Saturday, 26 Sep 2020
Temukan Kami di :
Nasional

Cegah Penyakit Udang, KKP Kembangkan Laboratorium Bertaraf Internasional

Indah Pratiwi Budi - 15/09/2020 21:13

FOKUS : KKP

Beritacenter.COM - Indonesia dikenal sebagai salah satu eksportir udang terbesar di dunia. Bahkan komoditas ini telah diekspor ke berbagai negara seperti Amerika Serikat (66,06 %), Jepang (19,3 %), Uni Eropa (4,54 %), negara – negara ASEAN (2,17 %), Republik Rakyat Tiongkok (RRT) (1,95 %) dan ke negara lainnya (5,98%). Potensi tersebut juga masih bisa ditingkatkan mengingat kebutuhan pangan dunia cenderung mengalami kenaikan dalam hal konsumsi.

Guna menjaga geliat pasar ekspor sekaligus domestik, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendukung penuh peningkatan produksi udang yang berkualitas.

"Salah satu dukungan pemerintah adalah dengan mencegahan masuk dan tersebarnya penyakit yang menjadi ancaman bagi keberlanjutan industri udang di Indonesia," kata Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), Rina di Jakarta, Selasa (15/9).

Organisasi kesehatan hewan dunia (OIE) telah merilis daftar penyakit ikan dan udang yang harus diperhatikan oleh negara – negara anggota karena memiliki efek yang bersifat global (_infectious fish disease_). Penyakit-penyakit tersebut di antaranya _white spot syndrome virus_ (WSSV) dan _infectious hypodermal hematopoietic necrosis virus_ (IHHNV) pada udang.

Merespons hal tersebut, BKIPM telah menandatangani kerjasama dengan _The Yellow Sea Fisheries Research Institute_ (YSFRI), RRT atau laboratorium yang telah diakui dan ditunjuk oleh OIE sebagai acuan di wilayah Asia untuk penyakit WSSV dan IHHNV. Rina memaparkan kerjasama tersebut diimplementasikan dalam "_Twinning Laboratory Program_" antara BKIPM dengan YSFRI yang berlaku selama 3 tahun.

"Salah satu target utama kerjasama ini adalah BKIPM memiliki laboratorium berstandar internasional dan diakui oleh OIE untuk menjadi acuan bagi pengujian WSSV dan IHHNV di wilayah Asia Tenggara," terangnya.

Dikatakan Rina, penyakit ikan, termasuk udang telah menjadi tantangan global seiring dengan peningkatan produksi dan perdagangan produk perikanan antar negara. Bahkan banyak negara mengalami kerugian besar karena merebaknya penyakit ikan tertentu, baik yang berasal dari dalam negeri atau _endemic fish disease_, maupun penyakit ikan introduksi atau _exotic fish disease_ dan yang timbul sebagai akibat peningkatan perdagangan yang massif atau _transboundary fish disease_.

"Masuk dan tersebarnya penyakit–penyakit tersebut ke dalam suatu wilayah atau negara bukan hanya berbahaya bagi industri budidaya namun juga bagi kelestarian sumber daya hayati ikan, terutama plasma nutfah asli," urainya.

Rina memastikan, baik BKIPM, YSFRI dan OIE sepakat untuk tetap melanjutkan implementasi program meski dunia tengah dilanda pandemi Covid-19. Ketiga lembaga pun sepakat melakukan pembahasan secara virtual terkait sinkronisasi dan harmonisasi rencana aksi kerjasama bertajuk “_Consultation of the OIE Twinning Lab Program Plan of Action_” pada hari ini.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Pusat Standardisasi Sistem dan Kepatuhan, Teguh Samudro dan menghadirkan narasumber perwakilan internasional diantaranya Dr. Mariana Marrana dari Sekretariat OIE Paris serta para tenaga ahli penyakit ikan YSFRI RRT dibawah pimpinan ahli penyakit udang internasional Prof. Dr. Qingli Zhang.

"Intinya kita merespon cepat dan melaksanakan _early warning system_ dengan berupaya meningkatkan kapasitas laboratorium penguji penyakit udang yang valid dan berstandar internasional," tandas Rina.




Berita Lainnya

4 Alasan Penyebab PSBB Total Diperpanjang

25/09/2020 09:39 - Anas Baidowi
Kemukakan Pendapat


BOLA