Sunday, 24 Jan 2021
Temukan Kami di :
Opini

Surat Terbuka Untuk Para Keturunan Arab di Indonesia

Anas Baidowi - 03/12/2020 20:50 Ilustrasi

Beritacenter.COM - Bapak, Ibu, seperti kita ketahui dan rasakan bersama bhw akhir-akhir ini khususnya sejak Rizieq Shihab mendirikan FPI, seolah dia mengambil alih peran ulama, peran ustadz, peran satpol PP, bahkan peran penegak hukum. Dia menyebut dirinya imam besar umat Islam Indonesia, entah siapa yg mengangkatnya. Padahal sejak Wali Songo pun tidak ada klaim imam besar umat Islam Indonesia, karena kita sadar betul bhw Islam di Indonesia juga beragam aliran.

Setelah rentesan keributan dan penghasutan dari mulut kotornya Rizieq, seperti rentetan demo murahan, Minggu ini kita dibuat lelah melihat prilakunya sejak pulang5 ke Indonesia setelah 3,5 thn kabur dari kasusnya, dia seolah bak manusia dewa dgn kelakuan bejatnya mengumbar gaya. Membiarkan penjemputan dan melakukan hajatan dgn mengumpulkan ribuan masa di tengah pandemi Corona, yg bisa memicu penularan massal. Melakukan orasi tak senonoh di atas mimbar di acara maulid nabi yg diadakannya sendiri. Ngaku cucu nabi, habib kok kelakuan jongkok.

Pengakuan imam besar atas dirinya terus dilanjutkan dgn mulut tak pantasnya, sampai orang mengatakan tema maulid nabi dgn isu " lonte ", ini sangat memalukan umat Islam secara keseluruhan. Agama jadi mainan, nabi dilecehkan, Bahkan Tuhan dipermainkan. Ini keterlaluan, sekali lagi keterlaluan.

Tidak dapat dipungkiri bhw prilaku dan tindakannya yg selalu mengganggu ketenteraman umat Islam sendiri dan umat yg beragama lain. Karena saat ramadhan FPI bs mensweeping orang jualan makanan, saat Natal mereka bisa masuk ke Mall mengganggu org yg bekerja memakai baju Sinter Class. Kebiasaan itu berkembang menebar permusuhan sampai ke tingkat penghinaan kepada Pancasila, ulama, bahkan Kepala Negara.

Saya tidak menyamaratakan kelakuan saudara kita keturunan Arab yg tinggal di Indonesia seolah "berengsek" semua, masih banyak ulama dari saudara keturunan Arab yg berilmu dan mulia, ada Prof. Quraisy Shihab, dst. Tapi dalam berpolitik warga keturunan Arab yg seolah mengklaim warga kelas atas karena nabi Muhammad lahir di sana, hanya saja sebagian yg ada di Indonesia ternyata keturunan Abu Jahal, dan Ibnu Muljam. Buktinya mereka jahat dan kejam merusak tatanan keIslaman dan keamanan sosial serta mengancam negara kesatuan RI yg lahir dari darah pahlawan, bukan hadiah dari raja Arab.

Jenderal Purnawirawan Hendro Priyono pernah beberapa kali memperingatkan dgn keras dan menyebut warga keturunan Arab jgn membuat onar di Indonesia. Namun tanpa meminjam kalimat beliau pun di depan mata kita dgn kasat bisa kita lihat, bahwa kalimat itu nyata adanya.

Kita sebut saja prilaku Anies Baswedan dgn mengacak Jakarta, Yusuf Martak, Ba'asyir, Heikal Hasan, dst. Bicaranya selalu revolusi, dan sejenisnya menggertak NKRI, memaki Pancasila. Mengaku beradab, menyanjung keturunan kesayangan Tuhan, namun kelakuannya membahayakan negara kesatuan. Bahkan sekelas anaknya Rizieq sdh bs memprovokasi di dalam pengajian, seolah Indonesia akan dikuasai China.

Dari statistik thn 2018, warga keturunan Arab di Indonesia populasinya ada 11.000, dan China 3,2 juta. Jujur kalau kita bicara muamalah warga keturunan China lah yg jauh lebih bermanfaat ada di republik ini karena dengan populasi sebesar 1,2% itu mereka menguasai 80% perekonomian Indonesia, jutaan tenaga kerja ditampung pada industri mereka, dari mulai makanan sampai baja dan pakaian.

Terus maaf warga keturunan Arab sumbangannya apa, import gamis sebagai budaya, sekalinya ngaku ulama jadi provokator, jualannya ngasi janji surga, padahal selama di dunia perut inilah yg harus diurus, nah warga China lah yg mengurusi perut sebagian besar rakyat Indonesia, bukan orang Arab yg janjikan surga gak pernah ngasi apa-apa.

Coba melek mata dan hati. Anies ngaku pribumi, jadi gubernur Jakarta menggantikan Ahok yg China, padahal Anies juga bukan pribumi, dia berlindung di balik keislamannya yg berengsek.

Hasilnya Jakarta diacak-acak seperti orang tak berpendidikan, apalagi beragama. Mulutnya penuh kebohongan, munafik, dan menjijikkan untuk seorang manusia, kecuali kalau dia binatang.

Lihat Minggu ini Jakarta dirusak dua orang keturunan Arab, Anies dan Rizieq dgn prilaku bejadnya, sayang kaum inalnder ini yg terlalu tolol dan kelamaan minum air rendaman sorban orang Arab, walhasil ada orang bejat ngaku ustadz jadi panutan, absurd. Korbannya dua Kapolda bego dicopot, dan TNI bergerak menertibkan baliho imam keparat yg menantang aparat.

Wahai saudaraku keturunan Arab, lihat foto yg ada, begitu mesranya kaummu dijamu keluarga Cendana yg 32 thn merusak Indonesia, apakah ini pilihan kalian menjadi embrio meneruskan perusakan nyata dgn memakai tameng agama karena kalian telah mengukir bahwa Islam Indonesia adalah Islam kelas dua. Dan kalian mencemooh Islam Nusantara yg memang telah ada sejak Wali Songo dan sebelumnya.

Jadi jangan klaim bahwa kalianlah yg pertama mengajari kami berislam, karena 3 di antara Wali Songo adalah orang China. Jadi biarkan kami beragama Islam gaya China, melakukan hablumminallah dan hablumminnas dgn cerdas, bukan teriak takbir, kelakuan kafir. Kami akan ikuti akhlak Rasullulah sbg pedagang dan menghidupi jutaan manusia, itulah yg dilakukan orang China, tak salah Rasullulah berkata; belajarlah sampai ke China bukan ke Arab, dan sifat pedagang Rasullulah diteruskan orang China, sementara jazirah Arab dipenuhi perang saudara. Jangan kalian tularkan kebiasaan perang, biarkan kami membiasakan jadi pedagang, tapi bukan dagangan agama, mepai kamu hanya ber-Islam, tapi kamu kehilangan Nabi Muhammad SAW.

Jangan lemahkan Islam.

Sumber: Akun Facebook 'Bone Paga'
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2135539976578793&id=100003684351658&sfnsn=wiwspwa&funlid=kjJXtfK7Ski7sc69




Berita Lainnya

Kesesatan Pernyataan Panji Pragiwaksono

23/01/2021 10:05 - Indah Pratiwi

MEMBANDINGKAN GIBRAN, AHY DAN TOMMY

22/01/2021 12:34 - Indah Pratiwi Budi

BANGKITNYA KEBERAGAMAN

22/01/2021 10:20 - Indah Pratiwi Budi

Doa Keselamatan Indonesia

22/01/2021 09:30 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA