Monday, 02 Aug 2021
Temukan Kami di :
Opini

FPI dan Kepentingan Dibelakangnya

Indah Pratiwi Budi - 05/01/2021 13:20 Oleh : Islah Bahrawi

Sentimen "ketertindasan" pasca pembubaran dan pelarangan FPI akan terus digulirkan oleh para politisi yang selama ini menjadi pemanfaat politisasi dan populisme agama. Narasi-narasi itu akan terus digunakan untuk merawat kerak dan memagari militansi para pendukung FPI yang tak lagi bertuan, untuk kelak bisa dijadikan mesin politik pada Pemilu 2024.


Setelah pembubaran FPI, kompetisi gigit menggigit itu terjadi. Fadli Zon dan PKS langsung memberikan kontra narasi terhadap pembubaran itu, dan dilain pihak, Munarman mendeklarasikan Front Persatuan Islam. Ini adalah gumul politik yang menggelitik - sejatinya ini hanyalah pertempuran untuk memperebutkan sobekan-sobekan baju yang tidak lagi berkancing.

Ini politik. Mereka seolah satu tujuan, padahal mereka sedang berebut tulang belulang. Klaim massa FPI jutaan orang itu, membuat sebagian politisi seperti manusia kehausan yang tak bertemu air hitungan bulan. Fadli dan PKS mencoba membuat lubang bocoran, Munarman berusaha menambalnya untuk mengatur curah kekuatan massa agar tetap menjadi daya tawar. Saat ini, kita sejatinya sedang menyaksikan pertempuran orang lain.


Pemerintah tidak boleh berhenti di sini. Pembubaran FPI hanyalah kotak Pandora untuk menguak kekuatan besar yang berada dibelakangnya. Ada kelindan sindikasi besar yang selama ini menggunakan FPI sebagai produsen kekuatan radikal, ia hanyalah wayang. Ada seorang ustadz yang sampai saat ini masih terposisi sebagai tersangka pengalir dana bagi kelompok radikal, dan kasusnya masih mengambang. Kasus sosok berinisial BN harus dilanjutkan, karena inilah pembuluh darah pendanaan kaum radikal di negara kita. Sekali bergerak, momentum ini tidak boleh pudar. Pemerintah tidak boleh lagi tersandera oleh isu murahan "kriminalisasi ulama." Tidak boleh lagi ada pembiaran terhadap para pengkhianat bangsa berjubah agama.


Kunci kedamaian di dalam bangsa ini cukup sederhana, kembalikan bangsa ini seperti dulu: jangan biarkan politik identitas merajalela dan biarkan hukum menjangkau para pemecah belah bangsa. Sekali bertempur jangan pernah mundur - saatnya negara hadir, sebelum tenun kebangsaan ini hancur.


Selamat Tahun Baru 2021.


#lawanintoleransi

#antiradikalisme

Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi




Berita Lainnya

Ganti Presiden? Ya Setuju

31/07/2021 10:05 - Indah Pratiwi

PMI Lagi Ngapain?

31/07/2021 07:01 - Indah Pratiwi

End Game Sudah "End" Sebelum Game

30/07/2021 15:00 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA