar.

Gilanya Ahok membuat sesepuh Lippo Mochtar Riyadi turun gunung. Kawasan Seaword Ancol diserahkan Pemda alias tidak diperpanjang demi menyelamatkan Kemang Village dari ancaman penggusuran Ahok si pejabat "gila".

Bukan Ahok kalau niatnya belum kesampaian. Seaword didapat, Kemang Village tetap diburu. Namun mendadak terhenti ditengah jalan saat Ahok "dikerjain" Almaidah.

Melayani teriakan orang kaya dan pejabat dengan mengorbankan orang kaya lainnya, hanya Ahok yang berani. Revitalisasi Kemang Village demi antisipasi banjir di tangan Abas hanya jadi mesin ATM. Jangan pernah harap di eksekusi.

Pengusaha di Jakarta ikut menyumbang parahnya banjir tiap tahun ada benarnya juga. Celakanya kini sudah bikin kesel orang kaya lainnya. Sekali mereka protes bisa berminggu-minggu gaungnya, bahkan bisa berujung pelengseran Gubernur.

Banjir kadang harus disikapi secara politis juga. Kalau Risma mau sebenarnya bisa. Lebih duluan mana Abas atau Risma yang turun blusukan ke lokasi korban banjir sekaligus perang statemen.

Yang pasti semakin banyak bicara, Abas semakin dibully. Lebih baik diam saja, karena begitulah kata kata yang nggak nyambung sama perbuatan.

Usia kroni "Abasiyah" tinggal setahun lagi sebelum Pilkada. Setidaknya kalau dia nyalon lagi, panggung di DKI sudah habis untuknya. Kecuali nyalon di Johnny Andrean sekalian menikur pedikur.

Dah gitu aja...

Sumber : Status Facebook Zulfikar Basyir




Berita Lainnya

Niat Sholat Idul Fitri dan Tata Caranya

12/05/2021 15:45 - Dewi Sari
Kemukakan Pendapat


BOLA