Saturday, 23 Jan 2021
Temukan Kami di :
Bisnis

Di Balik Proyek-Proyek Bisnis Group Jusuf Kalla

Indah Pratiwi Budi - 27/11/2020 10:00 Oleh : Denny Widjaya

Saat menjadi Wakil Presiden periode 2004 – 2009, Jusuf Kalla dijuluki sebagai “The Real President” dikarenakan sangat dominannya mendorong dan menguasai perekonomian Negara dan Proyek – proyek infrastruktur serta migas.

JK memulainya dengan membuat Perusahaan bernama Bukaka Group, Kalla Group untuk menaungi bisnisnya saat pembukaan tender² besar pemerintah. Jauh sebelum menjadi Wakil Presiden SBY, JK adalah seorang saudagar yg lumayan sukses.

Bisnisnya bisa disebut menggurita di Sulawesi Selatan dan kawasan Indonesia Timur. Sampai tahun awal 1990-an, salah satu bisnis andalannya adalah menjadi agen penjual mobil Toyota.

Nah, waktu menjadi Wapres itu, bisnis Kalla dan keluarganya berkembang supercepat. Kok bisa? Buktinya, dalam lima tahun kekuasaannya (2004-2009), grup bisnis keluarganya kebanjiran berbagai proyek skala besar.

JK berambisi mengambil alih proyek PLTA dan PLTU seluruh Indonesia.

Seperti diketahui, keluarga Kalla mengendalikan sejumlah grup bisnis. Di antaranya Kalla Group, Bukaka Group, Bosowa Group, dan Intim Group.

Semuanya mengalami masa² panen raya saat JK berkuasa. Adalah Abdulrachim Kresno, aktivis 1978, yg rajin menelisik sepak terjang Jusuf Kalla yg dinilainya sarat dg korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) saat berkuasa.

Lewat twitter-nya @abdrachim001, dia bercerita panjang lebar seputar pelbagai proyek yg diguyurkan JK bagi bisnis keluarganya.

Bukaka, misalnya, memperoleh order pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Ussu di Kabupaten Luwu Timur, berkapasitas 620 mega watt (MW), dan PLTA senilai Rp1,44 trilyun di Pinrang. Bukaka juga membangun PLTA dg tiga turbin di Sungai Poso, Sulawesi Tengah, yg berkapasitas total 780 MW.

Menurut Abdulrachim, selain ditengarai memainkan pengaruh kekuasaan untuk mendapatkan bisnis ini, pelaksanaannya pun melanggar aturan.

PLTA Poso, misalnya, mulai dibangun sebelum ada analisa mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yg memenuhi syarat. Begitu juga dg jaringan saluran udara ekstra tiniggi (SUTET)-nya ke Sulawesi Selatan & Sulawesi Tenggara dibangun tanpa AMDAL.

“Di Sumatera Utara, kelompok yg dipimpin Achmad Kalla, adik kandung Jusuf Kalla mendapat order pembangunan PLTA di Pintu Pohan, atau PLTA Asahan III berkapasitas 200 MW. Lewat PT-PT Bukaka Barelang Energy, Bukaka juga terlibat dalam pembangunan pipa gas alam senilai US$750 juta.

Proyek ini akan melintang dari Pagar Dea, Sumatera Selatan, ke Batam,” katanya. Bukaka juga digerojok seabrek proyek listrik semasa JK jadi Wapres.

Di antaranya membangun pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) senilai US$92 juta di Pulau Sembilang, dekat Batam. Lalu ada pembangunan pembangkit listrik tenaga gas di Sarulla, Tarutung, Sumatera Utara, yg akan menghasilkan listrik 300 MW. Juga ada rencana pembangunan 19 PLTA berkekuatan 10.000 MW.

Guna merealisasikan proyek ambisius ini, JK mendorong Bank Pembangungan Daerah (BPD) se Indonesia untuk membiayai dg mengandalkan dana murah yg dimilikinya.

Itulah sebabnya secara ekonomi rencana tersebut dinilai berbahaya.

Pasalnya, dana murah tadi bersifat dana jangka pendek. Padahal siapa pun tahu, proyek pembangkit listrik termasuk berjangka panjang. Mulai pembangunan hingga menghasilkan fulus, PLTA memerlukan waktu sekitar tujuh tahun. Jika dipaksakan, BPD² itu dipastikan bakal mengalami miss match pendanaan. Sedikit saja ada goncangan, mereka bakal terkapar karena dana jangka pendeknya dipakai membiayai proyek jangka panjang.

Adapun Jusuf Kalla dipecat pada tanggal 24 April 2000 atau tiga minggu sebelum pembatalan pemenangan proyek penuh aroma KKN sebagaimana diuraikan di atas. Grup Bosowa milik Aksa Mahmud, ipar Jusuf Kalla adalah salah satu dari debitur macet Bank Mandiri yg terbesar berjumlah Rp. 1,4trilyun.

Saat itu Jusuf Kalla menjabat sebagai Komisaris Utama PT Bosowa sedangkan Aksa Mahmud sebagai Direktur Utamanya. Berdasarkan laporan audit Badan Pemeriksa Keuangan, Bank Mandiri pernah menghapus hutang tersebut di atas.

Menurut temuan The Politic edisi 13 - 26 Juni 2014 halaman 7, alasan Bank Mandiri menghapus hutang Grup Bosowa adalah karena saat Jusuf Kalla menjabat sebagai Wakil Presiden, dia menekan Direksi Bank Mandiri agar menghapus hutang² grup Bosowa.

Rencana pembangunan baru dg total 19 PLTA/PLTU se-Indonesia :

Proyek PLTA/PLTU/PLTG Kalla Group : Sulawesi Selatan : PLTA Karama, Mamuju Rp 6 T PLTA Ussu, Lutim (Bukaka Group) PLTA Pinrang Rp 1,44 T (Bukaka Group) PLTA Jeneponto (Bosowa) Sulawesi Tengah : PLTA Poso I, II, III Rp 3 T (Kalla Group) … namun masyarakat sekitar tidak mendapat pasokan listrik krn dialihkan ke Sulsel dan Sulbar Sumatera Utara : PLTA Pintu Pohan, Sumut (PT Bukaka Barelang Energy-Achmad Kalla) PLTA Asahan, Sumut (PT Bukaka Barelang Energy-Achmad Kalla) PLTG Sarulla, Tarutung, Sumut (PT Bukaka Barelang Energy-Achmad Kalla) PLTG Pulau Sembilang, Batam US$92jt (PT Bukaka Barelang Energy-Achmad Kalla) PLTA Merangin, Kerinci, Jambi US$700jt (Kalla Group) Pulau Jawa : PLTU Cilacap, Jateng (Intim Group-Halim Kalla)

Sumber : Status Facebook Denny Widjaya




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA