Wednesday, 02 Dec 2020
Temukan Kami di :
Internasional

Momen Langka Kim Jong-un Menangis, Minta Maaf Tak Bisa Penuhi Harapan Rakyatnya

Rakyat kita memberi kepercayaan yang setinggi langit dan sedalam samudera kepada saya, tapi saya telah gagal untuk menjalaninya dengan memuaskan. Saya sungguh memohon maaf

Aisyah Isyana - 13/10/2020 07:55

Beritacenter.COM - Memen saat pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, menangis saat berpidato menjadi sorotan. Momen langka itu terjadi saat Kim Jong-un berpidato di acara peringatan 75 tahun Partai Buruh Korea, Sabtu (10/10), seperti dilansir The Korea Times, The Guardian, hingga The Independent, Selasa (13/10/2020).

Pakar menyebut pidato itu tak biasa, lantaran Kim Jong-un dinilai telah mendedikasikan banyak bagian pidatonya untuk menyampaikan pesan simpati kepada rakyatnya.

Baca juga : Merasa Lebih Baikkan, Trump Sebut Amerika Akan Kalahkan Virus COVID-19 China

Hal yang melatari itu, lantaran Jong-un memang tengah berupaya memimpin negaranya untuk keluar dari tiga krisis yang sangat berat, yakni sanksi internasional, pandemi Covid-19, dan bencana alam.

Untuk itu, momen emosional itu membuat Jong-un akhirnya meminta maaf kepada rakyatnya, lantara tak bisa memperbaiki kehidupan rakyat secara signifikan, kendati dia mendapat dukungan penuh rakyat Korut.

"Rakyat kita memberi kepercayaan yang setinggi langit dan sedalam samudera kepada saya, tapi saya telah gagal untuk menjalaninya dengan memuaskan. Saya sungguh memohon maaf," kata Kim.

"Meskipun saya dipercaya dengan tanggung jawab penting untuk memimpin negara ini, menjunjung tinggi perjuangan sang kamerad agung Kim Il-sung dan Kim Jong-il berkat kepercayaan dari semua orang, usaha saya dan ketulusan saya belum cukup untuk menghapuskan kesulitan hidup rakyat kita," kata Jong-un.

Ditengah-tengah pidatonya, Jong-un akhirnya mengangkat kacamatanya dan menyeka air matanya. Analis menyebut hal itu sebagai momen yang sangat langka terjadi.

"Di balik pidatonya, dia menggunakan istilah seperti 'tantangan berat', 'cobaan berat yang tak terhitung', dan 'bencana yang tak diduga-duga dalam sejarah'," kata direktur divisi Korea Utara dari Institut Korea untuk Unifikasi Nasional, Hong Min.

"Ini menunjukkan bahwa dia sedang dalam situasi berat untuk memerintah, dan dia merasa tertekan atas keresahan rakyatnya yang mungkin sedih atau goyah karena kesulitan ini," sambungnya.

Sementara diakhir pidatonya, Kim Jong-un kembali menyerukan kepada rakyatnya untuk terus memberikan dukungan penuh dan percaya kepadanya.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA