Saturday, 28 Nov 2020
Temukan Kami di :
Internasional

Barrack Obama Kecewa dengan Facebook-Twitter dkk Terkait Peredaran HOAX!

Mereka yang membuat pilihan editorial, apakah akan menguburnya di algoritma atau tidak

Aisyah Isyana - 20/11/2020 11:41

Beritacenter.COM - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Barrack Obama, mengaku sangat kecewa dengan peredaran hoax di media sosial. Terlebih, perusahaan media sosial terkesan seperti lepas tangan dan tak memberi solusi soal permasalahan ini. Obama menilai, media sosial seharusnya memiliki kemampuan untuk menjaring informasi.

"Mereka yang membuat pilihan editorial, apakah akan menguburnya di algoritma atau tidak," katanya seperti dikutip dari CNBC.

Baca juga :

"Pada akhirnya, kita harus menemukan kombinasi regulasi pemerintah dan praktik korporat untuk masalah ini, karena akan semakin buruk. Jika Anda bisa menampilkan kebohongan gila dan teori konspirasi hanya dengan teks, bayangkan apa yang bisa Anda lakukan jika bisa membuatnya terlihat seperti Anda atau saya mengatakannya dalam video. Kita sudah dekat dengan hal seperti itu sekarang," cetusnya.

Obama juga menyinggung soal teknologi deepfake, yang memungkinkan semua sosok dapat dibuat seakan mengatakan sesuatu dengan mengubah gerak-gerik mulut atau ekspresi wajah. Meski sejatinya mereka sama sekali tak pernah mengatakan hal tersebut.

Obama menyebut hal itu sebagai ancaman besar bagi demokrasi. "Saya pikir ini adalah ancaman tunggal terbesar bagi demokrasi kita. Saya pikir Donald Trump adalah pelakunya, tapi bukan dia yang membuatnya. Dia mungkin mempercepatnya, tapi hal itu sudah ada sebelum dia dan sesudah dia," ucap Barack Obama.

Dalam hal ini, medsos seperti Facebook dan Twitter dinilai kerap berkilah dan menyebut jika mereka hanya sebaas fasilitator informasi, dan tidak terlalu terlibat dalam konten yang telah ditampilkan.

Selain itu, platform teknologi memang dilindungi aturan Section 230 of the Communications Decency Act di AS, sehingga platform teknologi tak dapat dianggap bersalah atas postingan dari penggunanya. Meski begitu, belakangan media sosial kerap mendapat tekanan agar lebih bertanggung jawab terhadap konten para penggunanya yang menyajikan informasi tak benar.

Joe Biden yang merupakan Presiden AS terpilih 2020 berencana untuk mencabut aturan itu. "Section 230 harus dicabut, harus dicabut sesegera mungkin, nomor satu," sebutnya, sepakat dengan Barack Obama.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA