Tuesday, 07 Jul 2020
Temukan Kami di :
Opini

RANCANGAN / SKENARIO "KERUSUHAN 98" DIBALIK FRAMING JOKOWI OTORITER

Indah Pratiwi Budi - 25/06/2020 11:00 Oleh : Budiman

Yang membedakan antara pendukung Jokowi dan pendukung lawan Jokowi, jika saya boleh membuat penilaian pribadi, adalah radikalisme. Jika Jokowi tidak menang pemilu, saya yakin tidak akan ada semangat dari pendukung Jokowi untuk menggoyang pemerintahan yang terpilih. Sebagai warga negara yang baik, kita akan menerima hasil pemilu meskipun tidak sesuai dengan kehendak kita.

Ambil contoh ketika Ahok kalah pada Pilkada Jakarta oleh Anies. Apakah ada aksi protes yang keras dari para pendukung Ahok, yang saya yakin sebagian besar adalah pula pendukung Jokowi? Tidak ada. Mereka menerima saja meskipun Ahok diserang dengan kampanye hitam yang jelas-jelas tidak bermoral. Paling jauh, mereka hanya melakukan kumpul dan menyalakan lilin. Damai, santun, jauh dari ujaran-ujaran kebencian dan keinginan untuk merusak.

Kita tidak terobsesi dengan kekuasaan. Jika ada calon yang bagus, kita perjuangkan sebisanya. Tetapi jika kalah, ya sudah. Berbeda dengan kelompok seberang yang berontak dan tidak mau terima jika kalah. Mencari beragam alasan untuk membatalkan hasil pemilu, dan merencanakan penggulingan pemerintahan ketika upaya pertama gagal.

Bahkan pada periode pertama, pihak oposisi bahkan dengan berani meramalkan bahwa pemerintahan Jokowi akan tumbang sebelum masanya selesai. Pernyataan yang mencurigakan, karena disampaikan dengan sikap yang begitu yakin. Kita tahu, bahwa sesuatu hanya bisa betul-betul kita yakini jika kita sendirilah yang melakukannya. Seperti jika saya bilang bahwa piring di atas meja akan pecah, maka saya bisa sangat yakin jika saya sendirilah yang nanti memecahkannya.

Upaya makar pada periode pertama Jokowi malah pernah ditulis oleh seorang jurnalis asing bernama Allan Nair. Upaya makar itu sendiri dilakukan diam-diam dengan menunggangi kasus Ahok yang saat itu dituduh melakukan penistaan agama. Ujungnya, tertangkaplah banyak nama dan tokoh yang terbukti melakukan pertemuan-pertemuan rahasia dan seruan untuk menggulingkan pemerintah.

Meski gagal, aksi-aksi 212 tidak berhenti begitu saja, padahal Ahok sudah dipenjara. Apa alasannya? Bukankah tidak masuk akal lagi demo-demo 212 itu? Kembali, alasannya adalah menyerang Jokowi. Buktinya, demo-demo tersebut tidak luput dari seruan-seruan dan spanduk yang mengajak untuk menggulingkan presiden.

Pada 2019, mereka ramai-ramai berusaha menolak pelantikan Jokowi sebagai presiden, bahkan terjadi kerusuhan yang cukup mengerikan pada masa-masa tersebut. Prabowo bahkan harus turun tangan untuk menenangkan masa yang sudah terprovokasi. Kembali, usaha itu gagal.

Jokowi tidak bisa dijatuhkan begitu saja karena ia terpilih secara jurdil dalam pemilu. Selain itu, Jokowi tidak memiliki celah untuk diserang sebagaimana massa menjatuhkan Soeharto pada 1998 lalu. Karena itulah, pihak lawan Jokowi saat ini sedang membangun celah untuk disematkan ke Jokowi. Yaitu sebuah frame bahwa Jokowi represif, bahwa Jokowi otoriter.

Untuk itu, mereka perlu menciptakan kondisi yang mendukung, dan media sosial adalah senjata utamanya dalam mengiring opini. Dulu, framing Jokowi anti-Islam yang dikibarkan, tetapi tidak berhasil. Kini, Jokowi otoriter.

Berkaca pada penggulingan Soeharto, mereka melihat bahwa yang mereka butuhkan adalah kekuatan buruh dan mahasiswa. Selain itu, mereka merasa telah memiliki kelompok radikal berbalut agama yang siap menjadi mesin penggerak massa.

Ancaman-ancaman tidak jelas terhadap kelompok mahasiswa dan orang-orang yang mengkritik kerja pemerintah pun bermunculan. Seolah pemerintah antikritik, padahal tidak pernah terbukti siapa pelakunya. Saya yakin pelakunya mereka sendiri, karena kalau pemerintah mau, ada lebih banyak orang yang kritiknya lebih keras dan vokal kepada pemerintah, dan mereka hidupnya nyaman-nyaman saja.

Misalnya pengancam Bintang Emon, seorang komika yang mengkritisi persidangan kasus Novel, diancam oleh akun Twitter baru yang hanya punya satu pengikut. Siapa saja bisa melakukan pengancaman tersebut, tetapi secara logika, orang akan mengarahkan telunjuknya ke pemerintah. Seolah Jokowi melakukan pembungkaman.

Penggiringan opini itu pun semakin terlihat jelas ketika mereka memasang gambar Bintang Emon yang disejajarkan dengan aktivis-aktivis pada masa Orba yang memang betul-betul dibungkam. Framing yang begitu dipaksakan, tetapi bisa laku bagi mereka yang sejak awal antipemerintah.

Menurut Denny Siregar dalam videonya di CokroTV, upaya menyeret Bintang Emon ke dalam masalah ini adalah untuk menarik perhatian anak muda, khususnya mahasiswa. Dan puncaknya adalah ketika akan disahkannya undang-undang Omnibus Law. Undang-undang itu akan dijadikan sebagai provokasi untuk memanas-manasi buruh sehingga mereka melakukan aksi demo besar-besaran.

Aksi demo buruh, ditambah dukungan mahasiswa, dan ditambah lagi dengan kelompok Kadrun yang sudah lama kejang-kejang menyaksikan negara ini dipimpin Jokowi, adalah perpaduan yang lengkap untuk menciptakan skenario kerusuhan besar seperti pada tahun 1998.

Untuk sekarang, mereka akan terus mencari-cari bahan dan memaksakan penggiringan opini bahwa Jokowi otoriter. Kasus salah tulis oleh media-media besar tentang perintah PTUN supaya Jokowi minta maaf karena dianggap melakukan pemblokiran internet di Papua tahun lalu, adalah tanda-tanda bahwa ada yang tidak beres, karena bahkan media besar pun telah termakan oleh framing mereka. Seolah mereka pun mempercayai, bahwa Jokowi memang otoriter.

Karena itu, kitalah yang sekarang harus turun tangan. Perang medsos tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika kita lengah, merekalah yang akan berkuasa dan menjatuhkan pemerintahan yang sah. Tentu, mengerikan sekali jika hal itu terjadi..




Berita Lainnya

JOKOWI Akan Menyusul Jejak Dua Presiden Ini....

07/07/2020 01:46 - Indah Pratiwi

Ini memang salah Jokowi

05/07/2020 09:23 - Indah Pratiwi Budi

SUSAHNYA JADI SEORANG JOKOWI

05/07/2020 04:13 - Indah Pratiwi Budi

"Onani Politik Ala Kardun"

05/07/2020 03:09 - Indah Pratiwi Budi

JIKA BUKAN JOKOWI YANG MENJADI PRESIDEN INDONESIA

04/07/2020 09:51 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA