Friday, 14 Aug 2020
Temukan Kami di :
Nasional

Surat Terbuka! Alumnus Tempo Marah Besar ke Jurnalis Tempo Saat Ini

Lukman Salasi - 09/07/2020 13:40

FOKUS : KKP

BeritaCenter.COM – Seorang alumnus Tempo yang menyebut dirinya Bunga Kejora (dulu bernama gadis Bunga Surawijaya) mengungkapkan kemarahannya pada Jurnalis Tempo saat ini.

Ia menyampaikan keritikannya agar jurnalis Tempo era kini tidak menghakimi, menonopoli kebenaran atau melacurkan diri.

Saya syok ketika membuka pesan whatsapp dari seorang kawan tadi pagi. Ada sampul majalahTempo dengan gambar Menteri KKP Edhy Prabowo sedang memasukan secara berlebihan benih lobster ke dalam mulutnya ( edisi 6-17Juni 2020)

Disainer grafis pasti direkrut sebagai pekerja profesional di kantor Tempo. Tapi bagaimana dia membuat cover, pastilah atas arahan dari tim redaksi. Redaktur pelaksana yg kemudian memberi persetujuan atas hasil visualisasi disainer grafis itu untuk cover .  

Mengapa saya dari awal harus menggambarkan proses ini, karena saya sering kesal mendengar jawaban “orang Tempo” ketika ada kritik atau sikap keberatan atas covernya.

Argumen mereka enteng, tanpa hati, dari tahun ke tahun, "Ah itu kan soal intrepretasi saja. Tafsiran seni grafis, dan kesan pembaca bisa macam-macam".  

Saya tidak sudi menerima alasan usang itu.

Sebagai seorang yang lahir dari keluarga seniman, dan mantan TEMPO, saya menyayangkan bahwa TEMPO telah membuat seorang disainer melacurkan diri untuk menggambar " sebuah vonis yang menghina lewat karikatur".

Jelas ini vonis. Terang benderang bahwa gambar dalam cover Tempo edisi itu adalah ilusi tentang keserakahan.

Saya alumni Tempo juga, tapi di era ketika para senior seperti Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Toeti Kakiailatu dan lainnya masih aktif di meja redaksi. Awal tahun-tahun pertama dari 11 tahun belajar di Tempo itu, keras betul GM mengajarkan perlunya skeptis terhadap info yang masuk, tidak memihak, tidak memonopoli kebenaran.

Biarkan pembaca menilai, dan untuk menguatkan independensi, jelas kami dilarang menerima amplop.

Itu nilai-nilai yg ditanamkan, selain ketrampilan menulis, tentu saja.  

Puluhan tahun berlalu, saya terhenyak (lagi) atas kenyataan nilai-nilai baik dari GM utamanya, tidak menitis sampai ke redaktur Tempo tahun ini,2020.

 

Membenci; bukan pekerjaan jurnalis, bahkan di saat kita melihat masih banyak orang-orang kekurangan di sekitar kita.

Menghasut, juga bukan tugas wartawan berintegritas. Apalagi, menghina seseorang hanya karena tak mampu melihat persoalan dari berbagai sudut, tidak mampu obyektif. Kehormatan jurnalistik terabaikan dan tergadaikan.

Tentu saya tidak bisa membandingkan situasi dulu dan sekarang, ketika di jagat media belum ada persaingan yg begitu ketat,termasuk dengan media sosial, yang membuat pimpinan Tempo kini seperti justifies the means hanya untuk memenangkan pasar. Belum ada model farming di era 80-90 an TEMPO.  

Tapi pantaskah berdagang tanpa integritas-apa masih bisa menjadi pembeda dengan jurnalis bodrex,jurnalis pesanan, jurnalis malas, jurnalis diduitin, jurnalis antek pihak tertentu.

Yang membuat jurnalis masih bisa dihormati adalah ketika dia membaca dan memahami dengan integritas pribadi seluruh info dengan sikap tidak memihak.  

Dalam kasus menteri kelautan dan perikanan, sudah dapat infokah kalian bahwa BENIH lobster bukan hewan langka seperti komodo atau badak bercula satu.

Benih lobster ada 27,8 Milyar di lautan kita. Tahu kan benih lobster itu berasal dari telur lobster yang milyaran jumlahnya? Dari setiap10 ribu benih loster, ulang ya 10 ribu, hanya 1 yang survive untuk membesar sebagai lobster. Sisanya 9999 lainnya mati di alam.

Itulah yang dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan di bidang kelautan dan perikanan. Bukan hanya satu mulut.  

Mungkin karena kalian; reporter dan redaktur belum kenal ratusan ribu keluarga nelayan; bapak, ibunya, anak-anaknya pernah suatu masa berhutang budi pada benih lobster karena telah memanjangkan nafas ekonomi keluarganya. Saat pulang sekolah, anak-anak mengais benih lobster dengan alat tangkap berbentuk kipas.

Tentu saja ada eksportir gemuk yang diuntungkan, karena uangnya diperlukan untuk membeli ribuan benih lobster dari nelayan.  

Lalu apa? Taukah juga bahwa di jaman menteri Susi – yang sudah kalian tempatkan lebih mulia daripada menteri penggantinya, nelayan yang berkulit gosong dan bersimbah peluh itu, TIDAK BOLEH mengambil benih lobster dan lobster muda untuk dikembang biakan di kolam tambak mereka?  

Coba pikir lagi, kalau boleh memanfaatkan, memperjual belikan si bening dengan aturan ketat, benarkah semua keuntungan itu masuk ke mulut pimpinan yang oleh hukum tata negara ditempatkan sebagai pimpinan kementerian yang bertanggung jawab sebagai regulator dan fasilitator.  

Jelaskan, jelaskan logikanya sebelum mempertontonkan pada publik prasangka tanpa hati.  

Bodoh itu tidak berdosa. Tapi kalau ada wartawan Tempo malas berfikir, dan punya kepentingan tersembunyi di atas harga dirinya sebagai wartawan, saya merasa seperti ditelan bumi.

Mari, para alumni Tempo kita ajak anak-anak kita mengembalikan marwah rumah TEMPO, yang dulu disebut sekolah terbaik wartawan, agar kita bisa menegakkan kepala kita kembali sebagai alumni TEMPO.

5 Juli 2020

Bunga Kejora (dulu bernama gadis Bunga Surawijaya)




Berita Lainnya

KPK Kembali Tahan Eks Bupati Bogor Rachmat Yasin

13/08/2020 20:54 - Baharuddin Kamal
Kemukakan Pendapat


BOLA