Thursday, 03 Dec 2020
Temukan Kami di :

FITNAH YANG LEBIH KEJAM KEPADA PDIP

Indah Pratiwi Budi - 07/10/2020 14:30

Maaf beribu maaf kalau boleh jujur, sejak diterapkan Pilpres yang dilaksanakan dengan model pemilihan langsung oleh rakyat, hingga Pilpres 2014 dan Pilpres 2019, selalu berpartisipasi menggunakan hak pilih.

Ini bukan berbicara soal partai, dan tidak terikat dengan kepentingan politik mana pun. Oleh karenanya sampai detik ini belum tertarik untuk mengambil keputusan masuk partai, termasuk PDIP.

Karenanya ketika beberapa sahabat mendorong masuk ke partai tertentu dangan harapan agar bisa terjun di politik praktis, sementara ini selalu menolak dengan halus, dan selalu katakan belum saatnya, mungkin di lain waktu, sembari dengan menyadari dan merasa masih banyak kekurangan. Sementara di lain sisi justru banyak generasi milenial yang jauh lebih siap.

Namun demikian tidak pernah antipati kepada partai politik, kecuali bila kader dan elite politiknya nyeleneh dan menerapkan politik identitas yang cenderung menciptakan polarisasi di tengah-tengah masyarakat.

Sehingga ketika ada tuduhan serius yang tak berdasar dari Ahmad Dhani yang mengatakan bila PKI lebur dengan PDIP perlu diluruskan. Karena Ahmad Dhani Asbun alias asal bunyi dan nampaknya belum jera setelah sempat meringkuk di penjara karena mulutnya yang tidak bisa dijaga dengan harimau emosinya.

Pertama. PKI atau Partai Komunis Indonesia bubar pada tahun 1965, sedangkan Ahmad Dhani sendiri lahir 26 Mei 1972 atau 7 tahun setelah PKI bubar. Itu artinya Dhani sama sekali tidak merasakan, melihat, atau menjadi saksi pada peristiwa itu. Parahnya lagi, Dhani tidak mencari tahu sejarahnya seperti apa.

Kedua, bagaimana mungkin PKI bisa melebur dengan PDIP, bila PDIP itu sendiri resmi berdiri pada tahun 1999, karena sebuah perjalanan pahit yang dirasakan PDI atau Partai Demokrasi Indonesia kala itu.

Sejarah PDIP atau Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dapat dirunut mulai dari Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh Ir Sukarno pada 4 Juli 1927. Lalu PNI bergabung dengan Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Partai Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katolik. Halmana partai gabungan tersebut kemudian dinamakan menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada 10 Januari 1973.

Sejak awal terbentuk, konflik internal PDI terus terjadi dan diperparah dengan adanya intervensi dari pemerintah. Untuk mengatasi konflik tersebut, anak kedua dari Ir Sukarno, Megawati Sukarnoputri didukung untuk menjadi ketua umum (Ketum) PDI.

Namun pemerintahan Suharto tidak menyetujui dukungan tersebut kemudian menerbitkan larangan mendukung pencalonan Megawati Sukarnoputri dalam Kongres Luar Biasa (KLB) pada 2-6 Desember 1993 di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur.

Larangan tersebut berbanding terbalik dengan keinginan peserta KLB, kemudian secara de facto Megawati Sukarnoputri dinobatkan sebagai ketum DPP PDI periode 1993-1998. Lalu pada Musyawarah Nasional (Munas) 22-23 Desember 1993 di Jakarta, Megawati dikukuhkan sebagai Ketum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI secara de jure.

Konflik internal PDI terus terjadi hingga diadakan Kongres pada 22-23 Juni 1996 di Asrama Haji Medan. Pada 20 Juni 1996 para pendukung Megawati melakukan unjuk rasa hingga bentrok dengan aparat keamanan yang menjaga kongres.

Pada 15 Juli 1996 pemerintah Suharto mengukuhkan Suryadi sebagai Ketum DPP PDI. Akhirnya pada 27 Juli 196 pendukung Megawati Sukarnoputri menggelar Mimbar Demokrasi di halaman kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta Pusat.

Kemudian muncul rombongan berkaus merah kubu Suryadi, hingga terjadi bentrok dengan kubu Megawati. Peristiwa tersebut dikenal dengan Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli atau disingkat menjadi Peristiwa KUDATULI. Setelah peristiwa tersebut, PDI di bawah pimpinan Suryadi hanya memperoleh 11 kursi DPR.

Karena pemerintahan Suharto lengser pada reformasi 1998, PDI di bawah pimpinan Megawati Sukarnoputri semakin kuat, dan ditetapkan sebagai ketum DPP PDI periode 1998-2003 pada Kongres ke-V di Denpasar, Bali. Megawati kemudian mengubah nama PDI menjadi PDI Perjuangan p



Berita Lainnya

CAPRES ITU BERNAMA Dudung Abdurachman!!

25/11/2020 10:20 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA