Saturday, 05 Dec 2020
Temukan Kami di :
Opini

Bung Imam Panik Kasus-Kasus Hukumnya Dilanjutkan

Anas Baidowi - 15/11/2020 14:00 Screenshot video opini Ade Armando di Kanal Youtube CokroTV

Beritacenter.COM - Bung Imam Besar tampaknya panik kasus-kasus hukumnya mungkin akan di lanjutkan. Ini tercermin dalam pernyataan-pernyataannya. Rizieq misalnya mengomel tentang saya, Denny Siregar dan Abu Janda di hari pertama dia tiba di Jakarta.

Di hadapan pengikutnya, dan disiarkan kanal Youtube Front TV, si bung imam ini mengeluh bahwa saya, Denny, dan Abu Janda tidak pernah diproses hukum.

Si bung imam yang delusional ini bilang bahwa saya, Denny dan Abu Janda sudah dilaporkan masyarakat atas tuduhan penistaan agama dan penistaan ulama. Tapi tidak pernah diperiksa polisi.

Dia bilang "kenapa kau (-maksudnya polisi-) biarkan? Denny siregar kau biarkan, Ade Armando kau biarkan, kenapa abu janda kau biarkan.

Dia kemudian menggambarkan bahwa kami kelompok yang menjilat pemerintah dan karena itu tidak diperiksa oleh polisi.

Kata bung imam lagi, "kelompok yang tidak suka pemerintah digali-gali, diproses. Sementara kelompok yang penjilat dibiarkan."

Buat saya sih itu menggelikan, saya bicara soal kasus saya saja ya. Pertama-tama sejak kapan saya menista agama? Coba bung imam tunjukkan kapan saya menista agama?

Kedua, bung imam mengarang bebas. Dengan menuduh polisi tidak pernah memeriksa saya atas laporan-laporan kelompok 212 dan FPI.

Tentu saja polisi menindaklanjuti laporan masyarakat terhadap saya. Saya berulang kali dipanggil polisi dan harus diperiksa berjam-jam. Bahwa polisi kemudian menganggap bahwa laporan itu tidak cukup kuat untuk dilanjutkan menuju pengadilan. Itu kan tidak berarti laporan tersebut tidak diproses.

Ini beda sekali dengan apa yang terjadi pada bung imam. Bung imam berulang kali dilaporkan atas beragam tuduhan, dari menghina agama sampai memfitnah orang.

Tapi kan berbeda dengan saya, kalau bung imam tidak cukup jantan ketika dia dipanggil polisi. Dia kabur ketika dipanggil sebagai saksi dalam kasus chat mesum Firza.

Akibatnya, proses hukumnya terkatung-katung. Lho kok sekarang dia malah menuduh proses hukum saya yang dibiarkan?

Saya diperiksa, zieq. Tapi saya tidak kabur. Itu bedanya saya dengan seorang imam besar tapi saya paham kenapa dia bicara begitu di hari-hari pertama kedatangannya di Indonesia. Seperti saya katakan. Saya rasa, dia sedang panik.

Dia memang disambut dengan gegap gempita. Dia langsung dikunjungi Anies Baswedan, PKS, Fadli Zon. Tapi jangan salah, dia juga sedang ditunggu kasus-kasus yang selama ini berkasnya menumpuk saja karena dia tidak ada di tempat.

Bung imam melarikan diri pada 2017. Dia tentu semula berharap Jokowi akan kalah pada 2019, sehingga dia bisa kembali ke Indonesia.

Ternyata skenario penumbangan Jokowi ini gagal. Dan bung imam pun terpaksa hidup dalam pelarian. Celakanya, setelah lebih dari tiga tahun, pemerintah Saudi rupanya tidak punya alasan lagi untuk membiarkan dia tinggal di sana, Rizieq dideportasi. Dia harus kembali ke negara asalnya. Dan itu artinya dia harus berani dan jantan untuk kembali menjalani proses hukum.

Saya rasa sih dia deg-degan setiap hari. Dia membayangkan setiap hati akan ada surat panggilan dari pihak kepolisian untuk menghadap karena laporan-laporan mengenainya.

Masalahnya, kalau dia sampai diadili, reputasinya mungkin akan hancur dan bahkan dipenjara.

Misalnya saja dalam kasus chat mesum dengan Firza. Mungkin sekali bung imam tidak akan dinyatakan bersalah. Tapi untuk tiba pada titik itu, semua chatnya dengan Firza harus dibuka di pengadilan. Selama ini kan para pendukungnya berusaha percaya bahwa chat itu rekayasa pihak tertentu yang ingin merusak nama baik Rizieq.

Tapi kalau dibawa ke pengadilan, kebenaran akan terkuak. Dan bayangkan bagaimana perasaan pecinta bung imam ketika akhirnya terbukti secara terang benderang bahwa itu adalah chat asli.

Dalam kasus penodaan agama, bung imam bahkan perlu lebih khawatir. Dia dengan jelas menghina kristen dengan nada mengejek dia bilang: "kalau Yesus anak Tuhan, bidannya siapa?"

Kalau Ahok saja bisa dipenjara karena kasus Al-Maidah yang sangat bisa diperdebatkan penafsirannya, apalagi yang ini, yang jelas-jelas merupakan pelecehan Kristen.

Belum lagi pelecehan adat Sunda, ketika dia menyebut 'sampurasun itu campur racun'. Atau kasus pernyataannya bahwa "Pancasila Soekarno, Ketuhanannya di pantat."

Atau penghinaannya terhadap umat Hindu. Atau pelecehannya terhadap profesi hansip, atau juga laporan pengacara Henri Yosodiningrat yang menuduh Bung Imam menghina dia sebagai politisi pro-komunis.

Itu semua berpotensi membawa bung imam ke pengadilan dan ke penjara. Karena itu sangat wajar bila bung imam saat ini panik.

Untuk mencegah agar rangkaian kasus hukum itulah dia pun merancau dan mengancam. Dia menuduh polisi mencari-cari kesalahannya dan berusaha mengungkit kembali kasus-kasus pidana yang melibatkan dirinya.

Penyebutan nama saya, Denny, Abu Janda ada dalam konteks ini.

Menurutnya belum apa-apa sudah ada pihak-pihak yang mendorong kasus-kasus hukum Rizieq dibuka kembali.

"Wah, ini apa-apaan?" ujarnya.

"Sudahlah, jangan buka kasus-kasus yang tidak ada."

Jadi dia berusaha mengarahkan pendapat masyarakat bahwa sebenarnya dia bersih dari pelanggaran hukum.

"Jangan buka kasus yang tidak ada," katanya.

Dan kalau dia seolah-olah punya banyak kasus hukum. Menurutnya itu terjadi karena pemerintah berusaha menggali-gali kaum oposisi seperti Rizieq, seraya membiarkan kesalahan kaum penjilat pemerintah, seperti saya.

Rizieq memang penulis fiksi nomor satu.

Tapi bukan cuma itu. Dia juga melontarkan ancaman bahwa bisa terjadi pertumpahan darah. Bung imam dengan retoris mengatakan, bila negar ini tak ingin ada revolusi pertumpahan darah, hukum harus diperbaiki dan aparat keamanan tidak boleh tebang pilih.

"Enggak boleh dibiarkan," katanya.

"Ini bisa jadi bom waktu yang kapan saja bisa meledak,"

Dan mungkin untuk membangun kesan bahwa dia sedang tidak memikirkan hanya keselamatan dirinya, dia juga menuntut penerintah membebaskan abu bakar baasyir, Bahar bin Smith, para aktivis KAMI, buruh, mahasiswa, pelajar, dan demonstran yang kini sedang ditahan.

Mereka semua, kata bung imam, perlu dibebaskan karena mereka adalah korban krininalisasi.

Heroik? Tentu saja tidak. Itu semua hanya sekadar menunjukkan kepanikan dia. Dia meracau, dia mengarang bebas, dia mengancam, karena dia panik.

Tapi saya yakin, bagi pemerintah, bagi aparat penegak hukum, racauan dan ancaman Rizieq ini tidak berarti apa-apa.

Yuk kita dukun terus kelanjutan upaya hukum terhadap bung imam. Terus gunakan akal sehat, karena dengan akal sehat, negara ini akan selamat.

Oleh: 

Dr. Ade Armando, M.Sc.

Pakar Komunikasi Indonesia

Dosen di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia




Berita Lainnya

Mentertawakan Perdebatan Di Medsos

04/12/2020 12:32 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA