Tuesday, 11 Aug 2020
Temukan Kami di :
Opini

SABDA BUNGSU SANG PANGERAN, "KORUPSI SEKARANG LEBIH PARAH..!!"

Indah Pratiwi Budi - 13/07/2020 17:40

Si putra bungsu itu pernah bilang bahwa korupsi sekarang lebih parah.

"Lebih parah dibanding jaman bapaknya?"

"Bisa dibilang kesana arah omongan ini."

"Haahh, beneran seperti itu?"

Namanya ngomong, ya suka-suka aja lah!! Tapi benar ga seperti itu, harus berangkat dari data, ga boleh asal "njeplak".

Menurut Stephen Vickers, kepala Kroll Associates untuk Asia, yang pernah dilibatkan menyelidiki kekayaan salah satu koruptor terbesar di dunia, Presiden Filipina Ferdinand Marcos, potensi korupsi jaman "bapaknya" jauh lebih besar.

Lalu koresponden TIME menemukan indikasi bahwa setidaknya $73 miliar telah mengalir dalam keluarga antara tahun 1966 dan 1998. Sebagian besar jumlahnya berasal dari industri pertambangan, kayu, komoditas, dan perminyakan.

"73 miliar dolar, duit semua itu? Ribu triliun itu, emang dagang apaan?"

Mereka memegang monopoli atas distribusi dan impor komoditas utama. Mereka dapat pinjaman bank dan berbunga sangat rendah dengan berkoordinasi dengan bankir yang berkuasa. Direktur atau pejabat bank yang menolak, pecat?

Hal ini pernah dikatakan oleh direktur pengelola Bank Indonesia tahun 1998-2000.(TIME)

Menjadi wajar bila bank pun pada akhirnya, seringkali merasa takut untuk menagih pembayaran atas hutang mereka. “ada lingkungan yang menyulitkan bank-bank negara untuk menolak mereka.” demikian dikutip oleh majalah TIME.

"Masa duit pinjaman semua? Ga pakai modal sendiri? Modal dengkul dong?"

Masa penguasa modal dengkul? Ga mungkinlah.. landasan kekayaan si bapak adalah yayasan presiden.

Puluhan yayasan didirikan, seolah-olah sebagai amal, dan mereka sebenarnya telah mendanai sejumlah besar rumah sakit, sekolah dan masjid.

Tetapi yayasan-yayasan itu juga merupakan dana gelap raksasa untuk proyek-proyek investasi keluarga dan kroninya, serta untuk mesin politik (Golkar saat itu).

Menurut George Aditjondro, seorang dosen sosiologi di Universitas Newcastle Australia, yayasan itu berjumlah 97.

Yayasan itu dikendalikan oleh bapak, istrinya, kerabatnya di pedesaan, sepupunya, dan saudara tirinya, anak-anaknya berikut pasangan mereka.

Yayasan menerima “sumbangan,” meskipun seringkali diberikan tidak dengan sukarela.

Mulai tahun 1978, semua bank milik negara di haruskan memberikan 2,5 present dari keuntungan mereka kepada dua yayasan terbesarnya, itu menurut mantan Jaksa Agung waktu itu loh.

Bahkan berikutnya, keputusan si bapak Nomor 92, pada tahun 1996, mensyaratkan bahwa setiap pembayar pajak dan perusahaan yang menghasilkan lebih dari $40 ribu pertahun wajib mensumbangkan dua present dari pendapatannya ke yayasannya yang lain lagi.

Bayangkan saja berapa duit yang bisa di keruk hanya dari ke bijakannya saja.

Pada tahun 1978, yayasan-yayasan tersebut mengkuasai 60 persen dan kemudian naik lagi menjadi 87% saham Bank Duta, bank swasta terkemuka, menurut mantan pejabat Bank Duta.

Yayasan ini banyak berinvestasi di perusahaan swasta yang didirikan oleh anggota keluarga dan para kroninya. Kementerian atau BUMN diarahkan membantu dan memberikan kontrak atau monopoli kepada perusahaan-perusahaan tersebut. Bila tidak, PECAT?

"Terus gimana cerita si bungsu bisa bilang korupsi sekarang lebih parah?"

Tanyakan saja pasa mas Ebit, pasti jawabnyabada pada rumput yang bergoyang.

.

.

.

Rahayu

Ditulis Oleh : Karto Bugel

 

Sumber : matamatapolitik

 




Berita Lainnya

Jenderal Andika Memang Perkasa

10/08/2020 16:00 - Indah Pratiwi Budi

Jokowi dan Papua

10/08/2020 15:00 - Indah Pratiwi Budi

Jangan DIAM, Tapi Terus BERGERAK Lawan Pembenci JOKOWI

08/08/2020 08:44 - Indah Pratiwi Budi

PRESIDEN JOKOWI SELALU KEDEPANKAN RAKYAT DALAM BEKERJA

08/08/2020 07:00 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA