Monday, 26 Oct 2020
Temukan Kami di :
Opini

BEDA LEVEL SYEIKH ALI JABER DENGAN RIZIEQ SHIHAB

Indah Pratiwi Budi - 19/09/2020 15:34

Kejadian penusukan terhadap Syekh Ali Jaber ketika sedang menyampaikan ceramah di salah satu masjid di Lampung beberapa hari lalu, sesungguhnya memberi pelajaran yang cukup berharga bagi kita. Kejadian itu mengajarkan kita tentang cinta kasih kepada sesama manusia, tentang tidak mendendam sekalipun disakiti, dan tentang ketulusan hati.

Ketika Syekh Ali ditusuk, bukan tidak bisa ia melawan. Dan dengan segala pengaruh yang ia miliki, bukan tidak bisa ia memerintahkan jemaah yang hadir untuk menghajar si pelaku. Namun, Syekh Ali menunjukkan kepada kita sikap dan keteguhan hatinya. Ia tidak terpancing emosi. Ia malah berbelas kasihan kepada orang yang telah menikamnya itu.

Dalam keadaan terluka, ketika darah mengucur dari lengannya membasahi jubah yang ia kenakan, ia masih menyempatkan diri berteriak kencang meminta para jemaah untuk menghentikan aksinya yang dengan refleks memukuli si penusuk. Ia tidak ingin si penusuk itu dilukai. Ia tidak ingin ada serangan balasan. Semuanya ia serahkan kepada penegak hukum.

Kenapa Syekh Ali Jaber bisa bersikap setulus itu? Dalam podcast Deddy Corbuzier yang menghadirkan Gus Miftah dan Syekh Ali Jaber sebagai bintang tamu, pertanyaan itu terjawab. Syekh berusia 44 tahun itu menyampaikan bahwa sepanjang hidupnya ia berusaha meneladani cara hidup Nabi Muhammad SAW. Baginda nabi adalah role model baginya.

Bagaimana Nabi Muhammad mengasihi dan menghormati sesamanya dan dapat hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda latar belakang dengannya, bagaimana Nabi Muhammad tidak mendendam dan dengan senantiasa mengampuni mereka yang berbuat jahat kepadanya, begitulah Syekh Ali Jaber ingin menghabiskan sisa masa hidupnya.

Itu pula alasannya kenapa Syekh Ali Jaber tidak berusaha membalas orang yang menjahatinya. Alih-alih membalas atau menyerang balik, ia justru menaruh rasa kasihan kepada si penikam itu. Ia merasa kasihan ketika melihat ia dihajar oleh jemaah yang hadir. Ia tidak ingin terjadi kericuhan. Ia tidak ingin terjadi keributan. Ia ingin semua tenang.

Syekh Ali Jaber sungguh memiliki akhlak yang sangat mulia. Sekalipun ia dalam posisi nyawanya sedang terancam, ia tetap tenang. Ia tetap menebar cinta dan kasih. Ia tetap memiliki hati yang teduh dan damai. Syekh Ali bahkan meminta agar kejadian yang ia alami itu tidak dikait-kaitkan dengan politik, agama, atau apa pun. Menyejukkan sekali bukan?

Berbeda jauh jika kita coba bandingkan dengan Rizieq Shihab, sosok yang merupakan panutan dan imam besar para kaum ekstremis kanan, yang oleh banyak orang dikenal dengan kelompok kadal gurun itu. Jika cara bicara Syekh Ali Jaber begitu tenang, adem, dan teduh, berbanding terbalik dengan Rizieq yang selalu bicara kasar dan provokatif itu.

Bayangkan saja. Kejadian itu dialami oleh Syekh Ali Jaber. Dan setelah kejadian itu ia berulang kali mengimbau agar semua tetap tenang, tidak terprovokasi untuk melakukan aksi atau demonstrasi, serta untuk tidak mengaitkannya dengan politik atau apa pun itu. Namun anehnya, justru Rizieq Shihab dan para pengikutnya yang seolah tidak terima.

Aneh bukan? Yang mengalami penusukan Syekh Ali Jaber tetapi justru Rizieq Shihab yang kebakaran jenggot. Dari tempat pelariannya ia bersuara keras. Bahwa yang melakukan aksi penusukan itu adalah PKI sebagai bentuk intimidasi kepada umat muslim. Apa? PKI? Tahu dari mana Rizieq? Seolah-olah ia begitu yakin bahwa pelakunya adalah PKI?

Sekali lagi, itulah beda kualitas moral seorang Syekh Ali Jaber dengan Rizieq Shihab. Syekh Ali Jaber berusaha menenangkan, mendamaikan, dan menjaga agar Indonesia tetap aman, agar Indonesia tetap bersatu. Sebaliknya Rizieq Shihab justru memanfaatkannya untuk membakar emosi para pengikutnya dengan mengeluarkan pernyataan provokatif.

Kemarin, sebagai imbas dari pernyataan Rizieq itu, sebuah video dari salah seorang pengikutnya, Ustaz Muhammad Yahya Waloni, yang berisi ajakan perang untuk melawan mereka yang ia sebut sebagai para kelompok bajingan dan munafik, beredar di media sosial. Dengan nada marah, ia menyebut bahwa ia siap mati di jalan Allah. Wow!

Syekh Ali mengajarkan cinta, kasih, damai, persatuan, toleransi, ketulusan, dan keikhlasan, tapi bukan dengan Rizieq Shihab. Ia mengajarkan kebencian, kekerasan, intoleransi, dan radikalisme. Syekh Ali Jaber begitu mencintai Indonesia sehingga ia memutuskan beralih kewarganegaraan dari warga negara Arab Saudi menjadi warga negara Indonesia.

Sebaliknya Rizieq Shihab, ia seorang warga negara Indonesia tapi ia ingin mendirikan negara baru di negeri ini, negara khilafah. Syekh Ali Jaber begitu menghormati pemerintah Indonesia, namun sekali lagi, tidak dengan Rizieq. Saban hari ia menebar fitnah, caci-maki, dan ujaran kebencian terhadap presiden dan seluruh aparat di bawahnya. Apa yang bisa kita simpulkan? Bahwa Syekh Ali Jaber beda level dengan Rizieq.

Salam Indonesia satu!

Dari laman Rizal Muhammad




Berita Lainnya

JOKOWI MENUJU CAHAYA

24/10/2020 10:08 - Indah Pratiwi Budi

Ini Bagian Kerja Nyata Presiden Kita H Ir Joko Widodo

24/10/2020 07:00 - Indah Pratiwi Budi

BEM SI ITU SIAPA?

23/10/2020 21:20 - Anas Baidowi

DEMO SEGENCAR APAPUN AKAN SIA-SIA TANPA DUKUNGAN RAKYAT

23/10/2020 12:18 - Indah Pratiwi Budi

1 TAHUN JOKOWI JILID II, KERJA KERAS TAK BOLEH BERHENTI

23/10/2020 10:35 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA