Tuesday, 14 Jul 2020
Temukan Kami di :
Opini

Membaca Hoegeng

Indah Pratiwi Budi - 15/06/2020 14:32 Oleh : Raihan Lubis

Salah Seorang Polisi Jujur yang (pernah) Kita Punya - Mengutip omongan Gus Dur; hanya ada tiga polisi yang tidak dapat disuap- polisi tidur, patung polisi dan Hoegeng. Mungkin generasi muda kini nyaris tidak lagi tahu siapa Hoegeng yang dimaksud Gus Dur ini.

Hoegeng adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) di zaman transisi Orde Lama menuju Orde Baru. Sebagai polisi, Hoegeng dikenal jujur, sederhana, dan tak kenal kompromi. Karenanya, seperti polisi tidur, ia tak bisa disuap.

Buku yang diterbitkan Oktober 2013 oleh Penerbit Buku Kompas ini ditulis oleh Suhartono, wartawan harian Kompas. Dia menulis cerita ini berdasarkan kisah dari Soedharto Martopoespito, mantan sekretaris Hoegeng.

Jadi, buku ini berasal dari tuturan seorang asisten tentang mantan pimpinannya. Kisah ini tidak dibuat dalam rangka pisah-sambut antara pimpinan lama dengan pimpinan baru, yang biasanya berbau feodalistik. Atau, karena dipesan sang mantan pimpinan yang membuat otobiografinya tak ubah seperti etalase diri. Sebaliknya, dalam buku ini, sang asisten baru berksiah setelah 48 tahun kemudian. Setidaknya, setelah dirinya pensiun dan setelah sang mantan pimpinan meninggal dunia (hal.xvii).

Dari buku ini kita tahu, bahwa Hoegeng menolak pengawalan dilakukan di rumahnya. Alasannya, dia takut jika teman-temannya jadi sungkan datang ke rumahnya. Bahkan ketika dia ditunjuk sebagai Wakil Menteri/ Panglima Angkatan Kepolisian (Pangak) dan Menteri/ Pangak (kemudian berubah menjadi Kepala Polri), Hoegeng juga tetap menolak pengawalan itu. Hanya ada dua ajudan dinas yag bergantian bertugas saat hari kerja dan staf ajudan yang membantunya sehari-hari (Hal.32-33)

Dia juga menolak mobil dinas yang disiapkan untuk keluarganya, sebuah mobi jenis Holden tahun 1965 (keluaran baru masa itu). Dia hanya memakai mobil dinas yang memang diperuntukkan baginya, sebuah mobil jeep Willis dari korps di Kepolisian.

Dia juga mengembalikan dua motor kiriman merk Lambretta- satu merek scooter yang terkenal di zaman itu. "Ini masih jam 16.00, masih ada orang di kantornya. Tolong motor ini dikembalikan lagi ke pengirimnya," kata Hoegeng pada ajudannya (hal.40)

Pernah pula ketika dia menjabat Kepala Direktorat Reserse dan Kriminal Kantor Kepolisian Provinsi Sumatera Utara, seorang pengusaha di Medan, mengirimkan sejumlah barang pada Hoegeng, tapi kemduian ditolak. Si pengusaha tak mau mengambil barang-barang itu. Dan kemudian Hoegeng meletakkan begitu saja barang-barang itu di depan rumahnya.

Di Medan, dia terkenal tak punya kompromi dengan para 'penguasa hitam' akibatnya dia pernah dipanggil ke Jakarta untuk memberi penjelasan kasus-kasus penyeludupan yang kerap ditanganinya. Dan akhirnya dia ditarik dari Medan dan kemudian non job - tak mendapat pekerjaan apapun di Jakarta. Jendral AH Nasution kemudian mengusulkan pada Soekarno agar Hoegeng diberi posisi menjadi Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia. Ternyata, tantangan Hoegeng lebih berat di tempat barunya ini- karena masa itu kantor imigrasi dikuasi intel tentara, polisi militer, dan Kejaksaan Agung.

Setelah menjadi Kapolri, Hoegeng berhak mendapat tanah kavling 2.000 m2 di Komplek Polri Ragunan- tapi dia malah memilih tinggal di rumah yang disewanya.

Pada 2 Oktober 1972, Presiden Soeharto memberhentikannya sebagai Kapolri. Mungkin karena sepak terjangnya yang banyak melibas para penyelundup mobil mewah masa itu. Dia kemudian diusulkan menjadi Dubes Swedia. Namun Hoegeng menolak. Dan karena Hoegeng piawai berbahasa Belanda, dia kembali ditawari menjadi Dubes di Belgia- dan dia kembali menolak. Banyak yang menilai, tawaran menjadi dubes adalah cara pemerintahan Presiden Soeharto 'membuang' Hoegeng ke luar Indonesia (hal.117)

Tapi di sisa-sisa masanya di kepolisian, dia berhasil mewajibkan pemakaian helm. Ketika dia tidak lagi menjabat sebagai Kapolri, Hoegeng mengembalikan semua barang yang pernah digunakannya selama menjabat- tidak ada yang tersisa termasuk handy talky (hal.199).

Masa tuanya diisi dengan menyanyi dan melukis. Dia bergabung dengan grup band The Hawaiian Seniors dan mereka sering tampil di TVRI. Nama grup ini disematkan demikian karena membawakan lagu-lagu dengan irama musik Hawaiian. Hoegeng memainkan alat musik ukulele selain juga menjadi vokalis.

Hingga akhirnya di tahun 80-an, grup musik ini tak boleh tampil lagi di TVRI dengan alasan aliran musiknya bukan dari negeri sendiri (hal.101). Padahal alasan sebenarnya karena Hoegeng bergabung dengan kelompok Petisi 50, yang kerap mengkritik pemerintah Orde Baru.

Sumber : Status Facebook Raihan Lubis




Berita Lainnya

Stop Jadi Kampret Durjana

13/07/2020 18:48 - Indah Pratiwi Budi

Drama Opposite Babak Kedua

13/07/2020 16:14 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA