Saturday, 11 Jul 2020
Temukan Kami di :
Opini

Jokowi Lagi yang Salah?

Indah Pratiwi Budi - 16/06/2020 11:10 Oleh : Karto Bugel

Firehose of Falsehood sepertinya masih akan menjadi cara sekaligus senjata para pembenci Presiden.

Bercerita hal tak masuk akal namun terus diulang dan diulang lagi, sehingga yang tak benar itu lama kelamaan menjadi kebenaran bukan sesuatu yang mustahil.

Wajah memelas dengan mata tak lagi dapat melihat akibat siraman air keras tentu adalah cerita memilukan, apalagi harus dialami oleh seorang penyidik.

Penyidik yang adalah aparat hukum yang hadir sebagai penegak hukum dengan penjahat sebagai profil manusia jahanam disandingkan.

Petugas terluka, apalagi sampai kehilangan penglihatan akibat keganasan sang penjahat, tentu akan menghasilkan efek dramatis bila dikemas dengan benar.

Tak ada yang bergembira terhadap luka yang diakibatkan tindakan penjahat itu. Tak ada yang bersorak riang dengan kebuataan salah satu mata Novel. Bisa dipastikan semua rakyat marah.

Namun, menggunakan duka dan nestapa atas luka itu sebagai benteng, dan dari kenestapaan itu lahir serangan terhadap Presiden, tentu ini cerita yang berbeda. "Mblandang" itu namanya.

Kekuasaan peradilan memiliki aturan perkasa di negeri kita. Eksekutif bahkan yudikatif tak berkutik untuk intervensi disana. Lantas kenapa pelajaran hapalan anak SMP tak dipahami oleh orang sekelas Novel?

Sekali lagi, ini bukan tentang rasa tidak adil dan apalagi bodohnya seorang Novel, ini tentang isu yang sengaja digaungkan terus dan terus demi kaburnya sebuah kebenaran.

Gak percaya? Cobalah ajarkan terus dan terus tentang lagu balonku dan atau lagu burung kutilang yang kenapa mencoknya di pohon cemara bukan pohon kurma.

Narasi balon berwarna hijau dan pohon cemara adalah salah, maka kesalahan warna hijau yang harus meledak adalah menghina, dan pohon cemara adalah haram pada lagu itu benar salah adanya, ketika itu diulang dan terus diulang sebagai kesalahan apalagi dosa.

Itulah makna bahwa Presiden harus dipersalahkan karena sang penjahat penyiram mata Novel hanya dihukum 1 tahun penjara saja.

Narasi menyudutkan Presiden sebagai pihak tak adil, tak bijak, memusuhi umat, dan banyak julukan negatif yang lain sedang terus digaungkan.

Pengulangan dan pengulangan adalah cara paling sederhana merubah cara pandang seseorang apalagi bila dikaitkan dengan rasa tak adil dengan bumbu kebencian dan upah surga bagi yang melawannya.

Mungkin Novel bukan sedang protes kenapa penyiramnya hanya dihukum 1 tahun penjara, sangat mungkin, dia sedang mendendangkan lagu nestapa dengan pesan kebencian.
.
.
.
RAHAYU

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

 




Berita Lainnya

Inilah Contoh Pejabat Indonesia Yang Langka

10/07/2020 12:20 - Indah Pratiwi

KAYU CENDANA DAN SI TUKANG KAYU

10/07/2020 10:06 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA