Tuesday, 29 Sep 2020
Temukan Kami di :
Opini

Ini Rumitnya Mendidik Masyarakat Taat Protokol Kesehatan

Indah Pratiwi Budi - 11/06/2020 18:00 Oleh : Atoillah Isvandiary

Kondisi "epidemiologis" yang mungkin mendorong masyarakat untuk menolak PSBB selain faktor ekonomi adalah menurunnya kepercayaan atas keberadaan virus Corona ini.

Sebenarnya ini ironis dan paradoks setelah 7 bulan kita dirundung pandemi ini, dengan jumlah kasus yang meningkat, begitu pula kasus kematian.

Pengamatan sepintas menunjukkan bahwa ketidakpercayaan masyarakat ini disebabkan oleh beberapa hal.

Yang pertama adalah ketidakpercayaan secara umum pada otoritas. Otoritas di sini tidak terbatas hanya pemerintah. Tetapi juga tenaga medis. Definisi otoritas ini saya perluas sebagai "pihak yang masyarakat kebanyakan tidak memiliki akses luas untuk mendapatkan informasi".

Dengan pengalaman kumulatif emosional masyarakat yang sering "merasa" ditipu, wajar bila muncul perasaan distrust ini. Ketidakpercayaan ini. Kan ada pepatah: sekali lancung ke ujian. Sekali merasa dibohongi kita akan sulit merasa percaya. Itu manusiawi.

Apalagi akses informasinya terbatas (meskipun bila dibuka juga persepsi masyakarat akan bermacam macam. Dalam kasus covid ini misalnya, respon masyarakat akan sangat bervariasi mulai dari patuh karena takut dan panik, patuh rasional, patuh tanpa kritik, kurang patuh karena merasa covid ini kurang mengancam, sampai dengan membangkang karena merasa dibohongi dan dibodohi karena lebih percaya teori konspirasi yang malah tanpa data).

Kedua, tanpa akses informasi yang dibarengi dengan edukasi, spektrum kepercayaan seperti di atas akan terjadi. Tidak akan seragam, karena itulah konsekuensi demokrasi. Apalagi masyakarat awam sejak awal "berharap" melihat bahwa pandemi ini mirip dengan apa yang digambarkan oleh film resident evil, train to Busan, atau world war Z. Orang tiba tiba jadi zombie, atau orang tiba tiba berjatuhan. Pokoknya harus gambaran yang dramatis.

Tanpa ada gambaran dramatis, masyarakat nggak akan percaya. Apa yang digambarkan dengan jenius oleh Spielberg dalam film "contagion" (2011) yang sangat mirip dengan kondisi saat ini (hmmm... Jangan jangan covid ini adalah konspirasi Yahudi mengingat Spielberg sudah meramalkan pandemi covid ini dalam filmnya sejak 8 tahun yang lalu, dan Spielberg adalah seorang Yahudi tidak akan terjadi di dunia nyata, karena tidak semua masyarakat awam cukup mampu mencerna keadaan atau mengakses kondisi di Rumah Sakit.

Yang ketiga, adanya kesenjangan yang sangat lebar antara masyarakat awam dengan masyarakat kesehatan. Baik itu kesenjangan pengetahuan maupun kesenjangan antara "dunia" masing masing. Bagi masyarakat, ancaman ekonomi adalah nyata, sementara ancaman kesehatan adalah fatamorgana. Sedangkan bagi masyarakat kesehatan, ancaman kesehatan di depan mata. Kalau saya gambarkan, ini mirip seperti nabi Nuh yang membuat kapal tapi dibully umatnya, atau kelakuan nabi Khidir yang selalu dikritik nabi Musa.

Dua duanya diperintah untuk menyampaikan informasi, tetapi dengan komunikasi yang tidak efektif, seperti sekarang ini tenaga kesehatan menyampaikan edukasi dengan bahasa dan gestur yang tak dipahami masyarakat, apalagi memang di banyak daerah terdapat banyak gesekan akibat tidak adanya komunikasi sama sekali, maka akan berakhir salah paham. Iya kalo akhirnya cuma berakhir berpisah seperti nabi Khidir dan nabi Musa. Lha kalo tenggelam seperti umat nabi Nuh?

Tapi ya ada satu faktor juga sih yang merupakan "sisipan" jadi nggak saya hitung. Yaitu sebagaimana yang terjadi pada umat nabi Nuh. Yaitu: hidayah.

Yang keempat, adalah karena sifat manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk sosial. Kalau terlalu lama dikurung, tentu akan mengalami gangguan emosional.

Nah ini sebenarnya perlu diluruskan. Pembatasan sosial itu sebenarnya bukan untuk menghilangkan pandemi, tapi hanya untuk menekan. Agar tidak terlalu banyak dampak kesehatan yang ditimbulkan. Misalnya, jumlah kematian. Jadi kalo pada akhirnya tak bisa ditekan, ya sudah, di loss kan. SELAMA TETAP MELAKUKAN PROTOKOL KESEHATAN.

(Tentu secara epidemiologi harus dibayar pemerintah dengan konsekuensi: tingkatkan testing dan upaya pengobatan).

Konsekuensinya? Ya memang kemungkinan bisa ambyar. Karena pelonggaran ini masih prematur minimal dalam dua hal: jumlah kasus masih menanjak naik, dan pemahaman sebagian masyarakat tentang new normal ini masih sangat dangkal. Yaitu kembali bebas seperti sebelum ada pembatasan. Bukan perubahan budaya, sebagai konsekuensi kembali beraktivitas di bawah ancaman virus Corona.

Tapi, yah, sebagaimana biasa, saya tetap optimis. Semua akan "indah" pada waktunya. Tergantung bagaimana penggunaan "masker"nya saja, hehehe... (kok ya nggak dulu-dulu...)

Sumber : Status Facebook Atoillah Isvandiary




Berita Lainnya

Masyarakat Papua Mendukung Keberlanjutan Otsus

29/09/2020 08:30 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA