Wednesday, 28 Oct 2020
Temukan Kami di :
Opini

"Mencekik dengan Kain Sutera", Surat Terbuka Ratna Sari Dewi Soekarno kepada Tuan Soeharto

Indah Pratiwi Budi - 29/09/2020 07:30

Ratna Sari Dewi perempuan Jepang molek dan cerdas, istri Sang Proklamator nan Flamboyan Ir Soekarno, merupakan satu-satunya istri Presiden Republik Indonesia Bung Karno yang berani berbicara secara terbuka mengenai masalah politik Indonesia.

Dewi Soekarno merupakan salah satu saksi sejarah bagaimana komplikasi keadaan saat menjelang dan sesudah G30S PKI terjadi serta saat-saat berakhirnya kekuasaan Soekarno.

Bahkan, seperti dilansir oleh laman Historia.id, Dewi Soekarno sempat bertemu dengan Jenderal Soeharto di Lapangan Golf Rawamangun beberapa hari setelah keluarnya Supersemar.

Pertemuan ini menurut Probosutedjo, adik tiri Soeharto diatur oleh Bob Hasan. Dalam pertemuan tersebut Soeharto, memberikan 3 opsi kepada Dewi agar dipilih Soekarno terkait perkembangan situasi saat itu.

Pertama, Soekarno pergi keluar negeri untuk beristirahat, tetap tinggal sebagai Presiden namun hanya simbol saja, atau terakhir mundur total alias mengundurkan diri sebagai Presiden

Untuk rekomendasi pertama Soeharto menyarankan Soekarno untuk pergi ke Jepang atau ke Mekah sebagai tempat peristirahatan.

Menurut Sejarawan Jepang Aiko Kurosawa, tak jelas apakah Dewi menyampaikan 3 opsi tersebut pada suaminya atau tidak, namun yang jelas ia sadar bahwa implikasi dari keluarnya Supersemar itu sangat berat bagi Soekarno, dan ia merasa Soekarno sudah kalah.

Padahal sebelum pertemuan Dewi Soekarno masih yakin bahwa Soekarno dan kekuasaannya masih baik-baik saja.

Selanjutnya Dewi diketahui diminta dengan sangat oleh Suaminya, Soekarno untuk segera keluar dari Indonesia dan ia kemudian pergi ke negeri leluhurnya, Jepang dan disanalah Ratna Sari Dewi melahirkan putri tunggalnya dari pernikahan dengan si Bung Besar yang kemudian di beri nama Kartika Ratna Sari Dewi Soekarno dengan nama panggilan Karina.

Setelah itu Dewi menghabiskan hidupnya di luar Indonesia, namun ia masih terus memonitor kondisi suaminya di Indonesia.

Ketika ia berada di Paris Perancis, dan mendapat informasi kondisi suaminya terus memburuk pada tanggal 6 April 1970 ia menulis Surat Terbuka kepada Penguasa Orde Baru, Soeharto.

Seperti yang dilansir oleh laman dbnl.org mengutip terjemahan bebas William Oltman dari bahasa Belanda seperti bahasa yang dipakai Dewi dalam menuliskan surat terbuka tersebut.

Dalam surat tersebut, ia membuka suratnya yang sangat panjang tersebut sebagai ungkapan kegundahan dirinya terkait perlakuan Soeharto kepada suaminya dan situasi politik saat itu, dan ia nyatakan bahwa dirinya tahu apa yang sebenarnya terjadi kala itu.

Surat Terbuka dari Ratna sri Dewi Soekarno

Kepada

Tuan Presiden Soeharto

Tuan Presiden Soeharto,

Bersama ini saya ingin mengingatkan Tuan, segala sesuatu nampaknya oleh Tuan akan dilupakan.

Hal-hal yang akan dkemukakan ini saya anggap sebagai kewajiban, bagi saya untuk menjelaskannya secara benar, karena justru saya mengikuti peristiwa-peristiwa di Indonesia dari dekat.

Barangkali sementara orang berpendapat, akan lebih baik kalau saya diam seribu bahasa seperti 'sphinks' (arca batu di Mesir) mengenai hal ini.

Akan tetapi karena saya bertanggung jawab, maka saya harus melakukan hal ini, walau membawa resiko betapapun besarnya terhadap diri saya. Ini pun karena makin lama di seluruh dunia maupun di Indonesia sendiri ternyata banyak tersebar cerita-cerita palsu yang disebarkan tentang peristiwa-peristiwa di Indonesia itu, sehingga membeberkan keadaan sebenarnya merupakan kewajiban saya.

Karena itulah saya kirimkan Surat Terbuka ini Kepada Tuan, dalam kedudukan saya sebagai Warga Negara Indonesia.

Selain itu, Surat Terbuka yang saya kirimkan kepada Tuan termasuk segala isinya adalah sepenuhnya tanggung jawab saya dan tidak ada sangkut pautnya dengan Soekarno Presiden Republik Indonesia yang terdahulu.

Begitu Dewi Soekarno membuka surat terbukanya. Surat ini sangat panjang dibagian lain surat terbuka ini Dewi mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan Soeharto seperti Coup de Etat atau kudeta terhadap kekuasaan Soekarno.

Ia pun mengungkapkan informasi-informasi dari media asing terhadap kondisi Indonesia pasca G30S PKI terjadi.

Ia mengutip informasi dari koran-koran besar di Eropa hingga Amerika. Berita-berita mengenai "pembantaian" yang terjadi pasca G30S PKI, yang ia sebutkan menelan korban jiwa hingga 1 juta jiwa

Di bagian suratnya yang lain lagi, dan ini yang kemudian menjadi berbagai spekulasi dalam sejarah, ia mempertanyakan rentetan terjadinya gerakan 30 September 1965, apakah ini benar seperti itu kejadiannya atau akal-akalan Soeharto semata termasuk keterlibatan Jenderal A.H. Nasution dalam kejadian itu?

Di akhir bagian itu, Dewi menuliskan

"Apakah kiranya jawaban Tuan pada seluruh rakyat Indonesia, yang menduga bahwa dengan adanya tindakan cepat dari Tuan untuk membentuk kekuasaan 'orde baru' dalam situasi yang kacau balau itu, bukankah justru sebenarnya Tuanlah yang mempunyai semua rencana dn melaksanakan rencana 'Dewan Djenderal' itu?," tulisnya.

Di bagian akhir surat itu, Dewi kemudian menyampaikan kegundahannya atas perlakuan Soeharto yang menurutnya sangat kejam pada suaminya, dan pandangan dirinya terhadap sikap Soeharto.

Ia menyebutkan, Soeharto bisa saja menghancurkan jasmani Soekarno tapi tidak pikirannya.

"Tuan dapat saja menghancurkan jasmani Bung Karno, tapi Tuan tak akan pernah berhasil menghancurkan semangat dan jiwanya dalam membela keadilan dan kebenaran, semangat Bung Karno itu tak akan pernah mati."

Kemudian Dewi menuliskan istilahkan memakai pepatah jepang terkait perlakuan Soeharto kepada sang Proklamator

"Saya mengenal pepatah Jepang yang berbunyi, mencekik seseorang dengan kain sutera,"

Hal ini mengacu pada perbuatan Soeharto yang memperkenankan perlakuan buruk kepada Soekarno diakhir hidupnya yang membuat Soekarno tersiksa secara lahir maupun batin.

Dewi pun menulis bahwa Soeharto merupakan orang yang licik penuh muslihat, ia berujar

" ternyata dibalik senyuman Tuan itu, Tuan mempunyai hati yang kejam".

"Saya mengenal pepatah Jepang yang berbunyi, mencekik seseorang dengan kain sutera,"

Pada kalimat penutup surat terbuka tersebut Dewi Soekarno menulis.

Pada akhir Surat Terbuka ini, saya akan tutup surat ini dengan mengenang kembali kecintaan dan kemesraan saya yang paling dalam terhadap Bung Karno.

HI DUP BUNG KARNO

Paris tg. 6-4-1970

Tertanda :

Ratna Sari Dewi Soekarno.




Berita Lainnya

Jangan Panggil Mereka Ulama

27/10/2020 12:00 - Indah Pratiwi Budi

Ada yang Tidak Senang Jokowi Bangun Papua

27/10/2020 11:00 - Indah Pratiwi Budi

INI CERITA KENAPA KITA HARUS TETAP DUKUNG JOKOWI

26/10/2020 15:45 - Indah Pratiwi Budi

PRESIDEN JOKOWI CEKATAN DALAM BEKERJA

26/10/2020 11:11 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA