Saturday, 15 Aug 2020
Temukan Kami di :
News

RISET MEMBUKTIKAN! Penangkapan Benih Lobster Tak Berdampak Negatif Pada Populasi Lobster

Baharuddin Kamal - 31/07/2020 12:49

FOKUS : KKP
Beritacenter.COM – Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo telah mencabut Permen KP 56/2016 era Susi Pudjiastuti karena dampaknya sangat merugikan ribuan nelayan. Menteri Edhy menggantinya dengan Permen KP 12/2020.

Kebijakan era Susi itu mengakibatkan ribuan nelayan hilang mata pencaharian dan jatuh miskin. Pengusaha kecil dan besar mengalami kebangkrutan. Kerugian yang paling besar akibat terbitnya Permen KP 56/2016 adalah terhentinya kegiatan budi daya dan penelitian untuk mendukung kemajuan perikanan budi daya. Malah, penyelundupan benih bening lobster ke luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pasar gelap justru sangat mendominasi. Manfaat terbesar sumber daya justru dinikmati oleh pelaku pasar gelap.

Tak terima kebijakannya dianulir menteri Edhy, Susi lantas melakukan penggiringan opini terhadap kebijakan Menteri Edhy tersebut. Penangkapan benih lobster diisukan oleh Susi akan menimbulkan dampak negatif pada populasi lobster dewasa. Seolah-olah lobster adalah biota yang terancam punah. Isu lainnya adalah penangkapan bayi-bayi lobster itu tidak ramah lingkungan. Kemudian soal budi daya lobster itu yang disebut sulit.

Isu yang dimainkan Susi ternyata tidak benar dan terbukti hanya penggiringan opini tanpa dukungan data ilmiah. Hal ini berdasarkan penelitian lobster yang dilakukan Aciar SMAR/2008/021 bekerjasama dengan DJPB KKP.

Penelitian Aciar yang dikutip Tim BC, Jumat, 31 Juli 2020, menegaskan bahwa budi daya lobster di Vietnam dengan tangkapan benih bening lobster di alam sudah dibangun dan berkelanjutan sejak 25 tahun yang lalu.

Kegiatan ini ternyata tidak menunjukkan tren penurunan produksi lobster dewasa di alam dan tidak mengubah level populasi lobster dewasa di alam. Vietnam juga memiliki sumber daya benih bening lobster lokal di negaranya sendiri yang sudah dikelola dengan cerdas sejak 1990-an.

Perlu dipahami bahwa penangkapan benih bening lobster tidak berpengaruh pada perikanan tangkap lobster dewasa. Malah, penangkapan benih bening lobster dapat memberikan manfaat yang signifikan pada produksi lobster melalui industri budi daya. Justru yang menurunkan populasi lobster dewasa secara drastis adalah penangkapan induk lobster yang bertelur!

Penelitian dari Aciar itu juga mengungkapan data bahwa populasi lobster (spesies yang diteliti adalah Panulirus ornatus dan Panulirus homarus), adalah homogen di seluruh distribusi regionalnya (Dao, et al., 2013). Durasi perkembangan larva yang berlangsung lama dari tahap telur hingga menetas, dengan mode planktoniknya di lautan, membuat kapasitas penyebarannya sangat besar. Arus laut yang spesifik memungkinkan larva lobster yang ditelurkan di Australia terdeposit (mendarat) di pantai Timur Filipina, dan dari Filipina ke Vietnam atau Lombok.

Pasti ada kemungkinan pemijahan lobster dewasa di setiap bagian dari distribusi regional -mulai dari Taiwan di utara ke Australia di selatan, dan dari Sumatera Barat di barat ke Kepulauan Solomon di timur, dapat mengakibatkan pueruli terdeposit ribuan kilometer jauhnya (Dao, et al., 2015).

Melalui penelitian Aciar ini, teridentifikasi jalur utama untuk penyebaran larva lobster yang sesuai dengan arus laut utama di wilayah tersebut. Namun, ini hanyalah jalur primer, dan masih ada banyak jalur tambahan lainnya yang tersedia melalui banyak pusaran arus dan sub-arus yang diketahui ada. Jadi, baik Lombok atau Vietnam atau bahkan lokasi “pendaratan” benih bening lobster lainnya di regional ini, kemungkinan menerima pasokan benih dari beberapa populasi dewasa yang berbeda sumbernya.

Seharusnya, dampak penangkapan benih harus dipertimbangkan berdasarkan ketersediaannya secara regional. Jadi, sumberdaya ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk dikelola dengan baik.

Sifat biologi dan ekologi lobster yang terbukti unik, membuat pengelolaan harus didasarkan atas sifat perilakunya ini di alam. Mengingat fakta populasi alam untuk lobster dewasa Pornatus di Vietnam dan P. homarus di Lombok sangat rendah, hal ini membuktikan bahwa populasi
 
dewasa lokal tidak secara langsung terkoneksi dengan kemelimpahan benih yang “mendarat” di sana.

Artinya, banyaknya lobster dewasa di suatu wilayah tidak membuat otomatis benih lobsternya juga melimpah. Ini berkaitan dengan fenomena “sink dan source” dalam pola penyebaran benih bening lobster secara natural. Fenomena “sink” memungkinkan benih bening lobster terdeposit dalam jumlah sangat melimpah di suatu area tertentu. Namun, populasi dewasa di daerah itu sangatlah rendah. Fenomena “sink” sangat dipengaruhi oleh pola arus regional dan kondisi geografis alam regional.

Mengidentifikasi secara akurat populasi lobster mana yang memijah yang telah “mengirimkan” benih-benihnya ke Vietnam dan Lombok hampir tidak mungkin dilakukan. Namun, sumber daya benih bening lobster yang melimpah di beberapa titik di WPPNRI, kemungkinan besar tidak berkontribusi secara signifikan pada populasi adanya lobster-lobster yang memijah tersebut.

Artinya munculnya lobster-lobster dewasa itu tidak bisa disimplifikasi sebagai buah dari banyaknya benih lobster di wilayah itu. Kembali ke teori “source dan sink” tadi. Ini menunjukkan kalau kelangsungan hidup alami dari benih hingga dewasa sangatlah rendah.

Di Lombok sendiri, terdapat setidaknya lima juta ekor benih yang tertangkap setiap tahunnya. Walaupun jumlah riil di alam yang tidak tertangkap bisa mencapai beberapa puluh kali lipatnya. Sehingga dapat diestimasi kalau kurang dari 0.01% nya (500 ekor) dari lima juta ekor benih itu akan bertahan hingga ukuran dewasa di alam.

Pengelolaan keberadaan benih-benih tadi untuk pengembangan industri budi daya lobster, dengan asumsi sintasan 70% (seperti budi daya lobster di Vietnam), malah akan mengembangbiakan produksi atau sejumlah 1.750 ton lobster ukuran konsumsi (250-300 gram per ekor). Ini dapat bernilai Rp1 triliun, dan punya arti sangat penting karena memberi alternatif lapangan pekerjaan bagi ribuan masyarakat kita di pesisir.

Dengan demikian, berdasarkan riset ilmiah yang dilakukan Aciar ini menegaskan bahwa penangkapan benih lobster untuk mendukung industri budidaya lobster yang berkelanjutan tidak mengganggu lingkungan. Manfaat ekonomi dan lapangan kerja yang besar dalam mata rantai industri budidaya serta minimnya dampak lingkungan dari penangkapan benih lobster, membuat sektor ini dapat digarap lebih serius ke depan.



Berita Lainnya

Akhir Pekan, Prediksi Cuaca di Jakarta

15/08/2020 07:01 - Dewi Sari
Kemukakan Pendapat


BOLA