Saturday, 11 Jul 2020
Temukan Kami di :
Bisnis

AS Sebut Ekonomi Dunia Kembali Terancam Gelombang Kedua COVID-19

Indah Pratiwi - 15/06/2020 18:12

Beritacenter.COM - Pasar saham hampir seluruh negara di dunia perlahan kembali tergelincir lantaran dikhawatirkan adanya wabah corona(COVID-19) gelombang kedua. Hal ini yang membuat ekonomi dunia belum pulih sepenuhnya.

Saat ini Amerika Serikat(AS) melalui Federal Reserve memberi peringatan kepada ekonomi nasional agar siap menghadapi perjalanan panjang untuk bisa kembali pulih lagi. Pasalnya, tiga bursa saham AS mulai alami terpuruk hingga penurunan mencapai 7 persen.

Selain AS, ada Jepang, Hong Kong, China dan Korea Selatan juga dilanda kekhawatiran di tengah gelombang kedua COVID-19. Kekhawatiran ini juga dirasakan di kawasan Eropa setelah kasus anti-rasial yang membuat demonstrasi besar-besaran di AS.

Hal ini terlihat bursa saham di Eropa yang anjlok seperti FTSE Inggris 100, Dax Jerman, dan CAC 40 Prancis mengalami penurunan drastis, terutama dibidang Industri yang terdampak, sektor energi dan pariwisata.

"Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat perlu mempersiapkan diri lebih baik untuk menghadapi gelombang kedua Covid-19," ujar Roland Kaloyan, ahli strategi ekuitas dari Societe Generale. "Masalah besar yang akan dihadapi ialah dana yang dapat disuntikkan pemerintah sangat terbatas," tambahnya.

Meski banyak perusahaan-perusahaan AS telah kembali melakukan perekrutan karyawan baru namun hal itu tidak sepenuhnya ekonomi membaik.

Kepala Bank Central Federal Reserve AS, Jerome Powell menyebutkan kondisi di lapangan saat ini kian memburuk jika wabah COVID-19 terus meningkat. Pasalnya, gelombang kedua COVID-19 juga menghantui dunia saat ini.

"Keadaan seperti ini dapat mencedarai upaya pemulihan, sekalipun wabah yang menyerang sebuah wilayah tidak mencapai tingkat nasional," kata Powell, dikutip BBC. "Hal ini bukan tanpa alasan. Orang-orang akan ketakutan untuk keluar rumah sehingga akan menghambat aktivitas dan laju pertumbuhan ekonomi," tambahnya.

Selain itu, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menyebutkan, saat ini mustahil menerapkan lockdown yang kedua kalinya saat waktu seperti ini lantaran bisa menghancurkan ekonomi negara.

Selain itu, para investor juga khawatir lantaranya munculnya gelombang kedua COVID-19. Pasalnya, gelombang pertama belum bisa tertangani dengan baik dan belum selesai. Menurut Pakar Kesehatan dari Universitas Harvard Ashish Jha menyebutkan, saat ini gelombang kedua sedang mengancam. Namun, hal ini akan sulit lantaran gelombang pertama belum selesai.

“Kita sebenarnya belum selesai pada gelombang pertama,” kata Ashish Jha, pakar kesehatan global di Universitas Harvard.

 




Berita Lainnya

Group Lion Air Akui 2.600 Karyawan Dirumahkan

02/07/2020 19:25 - Indah Pratiwi

Maskapai Lion Air Lakukan PHK Karyawan

29/06/2020 19:08 - Indah Pratiwi

Gojek Dikabarkan Akan Lakukan PHK Karyawannya

23/06/2020 23:13 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA