Monday, 26 Oct 2020
Temukan Kami di :
Ekonomi

Sri Mulyani: Indonesia Akan Resesi Ekonomi Akhir September Ini

Lukman Salasi - 22/09/2020 15:02

BeritaCenter.COM – Indonesia akhirnya menjadi salah satu negara di dunia yang masuk jurang resesi akibat pandemi COVID-19. Pada akhir September 2020 ini, Indonesia dipastikan alami resesi ekonomi.

Kepastian resesi ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani melalui video conference APBN KiTa, Selasa (22/9/2020). Menurutnya, ekonomi nasional pada kuartal III 2020 minus 1,7% sampai minus 0,6%.

"Forecast terbaru kita pada September untuk 2020 adalah minus 1,7% sampai minus 0,6%. Ini artinya, negatif territory kemungkinan terjadi pada kuartal 3," ucap Sri Mulyani.

Resesi adalah suatu keadaan ketika pertumbahan ekonomi minus selama dua kuartal beruturut-turut.

"Dan mungkin juga masih berlangsung untuk kuartal 4 yang kita upayakan bisa mendekati 0 atau positif," sambungnya.

Meski secara tahunan ekonomi nasional berada di zona negatif, Sri Mulyani mengaku angka proyeksi Kementerian Keuangan tidak sedalam proyeksi beberapa lembaga internasional.

"Semua forecast ini subject to atau tergantung pada perkembangan covid dan bagaimana ini pengaruhi aktivitas ekonomi," ungkapnya.

Lalu apa dampak dari resesi ini, para ekonom mengatakan, akan berdampak pada pelemahan daya beli hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Pastinya daya beli akan tambah melemah," kata Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto seperti dilansir detikcom, Selasa (22/9/2020).

"Ya dugaan saya, PHK akan terus berlanjut itu," sebutnya.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet juga menyatakan daya beli akan melemah.

"Nah karena belum pulihnya daya beli itu disebabkan oleh misalnya masyarakat yang belum mendapatkan pekerjaan, kemudian memang bantuan yang disalurkan pemerintah juga memang belum cukup untuk misalnya mendorong daya beli ke level sebelum adanya pandemi. Nah kalau menurut saya memang kita lihat dampak yang paling terasa tentu melemahnya daya beli," jelasnya.

Dia menerangkan bahwa imbas PHK di tengah resesi akan membuat jumlah pengangguran semakin bertambah.

"Dampak lain ialah potensi semakin bertambahnya jumlah pengangguran karena kalau kita melihatkan di beberapa survei BPS, khususnya beberapa hari ini disebutkan bahwa banyak sektor yang kemudian melakukan pemutusan hubungan kerja kepada karyawannya," tambah Yusuf.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA