Sunday, 13 Jun 2021
Temukan Kami di :
Opini

HANTAM Rizieq Shihab,"DUDUNG ABDURACHMAN BANGKTKAN NASIONALISME RAKYAT"

Indah Pratiwi Budi - 25/11/2020 16:05 OLEH : NINOY KARUNDENG

Tindakan tegas Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman menghantam Rizieq Shihab berbuah banyak. Langkah Pangdam Jaya mematikan gerak FPI, membuat kaum intoleran, radikal, dan teroris mati kutu. Namun yang lebih penting, tindakan Pangdam Jaya membangkitkan semangat kehadiran negara.

Selama ini FPI melakukan kampanye provokasi di ruang publik, dengan mengatasnamakan Islam, dengan menggunakan Islam sebagai alasan untuk tindakan sama sekali tidak islami. Contoh perayaan Maulid versi Rizieq yang isinya penuh kata-kata kotor penghinaan pada TNI/Polri.

Perintah mencopot spanduk dan baliho oleh Pangdam Jaya, anggota TNI bukan hanya soal itu. Pemasangan semena-mena, seenak FPI, adalah wujud pembangkangan aturan. Bukan hanya aturan ketertiban lingkungan, pajak, dan hukum.

Yang lebih penting lagi spanduk-spanduk itu menjadi simbol kekuatan dan kehadiran de facto FPI di suatu wilayah. Di mana kebanyakan baliho dan spanduk FPI dan Rizieq beredar, di situlah keberadaan mereka semakin kuat.

Spanduk dan baliho Rizieq adalah cuci otak permanen yang menghiasi seantero wilayah tertentu di Indonesia. Yang parahnya Rizieq Shihab menjadi simbol pembangkangan, tidak taat hukum, tidak taat aturan.

Penyokong Rizieq pun tak tanggung-tanggung, manusia seperti Jusuf Kalla, dan SBY, dan tentu Cendana. Dan, jelas Anies Baswedan. Meski yang belakangan ingin memanfaatkan Rizieq Shihab. Untuk Pilpres 2024.

Aneka kepentingan luar biasa. Bisnis Keluarga Jusuf Kalla lagi mengalami masalah. SBY puyeng dengan kebijakan seperti penjaminan Lion Air oleh negara, Petral, Freeport, dan ambruknya Demokrat. Juga Cendana yang mengalami kegalauan luar biasa, misalnya Jokowi sita Granadi.

Maka Rizieq Shihab pun dijadikan simbol perlawanan. Merasa kuat didukung kalangan top, maka tingkah Rizieq Shihab menjadi liar. Tidak ada batas perkataan. Dan, penghinaan terhadap Polri.

Dalam situasi seperti itu, rakyat menahan diri. Tahan napas. Berdoa negara bertindak tegas. Hadir di tengah pongahnya Rizieq Shihab yang selalu mengatasnamakan Islam, umat.

Nah, hadirlah Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman ke permukaan. Satpol PP tak berani karena Anies Baswedan mendukung Rizieq. Polri mencabut baliho dan spanduk dipasang lagi. FPI dan Rizieq menantang. Pamer kekuatan. Show of force.

Padahal situasi makin memburuk jika kehadiran negara tak tampak. Soal pamer kekuatan dan cuci otak kampanye delegitimasi pemerintahan Jokowi, membesarkan dominasi FPI dan Rizieq.

Presiden Jokowi pun dengan tegas menginginkan kaum intoleran enyah dari Bumi Pertiwi. Sumber radikalisme, terorisme, yang berawal dari intoleransi harus dibabat. Provokasi jahat harus dihantam.

Dalam konstelasi politik dan keamanan yang demikian, Pangdam Jaya paham. UU No. 34 tahun 2014 menjelaskan tentang pemberdayaan wilayah pertahanan dalam sistem semesta, juga membantu tugas pemerintahan daerah.

Pemda DKI pimpinan Anies loyo, Satpol PP di bawah ketiak Anies pro Rizieq, aneka pelanggaran hukum dan ketertiban mengancam keamanan dan ketertiban umum.

Maka Pangdam Jaya Dudung Abdurachman bertindak taktis. Cerdas. Menusuk.

Pangdam Jaya menggempur pertahanan terdepan dan terakhir FPI. Baliho, spanduk sebagai simbol propaganda dan eksistensi FPI dan Rizieq dicopot. Tentu mereka ngamuk. Marah. Kesal. Putus asa. Tapi karena yang melakukan TNI, maka mereka tiarap.

Tak terima, mereka melakukan kampanye di media sosial. Pembelokan opini. Gebrakan mereka semakin masif. Media sosial digunakan untuk mendeskreditkan Pangdam Jaya. Dan tak lupa media sosial dan media para kadal gurun turun menggempur Dudung Abdurachman.

Namun, reaksi publik luar biasa. Dudung didukung oleh rakyat. Rakyat memberikan ucapan selamat. Memberikan dukungan di tengah perlawanan kaum intoleran. Dudung telah membuka kotak Pandora. Kotak yang membuat gairah nasionalisme rakyat di seluruh Indonesia membuncah. Juga tentang siapa proxy dan di balik kenekatan dan kenakalan Rizieq Shihab. Bukan hanya soal Firza, juga soal Anies, JK dan SBY.

Itu diawali oleh Pangdam Jaya dengan langkah sederhana nan cerdas: mencopot baliho Rizieq Shihab. Tentu rakyat bangga. Jokowi tersenyum. Polri makin semangat. Mabes TNI pun mendukung.
(Penulis: Ninoy Karundeng)




Berita Lainnya

PERPRES JOKOWI (bukan) PERMEN PRABOWO

12/06/2021 10:00 - Indah Pratiwi

Masyarakat Bungkus

12/06/2021 07:00 - Indah Pratiwi

KENAPA KPK HARUS DIBERSIHKAN ?

11/06/2021 21:25 - Indah Pratiwi

MENGAPA MEREKA MEMBENCI PRESIDEN JOKOWI ?

11/06/2021 19:00 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA