Friday, 04 Dec 2020
Temukan Kami di :
Opini

Perilaku Manusia Atau Hewan?

Indah Pratiwi - 14/11/2020 09:00 Oleh : Meicky Shoreamanis Panggabean

Old Major bukanlah seorang wali kota (Major). Ia seekor babi hutan, tokoh rekaan Eric Blair yang punya nama samaran George Orwell. Pria Inggris kelahiran India ini menulis Animal Farm, sebuah novel satiris mengenai Revolusi Bolshevik.

Suatu hari, Old Major dikisahkan Orwell menyanyi di depan sekawanan jenis binatang yang biasa dijagal:



Soon or late the day is coming,
Tyrant Man shall be o'erthrown

Dua baris tersebut adalah penggalan lirik ‘Beasts of England,’ lagu yang menghampiri Old Major di dalam mimpi. Ia yakin bahwa hewan di semua kandang harus melancarkan aksi revolusi melawan Mr. Jones, pemilik peternakan yang mereka anggap lalim.

Revolusi berhasil dan filosofi Old Major lantas dirangkum dalam 7 peraturan yang disebut Animalisme. All animals are equal, begitulah bunyi butir terakhir.

Jangan lupa, Animal Farm adalah novel yang penuh dengan alegori jadi Animalisme punya padanan yang amat serupa dalam dunia nyata: The Communist Manifesto karya Marx dan Engels.

Orwell meneruskan kisahnya.

Semua hewan lantas hidup bahagia setelah revolusi berhasil namun sayang, hanya sebentar. Maklum, tingkat intelektualitas mereka berbeda-beda. Coba saja tengok, para babi bisa menghafal Beast of England dengan cepat. Ini berbeda dari hewan lainnya seperti kambing dan ayam. Mereka berdua agak lambat saat diajar membaca dan menulis.

Babi-babi tersebut, dengan Napoleon sebagai pentolannya, lalu sadar bahwa mereka bisa mengambil alih kekuasaan dari tangan rakyat alias segenap penghuni peternakan. Napoleon akhirnya memang sukses menggantikan Mr.Jones sebagai penguasa tiran.

Segenap penghuni kandang lantas tak bisa membedakan Napoleon dari manusia yang dulu mereka tumbangkan. Padahal, bunyi butir pertama Animalisme adalah ‘Whatever goes upon two legs is an enemy.’

Tapi, Animalisme memang sudah tak relevan lagi untuk dibicarakan. Napoleon sudah melanggarnya. Coba saja tengok, ketika ayam-ayam tak mau menyerahkan telur mereka kepada Napoleon, ia membunuh mereka secara massal. Padahal, butir kedua Animalisme jelas menyatakan,’Whatever goes upon four legs or has wings is a friend.’

Orwell rasanya hendak mengatakan kepada kita semua bahwa kekuasaan yang ada di tangan para maniak pada akhirnya pasti berujung tiran. Ganti pemerintah, ganti partai, atau apapun itu : Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely, begitulah kata Lord Acton, ahli sejarah Inggris yang pernah jadi anggota parlemen Irlandia.

Kebahagiaan dan keganasan para pengikut hanyalah temporer, bukan?

Mereka sedemikian bodohnya sehingga tak mampu untuk melihat bahwa Napoleon, yang pemalas dan nggak cerdas-cerdas amat, sesungguhnya menggunakan kekuasaannya untuk memanipulasi mereka, bukan untuk membuat kehidupan mereka menjadi setara, lebih baik atau lebih bebas.

Coba saja lihat apa yang terjadi setelah kekuasaan absolut ada di tangan Napoleon: Seekor babi bernama Squaler yang sehari-harinya bertugas sebagai mesin propaganda Napoleon, menurunkan Animalisme dari dinding peternakan dan menggantinya dengan pernyataan baru:

All animals are equal, but some animals are more equal than other.

Sumber : Status Facebook Meicky Shoreamanis Panggabean




Berita Lainnya

Mengejek Adzan

03/12/2020 14:04 - Indah Pratiwi

KITA MEMBIAYAI PARA TERORIS

03/12/2020 10:40 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA