Sunday, 13 Jun 2021
Temukan Kami di :
Opini

Andai Saja "Imam Besar" Itu Pernah Mengenyam Pesantren Ala NU

Indah Pratiwi Budi - 26/11/2020 10:00 Oleh : Fadhil Kirom

FOKUS : Rizieq

Mata ini tak mau terpejam, lalu buka semua medsos mengarah pada sosok super viral minggu ini. Siapa lagi kalau bukan tokoh yang dikenal dengan Imam Besar oleh pendukungnya.

Ingatan saya kembali ke suasana 11 tahun lalu, ketika saya menetap di Jakarta antara 2009-2014. Banyak kegiatan ummat islam di Jakarta yang memiliki jamaah sangat banyak seperti Majlis rosulullah, Nurul Mushtofa, dll. Saat itu "Imam Besar" belum terlalu mencuat seperti sekarang ini. Bahkan tahun 2008 divonis penjara terkait kerusuhan 1 juni 2008 di Monas.

Situasi berubah sejak aksi 2 Des 2016 (212) yang mengangkat namanya ke pusaran nasional. Panasnya pilpres 2019 semakin melejitkan posisinya sebagai garis terdepan dalam isu politik identitas.

Banyak pihak yang tidak menduga dalam 4 tahun terakhir kita menghabiskan energi yang besar untuk lepas dari suasana saling menghujat dan jeratan hoaks. Bahkan ada kecenderungan eskalasinya meningkat setelah kepulangan "Imam Besar". Pandemi Covid 19 seakan tak mempan untuk rehat sejenak merefleksikan segala hal tentang kebangsaan.

Kembali ke judul, Saya coba searching di Wikipedia tentang "Imam Besar", dan saya dapati ternyata sang imam belum pernah mengenyam pendidikan pesantren yang sangat toleran. Pernah sekolah di SMP Kristen Bethel, SMAN 4 Jakarta, LPIA dan King Saud University, lalu di Kampus Malaysia.

Andai saja sang imam pernah "nyecep ilmu" di pesantren yang memiliki kultur NU atau bersanad keilmuan minimal ke Rois Akbar KH Hasyim Asy'ari atau syekh Nawawi al Bantani, niscaya sikap hidup sang imam tidak jauh berbeda dengan Habib Lutfi, Habib Husein, Habib Quraisy, atau Gus Mus, Kyai Said Aqil Siradj dll.

Tiba-tiba teringat Buya HAMKA yang masa mudanya "cukup keras" dan "tekstual", namun di usia senjanya, mendekat ke pesantren dan banyak belajar tasawwuf. Sepertinya pumpung baru berumur 55 tahun, masih ada waktu bagi Sang Imam Besar untuk meniru langkah Buya HAMKA. Mbok yao sekali-kali merunduk dengan organisasi NU atau muhammadiyah yang sudah berjuang sebelum bangsa ini merdeka.

Enak lho, beragama ala dunia pesantren NU itu sabar, toleran, humoris, santuy, merangkul, tadriji (bertahap), tidak saklek, ilmu kyainya juga tidak kaleng-kaleng dan yang jelas sudah teruji dalam sejarah dari zaman walisongo hingga sekarang hehehehe. Pokoknya banyak keberkahan di pesantren hehe. Oh iya, ngopi dan ngrokok juga bikin relaks suasana pesantren hahaaha.

Akhirnya, sekelas Gusdur saja nda didengar suaranya oleh sang "Imam Besar", apalagi sekelas "cacing tanah" seperti saya hehehe. Ini kan sekedar curhat saja....Jangan marah ya para pendukungnya.

Semoga selesai tulisan ini, mata ini bisa terpejam, Amiin.

Sumber : Status Facebook Gus Fadhil Kirom




Berita Lainnya

PERPRES JOKOWI (bukan) PERMEN PRABOWO

12/06/2021 10:00 - Indah Pratiwi

Masyarakat Bungkus

12/06/2021 07:00 - Indah Pratiwi

KENAPA KPK HARUS DIBERSIHKAN ?

11/06/2021 21:25 - Indah Pratiwi

MENGAPA MEREKA MEMBENCI PRESIDEN JOKOWI ?

11/06/2021 19:00 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA