Monday, 30 Nov 2020
Temukan Kami di :
News

BMKG Pastikan Banjir Bandang di Luwu Utara Tak Terkait Gempa Tektonik

Hasil monitoring BMKG menjelang terjadinya banjir bandang juga tidak mencatat adanya aktivitas gempa tektonik di wilayah Kabupaten Luwu Utara. Sehingga peristiwa banjir bandang yang terjadi tidak ada kaitannya dengan kejadian longsoran yang diakibatkan gempa

Aisyah Isyana - 21/07/2020 09:50

Beritacenter.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) angkat bicara soal banjir bandang di Luwu Utara, Sulawesi Selatan. BMKG menyebut banjir itu tak dipicu oleh longsor akibat gempa tektonik, melainkan karena curah hujan yang tinggi.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, turut menjabarkan sejumlah getaran gempa yang sempat terjadi di Luwu Utara, yakni gempa Luwu Utara 25 Agustus 2017 (M 4,3) dirasakan III MMI, gempa Luwu Utara 8 April 2020 (M 5,0) dirasakan II MMI, gempa Luwu Utara 11 April 2020 (M 4,2) dirasakan II MMI, dan gempa Luwu Utara 13 Juni 2020 (4,2) dirasakan II MMI.

Baca juga :

Rahmat menyebut gempa skala II MMI masuk dalam kategori getaran ringan. Menurutnya, getaran gempa dengan skala itu masih belum dapat memicu terjadinya longsor.

"Hasil monitoring BMKG menjelang terjadinya banjir bandang juga tidak mencatat adanya aktivitas gempa tektonik di wilayah Kabupaten Luwu Utara. Sehingga peristiwa banjir bandang yang terjadi tidak ada kaitannya dengan kejadian longsoran yang diakibatkan gempa," kata Rahmat Triyono dalam keterangannya, Selasa (21/7/2020).

Menurutnya, penyebab terjadinya banjir bandang di Luwu Utara, merupakan akumulasi curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Terutama hujan yang melanda di wilayah perbukitan di Masamba.

"Berdasarkan pengukuran hujan yang sampai ke bumi dan estimasi dari satelit cuaca memperlihatkan bahwa salah satu penyebab terjadinya banjir bandang di Luwu Utara pada tanggal 13 Juli 2020 adalah akumulasi curah hujan yang terjadi dalam beberapa hari sebelumnya dengan intensitas sedang hingga lebat yang turun di wilayah Masamba dan sekitarnya, terutama di wilayah perbukitan sebelah utara dan timur laut," ujarnya.

Rahmat menilai, perlu dilakukan kajian komprehensif guna mengetahui penyebab terjadinya banjir bandang tersebut. Rahmat mengatakan, perlu data lapangan terutama soal kondisi daerah aliran sungai (DAS) dan kondisi lahan di wilayah hulu.

"Untuk mengetahui penyebab banjir bandang yang sesungguhnya, diperlukan kajian yang komprehensif berdasarkan data lapangan, khususnya kondisi daerah aliran sungai dan kondisi lahan di wilayah hulu, apakah terjadi penggundulan hutan atau konversi lahan yang dapat memicu terjadinya peningkatan aliran permukaan (run off) sehingga memicu terjadinya banjir bandang," jelasnya.

Untuk diketahui, banjir bandang yang terjadi di ibu kota Kabupaten Luwu Utara, yakni di Masamba dan sekitarnya, Senin (13/7), mengakibatkan sejumalh rumah warga terendam. Bankir juga mengakibatkan puluhan warga meninggal dan hilangnya puluhan warga.




Berita Lainnya

Polisi Kirim Surat Cinta ke Rizieq

29/11/2020 18:31 - Anas Baidowi
Kemukakan Pendapat


BOLA