Saturday, 28 Nov 2020
Temukan Kami di :
Opini

Lagi Musim, Orang Bingung Bikin Teori

Indah Pratiwi - 28/10/2020 10:35 Oleh : Agung Wibawanto

Ada teori baru 'orang bingung': "Oposisi itu memang harus tampilkan keburukan penguasa agar ada perubahan yang baik." Maaf, bedanya dengan Si Siti Sirik yang tidak solutip itu apa? Bisa saja sih dan silahkan saja bikin teori sendiri (orang bingung itu bebas). Pastinya, orang cenderung akan menghindar dan atau tidak menanggapi terhadap ocehan orang yang suka tebar keburukan orang lain.

Alih-alih dapat manfaat malah banyak mudaratnya (nah, ini dari sisi agama yang harus nya bisa lebih paham). "Janganlah engkau memakan bangkai saudaramu sendiri". Artinya, jangan membicarakan hal buruk tentang orang lain apalagi sesama muslim. Hukumannya berat, selain amal pahalanya dipindah kepada orang yang diceritakan keburukannya, dia juga harus menanggung dosa orang tadi.

Kalau saya mengatakan, teori di awal tadi adalah teori dari oposisi yang bingung. Karena merasa tidak bisa mengungguli atau pun mengalahkan saat kontestasi pilpres, ingin menjatuhkan pun gagal terus, mimpi romantisme 1998 juga percuma, maka satu-satunya yang bisa dilakukan adalah dengan 'menyampaikan keburukan' dari pemerintah. Sedangkan saat ditanya, lantas yang baik itu seperti apa?

Mereka gak ada jawabnya, karena memang bukan oposisi cerdas melainkan oposisi bingung. Lihat saja, bentar lagi akan muncul 'teori' ataupun reasonable lainnya yang dicari-cari. Misal, mulai ada terminologi baru 'revolusi akhlak'. Dengan tokoh utama yang digadang-gadang adalah Si Rizieq. Akhlak yang seperti apa? Jujur saya tanya beneran. Yang mau jadi teladan siapa, Rizieq?

Seperti apa akhlaknya saat ceramah teriak-teriak, memaki dan berkata kotor? Seperti apa pula akhlak ormasnya, yakni FPI yang kerap berlaku anarkis di setiap aksi yang mereka balut dengan istilah jihad? Rocky Gerung mengatakan atau berteori juga, “Di dalam psikologi politik, Habib Rizieq itu semakin diumpetin semakin, sebut saja glorifikasi, berlangsung natural sekali."

"Orang itu (Rizieq) dianggap oleh pengikutnya, ditunggu sebagai masengger of truch," ucap Gerung. Sebagai tukang fiksi dan pemimpi, ia berhalusinasi Rizieq turun di bandara dijemput Gatot dan Anies Baswedan. Penonton pun tertawa. Gerung gak nyadar, apa yang ia teorikan dalam psikologi politik itu, dapat pula terjadi sebaliknya kepada Jokowi. Atau sesungguhnya ia ingin mengatakan teori yang sama ke Jokowi?

Semakin Jokowi dihujat, difitnah dan ada birahi kuat untuk melengserkannya, maka akan terjadi, katakanlah 'glorifikasi' natural sekali. Jokowi justru akan menjadi seorang yang patut dibela di mata pendukungnya. Dan, Jokowi presiden bukanlah fiksi bukan mimpi bukan halu. Berbeda dengan Rizieq dan kelompoknya yang masih diharap pulang dan turun di bandara disambut... bla bila bla.

Ok lah, sekali lagi, orang yang sedang bingung itu bebas, kemarin bilang Jokowi komunis kini sebut Jokowi kapitalis. Kita tertawa saja. Karena kita tahu, Jokowi tidak pernah mau repot-repot terpancing merespon, apalagi sampai marah-marah. Gak penting. Jokowi lebih memilih sibuk bekerja. Emang enak dicuekin?

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto




Berita Lainnya

Kenapa HRS Tidak didukung Habaib Internasional ?

27/11/2020 15:00 - Indah Pratiwi Budi

"JANGAN MELUDAHI TANGAN YANG MEMBERI MU MAKAN JK"

27/11/2020 11:00 - Indah Pratiwi Budi

Tentang SJW Garis Cari Panggung

27/11/2020 09:05 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA