Tuesday, 29 Sep 2020
Temukan Kami di :
Opini

Makna Di Balik Pemberian Bintang Tanda Jasa untuk Duo Fadli-Fahri

Indah Pratiwi Budi - 12/08/2020 12:05 Oleh: Rudi S Kamri

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengumumkan bahwa Presiden Joko Widodo akan memberikan bintang tanda jasa Mahaputra Nararya kepada politikus Duo Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Ini tradisi biasa dalam rangka peringatan Kemerdakaan RI ke-75. Kemungkinan besar hal ini terkait dengan keduanya pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI.


Adalah hak penuh seorang Presiden untuk memberikan tanda jasa kepada siapapun yang dianggap berjasa untuk bangsa dan negara. Kewenangan seorang Presiden dalam memberikan penghargaan dan tanda jasa bahkan diatur dalam UUD 1945. Jadi berdasarkan perundang-undangan tidak ada secuil aturan yang dilanggar oleh Presiden Jokowi dalam memberikan penghargaan tanda jasa kepada Duo Fahri-Fadli.


Masalah apakah Duo Fahri-Fadli benar- benar telah berjasa kepada bangsa dan negara, itu sudah pasti akan menjadi diskursus dan perdebatan super panjang. Saya pribadi tidak melihat sebutir zarah pun kedua mahluk itu punya jasa untuk bangsa dan negara. Yang saya lihat justru keduanya sering membuat kegaduhan nasional yang diakibatkan oleh narasi yang dibangun oleh keduanya. Tapi sekali lagi ini soal perspektif. Perspektif saya sudah pasti berbeda dengan perspektif para pendukung kedua Duo Fahri-Fadli. Dan kemungkinan besar perspektif saya juga berbeda dengan pertimbangan seorang Presiden yang maha hebat.


Secara positif Presiden Jokowi telah bertindak arif sebagai Kepala Negara. Beliau terlihat telah dengan legowo melupakan cercaan dan hinaan yang pernah dilontarkan secara sporadis oleh Duo Fahri-Fadli sejak Pilpres 2014 sampai dengan beberapa hari lalu. Bahkan Presiden Jokowi tampak juga tidak peduli dengan sakit hati dari para pendukungnya atas ulah kasar Duo Fahri-Fadli. Apalah arti sakit hati para pendukung Jokowi yang telah gigih membela kehormatan Presiden Jokowi selama Pilpres sampai saat ini dibanding hak prerogatif seorang Presiden.


Sebagai pendukung Jokowi kita harus legowo menerima kenyataan pahit ini. Kita harus ikhlas menghantarkan Jokowi untuk menjadi Presiden selama dua periode. Setelah itu, kita juga harus ikhlas apabila Presiden Jokowi saat ini terlihat tidak ada beban dengan tidak perlu lagi memperdulikan sakit hati para pendukungnya atas ulah Duo Fahri-Fadli.


Lalu makna apa yang bisa kita ambil dari kebijakan seorang Presiden tersebut? Bagi saya tidak ada makna apa-apa. Biasa saja. Presiden Jokowi pasti punya perhitungan tersendiri tentang apapun kebijakan yang diambil. Termasuk upaya mereduksi serangan Duo Fahri-Fadli ke depannya. Semua orang pendukung Jokowi harus ikhlas dan menghargai hak seorang Presiden.


Tapi mohon maaf saya izin tidak ikhlas ya. Ini hak penuh saya juga bukan?


Salam SATU Indonesia
Oleh: Rudi S Kamri


Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengumumkan bahwa Presiden Joko Widodo akan memberikan bintang tanda jasa Mahaputra Nararya kepada politikus Duo Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Ini tradisi biasa dalam rangka peringatan Kemerdakaan RI ke-75. Kemungkinan besar hal ini terkait dengan keduanya pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI.


Adalah hak penuh seorang Presiden untuk memberikan tanda jasa kepada siapapun yang dianggap berjasa untuk bangsa dan negara. Kewenangan seorang Presiden dalam memberikan penghargaan dan tanda jasa bahkan diatur dalam UUD 1945. Jadi berdasarkan perundang-undangan tidak ada secuil aturan yang dilanggar oleh Presiden Jokowi dalam memberikan penghargaan tanda jasa kepada Duo Fahri-Fadli.

 


Masalah apakah Duo Fahri-Fadli benar- benar telah berjasa kepada bangsa dan negara, itu sudah pasti akan menjadi diskursus dan perdebatan super panjang. Saya pribadi tidak melihat sebutir zarah pun kedua mahluk itu punya jasa untuk bangsa dan negara. Yang saya lihat justru keduanya sering membuat kegaduhan nasional yang diakibatkan oleh narasi yang dibangun oleh keduanya. Tapi sekali lagi ini soal perspektif. Perspektif saya sudah pasti berbeda dengan perspektif para pendukung kedua Duo Fahri-Fadli. Dan kemungkinan besar perspektif saya juga berbeda dengan pertimbangan seorang Presiden yang maha hebat.


Secara positif Presiden Jokowi telah bertindak arif sebagai Kepala Negara. Beliau terlihat telah dengan legowo melupakan cercaan dan hinaan yang pernah dilontarkan secara sporadis oleh Duo Fahri-Fadli sejak Pilpres 2014 sampai dengan beberapa hari lalu. Bahkan Presiden Jokowi tampak juga tidak peduli dengan sakit hati dari para pendukungnya atas ulah kasar Duo Fahri-Fadli. Apalah arti sakit hati para pendukung Jokowi yang telah gigih membela kehormatan Presiden Jokowi selama Pilpres sampai saat ini dibanding hak prerogatif seorang Presiden.


Sebagai pendukung Jokowi kita harus legowo menerima kenyataan pahit ini. Kita harus ikhlas menghantarkan Jokowi untuk menjadi Presiden selama dua periode. Setelah itu, kita juga harus ikhlas apabila Presiden Jokowi saat ini terlihat tidak ada beban dengan tidak perlu lagi memperdulikan sakit hati para pendukungnya atas ulah Duo Fahri-Fadli.


Lalu makna apa yang bisa kita ambil dari kebijakan seorang Presiden tersebut? Bagi saya tidak ada makna apa-apa. Biasa saja. Presiden Jokowi pasti punya perhitungan tersendiri tentang apapun kebijakan yang diambil. Termasuk upaya mereduksi serangan Duo Fahri-Fadli ke depannya. Semua orang pendukung Jokowi harus ikhlas dan menghargai hak seorang Presiden.


Tapi mohon maaf saya izin tidak ikhlas ya. Ini hak penuh saya juga bukan?


Salam SATU Indonesia


(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)


(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)




Berita Lainnya

JOKOWI LAYAK MENJADI BAPAK INFRASTRUKTUR

28/09/2020 07:30 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA