Friday, 24 Sep 2021
Temukan Kami di :
News

Polri Tak Akan Tergesa-gesa Indentifikasi Korban SJ182 Ditengah Pandemi

Aisyah Isyana - 14/01/2021 22:57

Beritacenter.COM - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri masih terus melakukan proses identifikasi terhadap jenazah korban Sriwijaya Air SJ182. Soal penanganan, Polri memastikan pihaknya tak akan terburu-buru, mengingat situasi saat ini ditengah pandemi COVID-19.

"Memang kami tidak tergesa-gesa. Misalnya kami dapet 30 kantong, 30 kantong harus kami kerjakan hari itu juga karena masa COVID ini kita tidak boleh terlalu lama di kamar jenazah," kata Kepala Laboratorium DNA Pusdokkes Polri Kombes dr Ratna, saat konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur (Jaktim), Kamis (14/1/2021).

Baca juga :

Karena terdapat jenazah pasien COVID-19 di RS Polri, jelas Ratna, maka perugas yang melakukan proses identifikasi korban Sriwijaya Air tak boleh berlama-lama di ruang jenazah.

"Jadi kita tidak boleh terlalu banyak orang, tidak boleh terlalu lama, jaga jarak, durasi, gitu ya, ventilasi. Sehingga yang dikerjakan tadi pagi 17 kantong dengan sampel yang didapat untuk DNA 60," terangnya.

Menurutnya, tidak semua sampel DNA dapat diambul untuk diidentifikasi dari body parta yang ditemukan petugas. Selain itu, proses identifikasi juga belum dapat digelar jika data antemortem dan postmortem belum lengkap.

"Kemudian pas antemortem kemarin sudah running semua tetapi bisa saja DNA antemortem, antemortem itu dari orang hidup keluarganya, sudah ada. Tapi postmortemnya belum ada sehingga belum bisa dicocokkan," kata Ratna.

Sementara itu, Kepala Tim Rekonsiliasi DVI Polri Kombes Agung Widjajanto menyebut kondisi body part korban yang diterima petugas juga berbeda-beda dan memiliki ukuran variatif. Untuk itu, tim DVI Polri membutuhkan waktu untuk melakukan pemeriksaan DNA dari body parta yang diterima.

"Untuk pemeriksaan DNA sudah dijelaskan semua yang bisa diambil sampel DNA, yang bisa diperiksa itu diambil. Pertimbangannya expert (ahli) yang menentukan, ini bisa atau tidak. Yang menentukan kondisi, misalnya materialnya apakah unsur DNA atau tidak, apakah masih layak diperiksa atau tidak. Misalnya sudah pembusukan lanjut mungkin sudah tidak bisa, tapi ketika bisa misalnya tulang itu akan dipilih-pilih, itulah yang membuat tidak bisa begitu bisa cepat (dilakukan proses identifikasi)," ujar Agung.

"Kemudian tidak semuanya melalui sidik jari, misalnya seperti itu. Mungkin lain kali ada yang melalui properti, misalnya cincin yang khas, gigi, sampai saat ini belum ditemukan bagian rahang yang cukup bisa dilakukan pemeriksaan," tandas dia.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA