Tuesday, 14 Jul 2020
Temukan Kami di :
Opini

Arti Sebuah Tanggal Bagi Indonesia...

Indah Pratiwi Budi - 22/06/2020 17:20 Oleh : Agung Wibawanto

Selain tanggal 17 Agustus, ada banyak tanggal lain yang menjadi kenangan sejarah penting bangsa Indonesia. Namun ada pula sebuah tanggal yang dianggap cukup unik, yakni tanggal 21 Juni. Sebelum tanggal itu, 6 Juni adalah tanggal lahir Bung Karno. Berikut tanggal 8 Juni hari kelahiran Presiden RI ke 2, Suharto. Sedangkan setelah tanggal 21 Juni itu, ada pula tanggal 25 Juni merupakan hari lahir Presiden RI ke 3, BJ Habibie.

Lantas, ada apa tanggal 21 Juni? 21 Juni merupakan hari khusus bagi dua pemimpin bangsa Indonesia. Hari wafatnya Ir Soekarno, Presiden RI Pertama, sekaligus hari lahir Ir Joko Widodo, Presiden RI sekarang (2019-2024). Meski berbeda tahun, namun banyak masyarakat yang mengatakan bahwa itu ada hubungannya. Masyarakat kita memang dikenal jago utak atik angka (ingat zamannya porkas dan togel).

Bung Karno wafat dan Jokowi lahir, atau bisa dibalik, Jokowi lahir (1961) dan Bung Karno wafat (1970) pada tanggal yang sama. Apa maknanya? Tidak ada makna apa-apa dan tidak perlu digathuk-gathuk kan. Bung Karno sudah berpulang dan biarkan beristirahat dengan tenang. Sementara Jokowi, biarkan ia fokus menjalankan tugas negara tanpa perlu dibebani dengan batang-bayang kebesaran nama Bung Karno. Mereka memang 2 orang besar.

Tidak ada kaitan sama sekali antara kematian seseorang dengan kelahiran seseorang lainnya. Atau pun sebaliknya. Kematian dan kelahiran merupakan dua dari empat rahasia Alloh SWT (selain jodoh dan rejeki). Mungkin yang dilihat masyarakat soal adanya kemiripan antara Bung Karno dulu dan Jokowi sekarang. Baik sebagai presiden RI maupun sebagai pribadi.

Meski tidak semuanya sama tapi beberapa momen seperti sebuah "dejavu". Dari jepretan foto jurnalis lebih bisa dilihat bagaimana gaya mereka sangat mirip. Saat berbincang dengan rakyat, saat foto keluarga, saat menggandeng ulama dan Raja Arab Saudi, saat berkerumun dan dikerumuni rakyat, saat berkumpul bersama anak-anak. Semua foto-foto tersebut disandingkan dan kini viral di medsos, menunjukkan kemiripan Jokowi dengan Bung Karno.

Yang jelas berbeda adalah tantangan dan kemampuan masing-masing. Namun di situ pula justru terlihat keterkaitannya. Jika dulu Bung Karno sibuk menggelorakan semangat pemuda dan seluruh rakyat Indonesia untuk merdeka dan mempertahankan kemerdekaan dari penjajah asing. Bung Karno pula yang merintis ide menuju Indonesia Raya yang bisa sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya di dunia.

Kini, Jokowi menghadapi era milenial abad 21. Tantangannya adalah mengisi kemerdekaan dengan menegakkan kedaulatan bangsa dari jajahan ekonomi bangsa asing. Jokowi kini memiliki nawacita yang ingin menuju sebuah tatanan Indonesia Maju. Jokowi tidak selihai Bung Karno dalam berorasi karena yang dibutuhkan sekarang bukan lagi memobilisasi tapi mengajak untuk partisipasi membangun bangsa.

Yang dibutuhkan sekarang adalah contoh kerja nyata, bukan dengan kata-kata. Jika Bung Karno terkenal sebagai penggerak, maka Jokowi lebih kepada peran bekerja, melayani dan mewujudkan cita-cita bangsa, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Setiap zaman memang melahirkan seorang pemimpin. Tantangannya meski berbeda namun sama-sama tidak mudah. Pemimpin selain menjadi seorang leader namun juga harus mau berkorban.

Bung Karno bahkan rela difitnah dianggap menjadi bagian dari gerakan PKI 1965 hingga ia menyerahkan kekuasaannya demi terhindarnya perang saudara antara rakyatnya sendiri yang sangat dicintainya. Ia tidak mengambil dan membawa secuil pun barang dari istana. Ia bahkan diasingkan tidak boleh bertemu dengan keluarga dan rakyatnya, meski ia sangat merindukannya. Hingga ia sakit-sakitan dan meninggal.

Bung Karno dipaksa keluar dari Istana dan dipindah ke Wisma Yoso sebelum mengalami masa kritis dan dibawa ke RSPAD Gatot Soebroto. Beliau wafat hari Minggu, 21 Juni 1970, PKL. 07.07 pagi. Kisah-kisah memilukan di masa akhir Bung Karno dapat dibaca di beberapa buku dan artikel yang sudah beredar. Itulah pengorbanan seorang pemimpin besar, Sang Proklamator, Bapak Bangsa, harus mengenaskan diakhir hidupnya.

Jokowi seperti mengalami dejavu di masa Bung Karno. Ia juga sama mendapat banyak cercaan hingga fitnah yang bertubi-tubi datang padanya. Disebut PKI, keturunan China, pro aseng dan asing, dsb. Tidak cukup kepadanya, deraan yang sama dialami keluarganya, istri, anak, bahkan ibunya sendiri. Manusia mana yang kuat menghadapi hinaan, hujatan dan fitnah, mungkin demikian yang dirasakan oleh Jokowi.

Namun ia tetap ingat, bahwa seorang pemimpin harus mau berkorban, termasuk menerima segala hinaan dan fitnah. Ia hanya menjawabnya dengan bekerja dan membuktikan bahwa tidak ada waktu untuk menanggapi hal-hal kecil yang tidak produktif itu. "Menjawabnya hanya akan menghasilkan alasan, namun dengan bekerja akan menghasilkan sesuatu yang produktif," jawab Jokowi. Ia bak karang tetap fokus bekerja.

Hal lain yang juga dikhawatirkan Jokowi jika ia menjawab semua hinaan tersebut dengan kemarahan, maka akan terjadi keributan antara satu pendukung dengan pendukung yang lain. Mereka sama-sama rakyat Indonesia. Maka dari itu, biarlah dirinya saja yang berkorban difitnah tidak apa-apa, sepanjang rakyatnya tidak bertengkar. Ia yakin jika apa yang dilakukannya dalam berkerja itu berhasil, maka rakyat akan damai menikmati. (Awib)

#HBDJokowi
#HaulBungKarno

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto




Berita Lainnya

Stop Jadi Kampret Durjana

13/07/2020 18:48 - Indah Pratiwi Budi

Drama Opposite Babak Kedua

13/07/2020 16:14 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA