Saturday, 28 Nov 2020
Temukan Kami di :
News

Soal Jamuan Makan 2 Tersangka Kasus Red Notice, MAKI Minta Kajari Jaksel Dievaluasi

Anas Baidowi - 20/10/2020 16:00 Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman

Beritacenter.COM - Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) menanggapi terkait sikap Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan (Kajari Jaksel), Anang Supriatna yang menjamu 2 tersangka kasus red notice Djoko Tjandra, yakni Irjen Napoleon dan Brigjen Prasijo Utomo.

Menurut MAKI, tindakan tersebut merupakan hal yang tidak wajar dilakukan oleh Kajari. Untuk itu, MAKI meminta agar tindakan Anang tersebut dievaluasi atau bahkan diganti.

"Apa pun sikap Kajari ini patut dievaluasi atau perlu diganti. Apa pun karena prosesnya yang menjadikan ini sebuah perbedaan semua," kata Koordinator MAKI Boyamin Saiman dalam keterangannya, Selasa (20/10).

Menurut Boyamin, dirinya mengaku prihatin dengan tindakan yang dilakukan Anang yang memberikan perlakuan istimewa terhadap kedua tersangka tersebut.

"Ini sungguh sangat memprihatinkan sikap Kajari yang memperlakukan berbeda. Dan saya tanya kasus korupsi yang dilimpahkan ke Kejari Jaksel saya yakin tidak seperti kemarin ada jamuan makan," ujarnya.

Menurut Bonyamin, tindakan tersebut merupakan tindakan yang terlalu berlebihan. Pasalnya, proses pelimpahan berkas perkara di seluruh kantor kejaksaan mulai dari Kejaksaan Negeri hingga Kejaksaan Agung sudah dapat dilakukan dengan sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).

"Dan itu ada ruangan tersendiri. Jadi sebenarnya cukup di situ ruangannya untuk serah terima orang dan barang bukti. Dan cukuplah kira-kira satu jam. Karena prosesnya tidak lama sehingga tidak perlu melakukan jamuan makan. Karena ini prosesnya sederhana," jelas dia.

Sebelumnya, Anang Supriatna mengklaim bahwa jamuan makan siang terhadap 2 tersangka tersebut memiliki anggaran tersendiri. Namun, Bonyamin menegaskan, Napoleon dan Prasetijo dihadapkan ke jaksa untuk proses pelimpahan bukan pemeriksaan.

"Kalau toh kasus korupsi ada anggaran itu adalah untuk saksi atau tersangka yang diperiksa, yang memang butuh waktu jam 9 sampai sore misalnya, bukan pada saat penyerahan seperti ini karena penyidikan kasus yang red notice di Bareskrim dan itu sudah cukup. Jadi, menurut saya, itu berlebihan," tutup Boyamin.




Berita Lainnya

Luhut Sebut Edhy Prabowo Kesatria, Ini Alasannya...

28/11/2020 00:27 - Baharuddin Kamal
Kemukakan Pendapat


BOLA