Saturday, 28 Nov 2020
Temukan Kami di :
Opini

Mimpi "Revolusi Sontoloyo" Di Indonesia

Indah Pratiwi Budi - 28/10/2020 13:28 Oleh : Kosasih Ali Abu Bakar

Bila mendengar kata “Revolusi”, maka pemikiran dan bayangan kita adalah sebuah perubahan besar-besaran yang dilakukan secara cepat, biasanya diidentikkan dengan kooptasi oleh gerakan bersenjata. Salah satu revolusi yang akhir-akhir ini berhasil adalah revolusi oleh ISIS walau dalam waktu singkat yang wilayah kekuasaanya meliputi sebagian besar dari Suriah dan Irak. Walau demikian, revolusi oleh ISIS ini pada dasarnya sudah dikalahkan oleh revolusi oleh “Virus Corona”, makhluk Tuhan yang tidak terlihat ini dan ideologinya adalah menumpang kepada makhluk inangnya dan merusaknya serta mudah berpindah untuk sekedar mencari inangnya atau mati dengan tenang.

Revolusi oleh ISIS tidak terlepas dari gerakan “Spring Arab”, sebuah gerakan di Timur Tengah yang berhasil mengganti rezim-rezim diktator yang selama ini berkuasa, sebut saja Khadafi, Zine El Abidine Ben Ali, Hosni Mubarak, Ali Abdullah Saleh, dan Moh. Morsi. Kesemuanya diawali dengan perubahan peta kekuasaan di Timur Tengah ketika Amerika Serikat melakukan ekspansi ke Iraq, pemimpin Diktator lainnya, yaitu Saddam Hussein berhasil dijatuhkan.

Kembali ke ISIS, pada banyak teori ISIS dikatakan sebagai bentukan yang secara langsung atau tidak langsung dari Amerika Serikat, ciptaan Bashar al Ashad, tidak sedikit juga yang mengatakan kalau ISIS adalah cikal bakal tentara Allah yang dijanjikan di akhir zaman.

Keluar dari teori-teori tersebut, pada awalnya ISIS itu sendiri tidak ada di Irak dan Suriah. Spring Garden yang mengancam Suriah itu dihadapi oleh Presiden Baashar al Ashad dengan kekerasan, belajar dari negara tetangganya maka ia melakukan sejak awal sudah bersikap tegas untuk menyelamatkan kekuasaan dan kroninya, tidak ingin seperti Khadafi ketika mayatnya diseret-seret oleh pada demonstran.

Kekerasan-kekerasan itu berdampak kepada terbentuknya kelompok-kelompok perlawanan-perlawanan secara sipil, inilah awalnya perang proksi di Suriah. Ketika gerakan-gerakan dari kelompok-kelompok perlawanan ini semakin luas dan masif, maka pemerintah Baashar kesulitan dalam mengontrol wilayahnya dan perlawanan dari internal militer Baashar sendiri sudah mulai terlihat dan menampakkan dirinya. Tidak hanya dari kelompok lawan, akhirnya Baashar sendiri ikut bermain dalam perang ini, ia ikut membentuk “kelompok perlawanan” yang seolah-olah melawan dirinya, akan tetapi pada akhirnya mendukung dirinya atau ia melakukan pendekatan-pendekatan dengan pihak-pihak yang dianggap kuat dan akan mendukung dirinya kelak ketika semua telah selesai.

Ketika banyak pihak yang bermain dalam perang di Suriah, maka Suriah semakin tidak terkontrol, senjata sudah mulai masuk ke negara tersebut yang juga bertetangga dengan Irak yang juga tidak bisa sepenuhnya dikontrol oleh Amerika Serikat, pergerakan senjata semakin tidak terkontrol. Perang proksi semakin menguat dan sebaran senjata semakin membuat negara ini tidak terkontrol. ISIS yang pada awalnya bagian dari Al Qoida (baca: keluar pada akhirnya dari Al Qoida), kemudian menggalang dukungan secara internasional, sehingga para penggiat, aktifis, yang ingin mendirikan negara khilafah banyak yang bergabung ke ISIS. Bahkan strategi dan taktiknya terlihat begitu sistematis, dari sisi ideologis, perekrutan modern dengan menggunakan media sosial, pelatihan militer yang baik, bahkan pengontrolan yang sistematis dan terukur serta menakutkan.

Selain itu, strategi penguasaaan dari ISIS juga tidak serta merta dengan melakukan pendudukan langsung pada awalnya. Strategi pendudukan dilakukan secara terukur dan sistematis ketika masih dalam kondisi lemah, berkembang ketika mereka menjadi besar dan kuat. Banyak yang mengatakan bahwa strategi dari ISIS ini begitu hebat dan canggih sehingga bisa menguasai banyak wilayah di Suriah dan Irak. Akan tetapi, permasalahannya menjadi besar karena strategi penguasaan mereka juga dilakukan dengan teror bagi orang-orang yang dianggap tidak sejalan dengan mereka, memenggal, menggantung, terjun dari gedung tinggi, rajam, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, mereka juga menerapkan hukum-hukum denda atau pajak yang sangat memberatkan penduduk di wilayah kekuasaannya. Dan perempuan-perempuan yang dengan mudahnya harus mau dijadikan istri karena dianggap sebagai budak perang (baca: wanita dari suku Yazidi atau lainnya). Hal yang paling menakutkan dalam teror dan aksinya tersebut mereka tidak segan dalam menggunakan media sosial atau mendapatkan perhatian dari dunia internasional. Propaganda-propaganda mereka juga cukup diakui.

Korban dari “Revolusi Sontoloyo” ini adalah masyarakat di Irak dan Suriah, mereka yang terjepit oleh Penguasa di Irak dan Suriah dan kelompok-kelompok bersenjata yang berperang di Irak dan Suriah. Berbagai macam senjata juga harus mereka hadapi, mulai dari senjata kimia, bom, timah panas, dan lainnya. Tidak lupa mereka harus membiasakan diri dengan teror-teror dalam perang urat syaraf di kancah peperangan.

Perang di Suriah ini, negara yang notabene beragama Islam mayoritas penduduknya seharusnya menjadi warning bagi negara-negara lain yang juga mayoritas penduduknya Islam, khususnya Indonesia. Suriah pada awalnya bukanlah negara seperti Iran atau Arab Saudi, ketat dalam “Berislam”. Tapi mereka juga tetap mengedepankan religius walau hidup ala kebarat-baratan.

Indonesia? Perlukah ada revolusi di Indonesia? Kekacauan di Indonesia pada dasarnya ditunggu banyak pihak-pihak yang merasa tidak nyaman atau sempalan di Indonesia, ada OPM, ada oknum GAM (baca: sudah ber-MoU), Gerakan Islam Garis Keras, RMS, dan lainnya yang selama ini bergerak di bawah tanah.

Bagi oknum GAM, lebih mudah bagi mereka untuk kemudian mendeklarasikan Aceh sebagai sebuah kesatuan negara karena banyak dari intelektualnya telah memberikan bukti-bukti bahwa Aceh pada dasarnya sebelum ke Indonesia adalah negara merdeka, hubungan sebagai saudara (baca: Lobby Bung Karno, seperti halnya juga dengan semuan komponen yang ada di nusantara) yang membuat Aceh bersama Indonesia (baca: Aceh sering dikatakan daerah modal tapi juga beberapa dekade Aceh dalam status darurat militer).

Bagi OPM, gerakan ini akan semakin menguat bila Indonesia kacau, kesemuanya diawali dengan adanya peperangan antara pendatang dengan pribumi yang sudah mulai kita lihat pada tahun-tahun ini kejadiannya, pemantik awal. Banyak tokoh-tokoh OPM sekarang dengan intelektual yang tinggi dan lulusan dari luar negeri.

Gerakan Islam Garis Keras, menginginkan Indonesia menjadi negara bersyari’at. Tentunya tidak akan semudah yang dibayangkan. Karena kebhinekaan dari Indonesia ini yang juga beragam, banyak orang yang sudah jengah dengan demo-demo dan klaim-klaim sebagai yang paling memperjuangkan Islam di Indonesia ketika NU dan Muhammadiyah sebagai orsosamas terbesar Islam masih bersama Pancasila. Tidak hanya itu, mimpin itu juga akan sirna ketika mereka harus menghadapi daerah-daerah di wilayah Indonesia timur yang mayoritas bukan Islam, karena pemaksaan mereka hanya akan menjadikan sebuah konflik horoizontal.

Bahkan di Jawa sendiri, seperti Daerah Istimewa Yogjakarta tidak akan sungkan rakyatnya mengembalikan mandat kepada Sultannya. Kerajaan-kerajaan di Jawa atau di seluruh nusantara yang selama ini tertidur akan berupaya mengangkan kembali nilai-nilai historis tersebut bila negara ini dalam keadaan kacau, dan Indonesia terpecah belah kembali.

Tentunya bukan revolusi seperti ini yang diinginkan oleh kita semua, revolusi yang menginginkan adanya kekacauan karena negara chaos. Indonesia sendiri sejak awal kemerdekannya menjadi wilayah perang proksi. Meletusnya DI/TII dan G 30/S atau bahkan kejatuhan Bung Karno dan Soeharto juga merupakan bagian dari perang proksi yang menginginkan Indonesia tetap menjadi bagian dari negara-negara adidaya atau ideologinya. Walaupun, para founding father kita sejak awal sudah menegaskan bahwa Indonesia ada bagian pencetus dari Gerakan Non Blok, SBY kemudian menginterpretasikan dengan “Zero Enemy”.

Perang proksi terkini di Indonesia adalah perebutan pengaruh antara negara-negara dengan kekuatan ekonomi besa dunia, yaitu China dan sekutunya serta Amerika Serikat dan sekutunya. ASEAN (baca: Indonesia dengan porsi terbesar) merupakan daerah strategis bagi Amerika Serikat untuk melawan China (baca: secara wilayah dan geopolitik), hilangnya pengaruh Amerika Serikat di ASEAN akan merugikan Amerika Serikat dalam menghadap hegemoni China yang semakin terlihat (baca: Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin, sekitar negara perbatasan China, negara-negara Pasifik). Perang perekonomian ini yang kemudian bisa bergeser kepada perang ideologi, perang agama, dan perang-perang lain yang terkadang terlihat tidak tersambung secara logika berpikir.

Hal yang dikuatirkan saat ini, ketika masa pandemi dan transisi dunia akibar revolusi industri 4.0. adalah pemanfaatan kelompok-kelompok fanatik buta, kelompok-kelompok sakit hati, kelompok-kelompok pencari keuntungan diri sendiri/kelompok, kelompok-kelompok burung merak, kelompok-kelompok idealis, kelompok-kelompok pensiunan yang jobless, dan lainnya yang bersebrangan dengan pemerintah akan tetapi bisa dimanfaatkan oleh pihak ketiga karena supporting dana dan fasilitas lainnya. Pada dasarnya, narasinya sudah terbaca dengan jelas dari tiap-tiap kelompok, karena memang cara membangunnya menggunakan ilmu yang sama.

Dibalik itu semua, Indonesia sendiri mempunyai keuntungan dengan daerah yang berpulau-pulau dari tersebar ini. Dan Jawa merupakan daerah penting karena kepadatan penduduknya dan mayoritas muslim ada di daerah ini, itupun Muhammadiyah dan NU sebagai mayoritas orsosmasnya, keamanan Jawa harus diprioritaskan walau tidak melupakan untuk menjaga daerah di luar Jawa. Tidak hanya itu, penguasaan senjata di Indonesia juga terkontrol dengan baik, bahkan bila ada chaos sekalipun (baca: gerakan 1966, gerakan 1998 dimotori oleh mahasiswa dan masyarakat) akan bisa dilokalisasi selama militer tetap menjadi satu.

Mudah-mudahah tidak terjadi “Revolusi Sontoloyo” di Indonesia, revolusi karena dimanfaatkan pihak ke tiga (baca: negara asing), kepentingan sesaat golongan atau kelompok, dan orang-orang bodoh dan lapar yang dimanfaatkan mereka yang pintar dan kaya.

Indonesia di tengah ketidakpastian dunia ini malah memerlukan revolusi mental, menuju Indonesia bersatu yang adil dan sejahtera dengan jati diri dan karakter bangsa yang berhasil menjawab tantangan ketidakpastian ini dengan SDM-SDM anak bangsa sendiri.

Sumber : Status Facebook Kosasih Ali Abu Bakar




Berita Lainnya

Kenapa HRS Tidak didukung Habaib Internasional ?

27/11/2020 15:00 - Indah Pratiwi Budi

"JANGAN MELUDAHI TANGAN YANG MEMBERI MU MAKAN JK"

27/11/2020 11:00 - Indah Pratiwi Budi

Tentang SJW Garis Cari Panggung

27/11/2020 09:05 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA