Wednesday, 30 Sep 2020
Temukan Kami di :
News

Selesai Uji Klinis, PCPEN Minta BPOM Terbitkan Izin Edar Obat Covid-19 Unair

Anas Baidowi - 15/08/2020 19:13

Beritacenter.COM - Obat Covid-19 merupakan hasil penelitian Universitas Airlangga (Unair) Surabaya bersama TNI Angkatan Darat (AD), Badan Intelijen Negara (BIN) dan Polri sedang dalam tahap periapan produksi.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa, yang juga Wakil Ketua I Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN) meminta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) agar segera menerbitkan izin edar obat tersebut.

"Hari Rabu saya menghadap Ketua BPOM itu dalam rangka secara resmi mohon dukungan untuk percepatan izin. Hanya izin edar," kata Andika saat acara penyerahan hasil uji klinis obat COVID-19 di Mabes TNI AD, Jalan Veteran, Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2020).

Andika menegaskan bahwa sudah tidak ada kendala dalam produksi obat tersebut. Rancangan proposal anggaran untuk pengadaan obat tersebut tengah dipersiapkan, sembari menunggu izin obat keluar.

"(Kemungkinan kendala lain) tidak ada. Makanya, untuk rencana produksi sekarang kita hadirkan Kimia Farma, lembaga farmasi Polri, lembaga farmasi AD, IDI, Apoteker Indonesia. Sekarang kita akan inventarisir, bahan bakunya apa saja. Ketua tim penelitiannya ada di sini, segera kita rencanakan, termasuk proposal anggaran dan detailnya sambil menunggu izin itu tadi," ujarnya.

Andika berharap agar izin obat tersebut segera keluar.

"Lebih cepat lebih bagus. Kalau bisa dalam waktu seminggu jadi, lebih bagus. Jadi, kita butuh solusi cepat," pintanya.

"Pengujian tidak ada (lagi). Jadi, hanya izin obat. Saya tidak tahu istilah terminologinya. Tapi itu, makanya, kami sudah langsung akan berbicara rencana produksi. Siapa membuat apa, yang akan membeli bahan baku bagaimana, kemudian anggaran dari pemerintahnya seperti apa," sambungnya.

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Obat COVID-19 Universitas Airlangga, dokter Purwanti mengatakan bahwa obat tersebut telah dilakukan uji klinis, termasuk kandungan dari obat itu sendiri, yakni hidrosiklorokuin hingga dosisiklin.

"Obat tersebut kita lakukan melalui beberapa uji, yaitu mulai dari uji in vitro sampai dengan dilanjutkan ke uji klinis fase 3. Di mana, uji in vitro yang kita lakukan, pertama kali adalah docking. Ada beberapa obat yang kita cek, yaitu hidrosiklorokuin, klorokuin, kemudian ada dosisiklin dan lain-lain," ungkap Purwanti.

Sambung Purwanti, obat tersebut merupakan gabungan dari beberapa obat antivirus dan juga antibiotik yang dikembangkan dengan melakukan penelitian lebih lanjut agar dapat mencegah virus berkembang biak di dalam tubuh.

"Jadi, di situ ada obat antivirus dan antibiotik tersebut, yaitu kita teliti untuk efeknya, hambatan, pada virus itu masuk ke dalam sel target dan juga hambatan untuk virus itu replikasi. Dan setelah itu juga hambatan terhadap proses tranpasi di dalam virus tersebut. Jadi, diharapkan jika virus itu masuk tidak bisa mengalami pembiakan," paparnya.




Berita Lainnya

Ridwan Kamil : Keluarga Saya Korban Kekejaman PKI

30/09/2020 13:53 - Baharuddin Kamal
Kemukakan Pendapat


BOLA