Monday, 18 Jan 2021
Temukan Kami di :
Opini

CARA JOKOWI MEREDAM GATOT DAN MEREFORMASI TNI

Indah Pratiwi Budi - 22/08/2020 16:54 Ditulis oleh : Tito Gatsu

Saya ingat betul ketika Joko Widodo baru diangkat menjadi Presiden suasana politik langsung memanas terlebih lawannya adalah seorang yang sangat dekat dengan prajurit TNI, Prabowo Soebianto.

Saya bukan membanggakan diri jadi anak tentara tapi saya sangat faham doktrin di TNI apalagi pada saat kekuasaan Orde Baru, dimana terjadi perubahan Platform dari Nasionalis menjadi Nasionalis anti PKI , Pancasilais dan demokrasi terpimpin.


Banyak kalangan awam kurang mengerti tapi Itulah kenyataannya Karena semua harus sejalan dengan kekuasaan Orde Baru.

Loyalitas itu dibangun sejak seseorang masuk tentara bahkan seorang yang akan menyandang perwira tinggi terutama yang sudah menimba ilmu diluar Negeri harus Masuk lagi Sesko TNI dan Lemhanas untuk menjamin loyalitasnya terhadap Orde baru. tidak sampai disitu masih Ada Pola screening dan Dewan Pertimbangan Jabatan yang harus diketahui Presiden bila seseorang akan memegang jabatan strategis .


Ok saya tidak akan membahas Hal itu terlalu jauh hanya menggambarkan begitu kuatnya pengaruh Orde Baru di TNI.

Bisa dibayangkan sosok Jokowi yang tidak Pernah menjadi tentara tiba-tiba menjadi Panglima tertinggi di Negeri ini. Ketika beliau menjadi Presiden dia mengangkat Jendral Gatot Nurmantyo (GN) menjadi Panglima TNI.

Hal tersebut sangat diluar dugaan karena Gatot adalah Jendral yang dekat dengan para lawan politik Jokowi apalagi seharusnya menjadi jatah TNI AL bukan AD tapi itu adalah hak Prerogatif presiden .


Ketika Gatot menjadi Panglima TNI munculah rumor bahwa kekuasaan Jokowi diramalkan tidak akan sampai selesai akhir masa jabatannya , ada yang bilang tak akan sampai 3 tahun terlebih MenkoPolhukamnya adalah Laksamana Purn Tedjo Edhy Purdijatno adalah pesanan dari JK yang belakangan ternyata dekat dengan Cendana.,

Kita tentu ingat manuver GN ketika menjadi Panglima TNI dari mulai isyu PKI bangkit hingga menuduh Polri membeli senjata ilegal dan berindikasi melaksanakan Kudeta alasan-alasan tersebut adalah langkah Panglima TNI untuk mendapatkan mandat untuk menggerakkan pasukan tapi tak pernah berhasil (Pakde dilawan).


Akhirnya diketahui pemasok senjata ilegal itu adalah dari 3 jendral yang merupakan lawan-lawan politik Jokowi ,yaitu Mayjen Pur Kivlan Zen, Mayjen Pur. Soenarko dan mantan Kapolda Metro Komjen Purn. Sofyan Jacob yang pada akhirnya menjadi tersangka Makar.


Bisa dibayangkan jika mandat itu didapat bertepatan dengan Gerakan 212, GN mungkin akan jadi Presiden.

Akhirnya saya faham.kenapa Jokowi menunjuk GN sebagai Panglima TNI , rupanya beliau Ingin mereformasi Angkatan Darat, GN lebih mudah dipantau karena tanggung jawabnya langsung dibawah Presiden, kemudian mengangkat Mulyono yang relatif tidak banyak bermanuver sebagai KASAD dan mengangkat orang kepercayaannya Andika Perkasa sebagai Dan Paspampres.

Ketika muncul polemik pengangkatan Kapolri seharusnya Budi Gunawan yang dijatuhkan oleh KPK (yang saat itu Juga berpihak kepada lawan politiknya ) BG akhirnya menjadi Kepala BIN tentu jabatan yang dekat dengan presiden sambil berjalannya waktu mengorbitkan Tito Karnavian menduduki posisi Kapolri , kemudian Jokowi mengganti semua Direktur Badan Intelejen ABRI. (Hal ini disesali GN pada saat deklarasi KAMI.


Saya mulai berpikir ini adalah strategi jitu dimana ruang lingkup GN tidak akan leluasa , tidak lama kemudian Jokowi mereshufle kabinet dengan mengganti Tedjo dengan Wiranto .

Hmm sebuah langkah cerdas! Dalam jangka waktu 3 tahun beliau berhasil mereformasi Angkatan Darat dengan orang-orang dekatnya.Untuk Angkatan Udara seperti Kita ketahui KASAU saat itu adalah Marsekal Hadi Tjahjanto adalah orang dekat Jokowi begitupula dengan Angkatan Laut tidak begitu ada permasalahan.

Ketika peristiwa 212 GN tidak bisa leluasa mengorganisir pasukan TNI dan mandat menggerakkan pasukan tetap Ada pada presiden karena dia dikelilingi orang dekat Jokowi sehingga walaupun gerakan tersebut mampu melengserkan Ahok tapi tidak mampu melengserkan Jokowi walaupun dibantu kekuatan financial dan politik yang sangat kuat pada saat itu.

Yang pada akhirnya sebelum Pemilu 2019 GN digantikan oleh Hadi Tjahjanto., sebuah langkah matang yang sangat terencana dengan baik dan GN pun Tak mampu melakukan manuver apapun walaupun bersebrangan secara politik dengan Jokowi.

Tito Gatsu.




Berita Lainnya

Komnas HAM Buktikan FPI Miliki Senjata

16/01/2021 14:30 - Indah Pratiwi

Memotret Jejak Dakwah Syekh Ali Jaber

16/01/2021 13:37 - Indah Pratiwi

"Bullshit" Para Pembela Islam

16/01/2021 11:32 - Indah Pratiwi

DUKUNG KOMJEN POL LISTYO SIGIT PRABOWO

15/01/2021 15:20 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA