Tuesday, 14 Jul 2020
Temukan Kami di :
Opini

Framing Jahat Novel Baswedan Serang Jokowi Lagi!

Indah Pratiwi Budi - 17/06/2020 10:25 Di Tulis Oleh ; Mora Sifudan

Rahmat Kadir dan Ronny Bugis, penyerang Novel Baswedan (NB), dituntut jaksa dengan hukuman 1 tahun penjara. Keduanya dinilai melanggar Pasal 353 ayat 2 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Singkatnya, menurut jaksa penuntut umum, kedua tersangka tidak berniat melukai NB, melainkan ingin memberi pelajaran karena dianggap NB sudah melupakan institusi Polri.

Logika penuntut umum, yang didasarkan pada fakta persidangan, walaupun rasanya sangat mengecewakan, tetap masuk akal. Kenapa masuk akal? Terdakwa hanya ingin memberi pelajaran menyiramkan air keras. Bahwa ternyata kena ke mata NB, itu dia tidak kehendaki. Jadi niatnya memberi pelajaran, bukan niat mencelakai.

Saya sendiri kecewa dengan tuntutan jaksa penuntut umum ini. Terkesan bukan menuntut terdakwa melainkan menjadi pembela terdakwa. Dalam hal ini, saya sepakat dengan NB, kecewa terhadap tuntutan jaksa penuntut umum. Tetapi sebagai penegak hukum, sekecewa apa pun NB, harus menyelesaikan kekecewaan itu dengan proses hukum.


Masalah timbul ketika NB menjadikan kasusnya sebagai peluru untuk menyerang siapa saja yang bisa dia serang. Dia bukannya mencari cara bagaimana agar bisa menyelesaikan kasusnya seadil-adilnya, tetapi malah membangun framing jahat terhadap Jokowi.

"Saya akan tetap berikhtiar untuk melakukan protes dengan cara-cara yang benar. Apabila nanti putusan (majelis hakim) juga berjalan seperti sekarang (sesuai tuntutan jaksa). Saya tidak tahu perbaikannya akan seperti apa. Akan tetapi, tentunya dalam kesempatan ini kami juga mendesak kepada Bapak Presiden apakah masih tetap akan membiarkan? Apakah akan turun untuk membenahi masalah-masalah seperti ini? Bukankah sejak awal Bapak Presiden memberikan perhatian soal ini. Akan tetapi, kemudian mempercayakan kepada aparatur yang sudah bekerja? Bukankah sudah sangat cukup alasan untuk menunjukkan aparatur bekerja dengan bermasalah di sana sini.” (Novel Baswedan, Kompas)

Kenapa sasaran tembak NB justru presiden ketika dia sendiri berhadapan dengan hukum yang bukan ranah presiden. Seolah-olah NB meminta Jokowi untuk mengintervensi kasus hukumnya. Padahal Jokowi tidak dibenarkan undang-undang untuk mengintervensi kasus hukum siapa pun kecuali mengajukan grasi dan amnesti. Sementara proses kasus NB masih sedang berjalan, tetapi sudah terlebih dahulu meminta presiden mengintervensi.

NB mau mengatakan bahwa apa yang dia alami sekarang adalah kesalahan Jokowi. Padahal Jokowi sendiri sudah memberikan dukungan agar proses hukumnya dilaksanakan seadil-adilnya. Bahwa kemudian jaksa penuntut umum menuntut terdakwa dengan hukuman 1 tahun, apakah itu masih ranah presiden? Tentu tidak. Sekali lagi, proses hukum itu tidak bisa diintervensi presiden.

Presiden memang harus mempercayakan proses hukum kasus NB kepada aparat hukum. Penegak hukum, dalam hal ini kepolisian, sudah bekerja – terlepas dari adanya pro-kontra keganjilan kasus tersebut. Peradilan pun sedang berjalan – terlepas dari tuntutan yang hanya satu tahun. Peranan perhatian presiden sudah selesai. Kalau soal tuntutan itu, presiden tidak bisa berbuat apa-apa.

Sama seperti kasus Ahok, Jokowi juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong, sekali pun mungkin Ahok adalah sahabat baiknya. Ketika sudah masuk ranah hukum, maka presiden mau tidak mau harus mempercayakan proses itu kepada peradilan.

Anehnya, pada kasus NB, mereka meminta Jokowi mengintervensi hukum dan tuduh tidak peduli. Pada kasus Ahok, mereka meminta Jokowi tidak mengintervensi hukum dan menuduh otoriter. Ini maksudnya apa? Bukankah dengan begini kelihatan bahwa yang mereka mau itu adalah hukum seenak udel mereka? Makanya pakai otak, jangan pakai dengkul, cuk.

Saya sebenarnya mau simpati terhadap NB. Dulu ketika kasus ini baru bergulir, saya sangat mendukung pelaku dihukum seadil-adilnya. Tetapi belakangan ketika NB sudah mulai menggunakan kasusnya untuk menggiring opini untuk menyerang siapa saja yang berseberangan dengan dirinya, saya jadi muak. Bahkan saya sebut bangsat.

Waktu Pilpres 2019, kasus NB ini digunakan untuk menghantam Jokowi. Sekarang pun, kasus yang sama digunakan untuk menyerang Jokowi dengan framing yang sama jahatnya: Tidak ada keadilan di era Jokowi. Pada saat yang sama dia paham betul bahwa presiden tidak bisa mengintervensi kasusnya.

Apa kabar kasus pembunuhan pencuri sarang walet di Bengkulu? Apakah mereka sudah mendapatkan keadilan? Jangankan kasusnya dilimpahkan ke pengadilan, pembunuhnya malah sedang teriak-teriak minta keadilan. Kalau dihitung-hitung sih sama saja, pencuri sarang walet minta keadilan, pembunuh juga minta keadilan, dan yang salah tetap Jokowi.

Salam dari rakyat jelata

Mora Sifudan




Berita Lainnya

Stop Jadi Kampret Durjana

13/07/2020 18:48 - Indah Pratiwi Budi

Drama Opposite Babak Kedua

13/07/2020 16:14 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA