Saturday, 05 Dec 2020
Temukan Kami di :
Opini

Ini Strategi Jokowi Hadapi Rizieq

Indah Pratiwi Budi - 17/11/2020 19:43 Oleh : Eddy Satria Zaid

Menjelang Masa deportasi Imam Besar Umat FPI Habib Rizieq Shihab sudah sangat direncanakan dengan matang, bahkan kedatangan mr.Chaplin Ketika Umroh ke Arab Saudi ( menurut kisah si Lae si Chaplin membawa uang sekoper ) dalam situasi masih Covid 19 bukan hal yang harus diremehkan , analisa bodoh mengatakan bahwa gak mungkin bawa uang sekoper bisa lolos di Bandara ( Mr. Chaplin juga gak segoblok Itu kale! kadang-kadang kaum minoritas yang suaranya kenceng Itu gak faham Akan satire).


Saya sendiri berkeyakinan seperti Itu dana Itu rupanya bukan diserahkan untuk mengurus masalah Hukum dari HRS tapi untuk melaksanakan tugas yang lebih besar lagi. Segala persiapan Sudah dilakukan, sebenarnya sasarannya adalah kondisi chaos yang akan dibuat di Indonesia dengan tujuan HRS ditangkap begitu tiba di Bandara , massa Sudah disiapkan dengan pengerahan dari daerah-daerah sebelum kepulangannya yang bertepatan dengan saat deportasi, Sudah dijelaskan baik oleh pemerintah maupun pemerintah Saudi bahwa kepulangan HRS adalah dideportasi. ( namanya juga pedagang , Saya tidak menuduh tukang obat lho ! pengeluaran harus diperhitungkan jadi buat apa bayar overstay kalok tetep diusir juga).


Jika HRS ditangkap di Bandara selain para pendukungnya siap menjadi tameng hidup dan jika ada yang terluka saja maka akan memberikan citra bahwa pemerintah memang otoriter dan menindas Islam juga membalikan anggapan bahwa HRS ditangkap bukan karena kabur dari masalah Hukum tapi masalah politik padahal kembalinya sang imam FPI ini akan melakukan Revolusi Akhlak ! tapi malah ditindas oleh pemerintah yang benci islam karena pemerintah thogut tidak senang dengan kedatangan "Imam Besar Umat Islam!" Hmmm keren kan?!! , HRS tidak bisa ditangkap namanya kembali harum ( macam Ibu Kartini pula Harum namanya), disamping Itu sudah disiapkan pengerahan puluhan ribu massa dari Berbagai daerah yang siap meluluh lantakan Bandara sebagai simbol negara sehingga Indonesia akan chaos dan jadi sorotan Dunia Internasional serta di masyarakat lokal sendiri akan terjadi hegemoni bahwa pemerintah mengkriminalisasi Ulama memusuhi islam (lagu lama gaya baru).


Bukan Itu saja beberapa Masa Sudah siap meluluh lantakan jakarta bila HRS akan ditangkap. Kemudian Jakarta chaos , elit politikpun akan ramai - ramai menggongong dari Cikeas hingga Cendana bahkan Gatot Nurmantyo yang seharusnya mendapatkan bintang Mahaputra sudah bersiap dengan tidak hadir ke istana untuk menyambut chaos tersebut dengan gonggongannya. Mungkin gonggongannya adalah " Saya lebih baik menjadi Pembela Islam daripada hanya menerima bintang jasa Karena Saya bukan penjilat " lagu lama gaya baru Juga kan?.


Perencanaan dilakukan dengan persiapan yang cukup matang , bahwa kepulangan sang Imam Besar FPI tersebut adalah tanggal 10 Nopember pagi tiba di tanah air bahkan beliau menepiskan anggapan dideportasi dengan memajukan pernikahan putrinya pada hari sabtu tanggal 14 Nopember 2020 di Cikeas ( kenapa di Cikeas biasanya seorang yang mengadakan hajatan dari pihak perempuan pesta Akan diadakan ditempat pihak perempuan , kenapa tidak di Petamburan atau mencari gedung di Jakarta? ). Dan beliau sebelumnya akan mengadakan acara maulud nabi di Tebet ( setau Saya faham wahabi pun tidak mengakui maulud nabi karena bid'ah kecuali untuk tujuan politik dan seremonial).


Agenda ini selalu diumumkan dalam.seminggu kedatangannya ke Indonesia Tak lain supaya pengerahan massa terus dilakukan bila plan A gagal dilanjutkan Plan B gagal lagi dilanjutkan Plan C dan seterusnya.


Rencana ini jelas merupakan rencana kolektif para oposisi yang terdiri dari politisi busuk yang memang Ingin mengganti Demokrasi di Negri ini karena Demokrasi Akan melahirkan Pemimpin yang terus beregenerasi sesuai dengan kedaulatan rakyat tidak seperti dulu lagi jabatan bisa dipergilirkan sekehendak hati mereka, buktinya pada orasi HRS ada kata rekonsiliasi bersyarat dari mulai untuk membebaskan para tertuduh makar yang terdiri dari aktivis KAMI hingga para Ulama yang ditenggarai sebagai kaki tangan para politisi busuk tersebut hingga Gatot Nurmantyo bersedia tidak memperoleh Penghargaan Bintang Mahaputra.


Kemudian pada saat kepulangan HRS pun para politisi bersikap hati-hati dalam menanggapi kepulangannya karena mereka tau akan ada peristiwa besar yaitu revolusi yang mereka rencanakan. Kecuali politisi yang memang Kita kenal kebodohannya yang masih menggongong seperti Fadli Zon dan Fahri Hamzah . Bisa saja sih sebenarnya karena kebodohannya atau pura -pura memberi sinyal kepada pemerintah.


Lalu apa yang dilakukan pemerintah, mereka menyambut kepulangan HRS dengan baik bahkan dilengkapi dengan penjagaan yang ketat walaupun mereka memancing dengan merusak fasilitas bandara tapi petugas membiarkannya , yang keren menurut Saya , adalah ketika ada seorang anggota TNI yang menunjukan sebagai loyalist HRS dibiarkan memvideokan Rasa simpatinya dan meng upload ke medsos kemudian ditangkap , ini sebenarnya merupakan bentuk pesan tersembunyi bagi internal TNI dan masyarakat umum bahwa sebenarnya TNI siap menindak siapapun yang Akan menjadi penentang Pancasila.


Pemerintah Jokowi memperhitungkan benar bahwa dukungan kepada HRS Sudah semakin kecil kecuali disokong oleh uang dan Masih digunakan sebagai wayang oleh para politisi busuk dan tentunya memperhitungkan bahwa dunia Internasional pun tak nyaman dengan kehadiran HRS karena beberapa Sudah membuat perjanjian investasi paska UU Cipta Kerja terbukti dengan pemberitaan media luar negri begitu miring kepada HRS sampai disebut Porn Fugitive, jika saya yang mendapatkan gelar Itu Saya gak akan kuat, karena Saya Tau maiu Paling tidak Saya tidak Ingin jadi public figure lagi!. Maluuu boo!


Pemerintah tinggal menunggu Whistleblower( suara Kekecewaan yang bisa memberikan legitimasi secara Hukum) dari masyarakat karena kegerahan masyarakat akan HRS dan FPI memang sudah memuncak , Kita lihat di medsos kedatangan HRS disambut dengan banyak ejekan baik dari dalam maupun dari luar Negri. Kebetulan Kita menemukan Juga tokoh yang pas sosok baik hati , sosok yang eksentrik atau bukan hedonis namun jujur. Itulah Nikita Mirzani yang bisa menggugah kesadaran publik.


Sekarang agenda HRS masih berjalan tapi sebenarnya Sudah banyak kehilangan langkah bila diibaratkan main catur hanya kekuatan uang saja yang masih bisa menjaga seolah-olah dia banyak pendukungnya uang bisa cepet habis bila Nasi bungkusnya kebanyakan!.. tapi dukungan secara moril dan politik semakin meredup , keren kan Presiden Gue !!.... Gagal maning Tot ..Gatot...Gatot


Wallahu'Alam bishowab,

Sumber : Status Facebook Eddy Satria Zaid




Berita Lainnya

Mentertawakan Perdebatan Di Medsos

04/12/2020 12:32 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA