Thursday, 22 Oct 2020
Temukan Kami di :
Bisnis

Tingkatkan Neraca Perdagangan, KKP Perluas Peluang Investasi dari Asia Timur

Aisyah Isyana - 01/10/2020 22:57

JAKARTA - Kebutuhan impor terbesar produk perikanan di Jepang adalah produk segar olahan tuna, udang dan salmon. Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Tokyo Jepang, Rakhmat Yulianto mengungkapkan Indonesia memiliki peluang untuk menyasar pasar negeri sakura guna meningkatkan neraca perdagangan, terutama dari sektor kelautan dan perikanan.

Menurut Rakhmat, terdapat 4 bidang usaha minat investor Jepang di Indonesia yaitu cold chain, processing, food industry dan start up.

“Kita harus sepakat dan berkomitmen untuk dapat melakukan kerjasama secara jangka panjang dengan Jepang," ujar Rakhmat saat mengisi webinar bertajuk “Menarik Minat Investasi Sektor Kelautan dan Perikanan dari Wilayah Asia Timur,” Rabu (30/9/2020).

Baca juga :

Rakhmat menegaskan kesiapan IIPC mempromosikan potensi perikanan Indonesia di Jepang. Kendati demikian, dia mengingatkan Indonesia untuk terus memperjuangkan tarif impor di Jepang melalui skema Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), dimana sekarang sedang proses review.

"Tujuannya agar tarif impor produk perikanan Indonesia sama dengan negara tetangga yaitu menjadi 0%,” terangnya.

Antusiasme serupa diungkapkan Hilmy Qadrinal Rachman Tanjung, Direktur Indonesia Investment Promotion Center Seoul, Korea Selatan (Korsel) ini mengatakan Indonesia adalah negara keempat tujuan investasi Korsel setelah Vietnam, Tiongkok dan Amerika Serikat.

Dikatakannya, perusahaan Korsel, khususnya perusahaan konglomerasi Korea dalam melakukan promosi investasi lebih menitikberatkan pada promosi proyek-proyek yang ready-to-offer, baik yang dimiliki oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun swasta.

“Investasi sektor perikanan dari Korea Selatan ke Indonesia dalam 5 tahun terakhir mengalami penurunan yang cukup signifikan sampai tahun 2019 dan kembali mengalami peningkatan di tahun 2020 sampai dengan Semester 1,” terang Hilmy.

Sementara Kepala Bidang Investasi Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei, Taiwan, Ali Fauzi mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara pemasok produk perikanan ke-3 terbesar ke Taiwan dalam tiga tahun terakhir (2017-2019). Adapun komoditas yang dominan ialah kerang, cumi dan sejenisnya (42%) dan ikan beku (28%). Hal ini berarti Indonesia cukup baik dalam memanfaatkan peluang untuk mengekspor produk perikanan yang dibutuhkan oleh Taiwan.

Selain impor produk perikanan, Taiwan juga melakukan budidaya perikanan yang merupakan salah satu sektor usaha penting di Taiwan dan telah menjadi tradisi sejak lebih dari 300 tahun lalu.

Besarnya perhatian terhadap perikanan ditambah potensi budidaya yang cukup menjanjikan, maka cukup besar pula peluang menarik calon investor Taiwan untuk berinvestasi di sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

“Namun diperlukan kiat dalam menarik investor Taiwan yaitu dengan memahami karakter investor, menyediakan informasi peluang investasi yang jelas, detail dan transparan, serta dengan memberikan kemudahan perizinan investasi,” jelas Ali.

Menurut Direktur Pengembangan Promosi, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Alma Karma, sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sektor yang dapat mengembalikan pertumbuhan ekonomi Indonesia, tinggal bagaimana kita berupaya mengelola dengan baik sumber daya alam yang dimiliki.

Alma menambahkan, kerjasama di bidang vokasi perikanan sangat diperlukan guna memberikan ketrampilan pada pekerja lokal terkait teknologi yang akan digunakan pada kegiatan investasi asing. "Nantinya akan ada mutual benefit bagi semua yang terlibat. Investor asing dapat memberikan transfer of technology kepada pekerja lokal di daerah," ujar Alma.

Peluang di bidang pengolahan

Potensi perikanan Indonesia, selayaknya dipromosikan ke berbagai negara. Selain meningkatkan ekspor, kegiatan tersebut juga untuk menarik minat investor untuk menanamkan modalnya secara berkelanjutan, meski dalam masa pandemi covid-19.

Sesditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Berny A Subki memaparkan realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) di sektor kelautan dan perikanan hingga semester I-2020 didominasi oleh 6 negara. Menariknya, 5 di antaranya adalah dari Asia, yakni Tiongkok, Singapura, Thailand, India, dan Jepang dengan nilai mencapai Rp987,15 miliar

Dia memastikan, pemerintah berupaya untuk memberikan kemudahan bagi para calon investor, baik dalam maupun luar negeri, yaitu berupa penyederhanaan perizinan melalui OSS, pemberian kemudahan perpajakan yang diperluas (tax allowance), bebas bea masuk untuk peralatan pengolahan, hingga stimulus bagi pelaku usaha terdampak covid-19 agar mereka tetap survive.

"Wilayah Asia Timur sendiri memiliki realisasi investasi sebesar Rp639,29 miliar yang berasal dari Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Taiwan," terang Berny.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengolahan dan Bina Mutu Ditjen PDSPKP, Trisna Ningsih menyebut ada peluang besar di industri pengolahan yang masih belum banyak digarap, baik oleh investor dalam negeri maupun luar negeri. Industri tersebut di antaranya pengolahan hasil samping ikan, udang dan kepiting yang berupa kulit, isi perut, tulang dan kepala, cangkang, yang semuanya bisa menjadi peluang investasi.

"Dengan mengolah hasil samping tersebut menjadi produk bernilai tambah seperti gelatin, kolagen, kitin, kitosan, tepung ikan maupun bahan farmasi," terang Trisna.

Dikatakannya, estimasi potensi perikanan di 11 WPP sangat luar biasa besar yaitu berjumlah 12.541.438 ton yang dapat dimanfaatkan dengan baik. Selain itu, terdapat unit pengolahan ikan (UPI) skala menengah-besar yang tersebar di Indonesia. UPI ini, bisa memberikan suatu peluang kepada investor-investor dalam negeri maupun asing yang ingin bekerja sama di dalam industri pengolahan.

UPI tersebut di antaranya 324 UPI Tuna, 356 UPI Udang, 149 UPI Rajungan Kepiting, 36 UPI Rumput Laut. Ke depan, Trisna berharap ada investor yang ingin membangun industri pengolahan karageenan, alginat, farmasi, kosmetik dan bioteknologi yang berasal dari rumput laut sebagai bahan bakunya.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA