Saturday, 11 Jul 2020
Temukan Kami di :
Opini

"DIAM ADALAH TRIK JOKOWI MEMBUNUH LAWAN - LAWAN'NYA"

Indah Pratiwi Budi - 27/05/2020 08:00 Ditulis Oleh : Krisyanto Yen Oni

Mayoritas pendukung Bapak Jokowi pasti terkesima dengan judul seperti ini. Merasa terlalu yakin bahwa diamnya "Bapak Jokowi terhadap lawan-lawannya hanyalah trik membunuh".

Salah satu contoh yang paling menonjol belakangan ini adalah diamnya Bapak Jokowi terhadap Abas. Beberapa pengamat/penulis bahkan berpendapat bahwa "riwayat politik Abas sudah tamat"

Semua mungkin...

Tapi perlu kita sadari bahwa soal Abas beda persoalan nya. Saya pun tahu mayoritas pendukung Bapak Jokowi menganut jalan berfikir seperti judul diatas.

Tapi yang menjadi konsentrasi saya bukan soal "Trik Jokowi", melainkan soal "Konspirasi Politik Tingkat Tinggi" yang tidak banyak masyarakat tahu.

Boleh percaya, boleh tidak, posisi Bapak Jokowi saat ini tidak sedang baik-baik saja. Ini tidak sebatas persoalan Abas, ini soal kekuatan Oligarki yang ada dibelakangnya.

Dampak Kepemimpinan Abas memang sangat buruk bagi masyarakat umum, itu pasti. Tapi para Mafia membutuhkan orang seperti Abas untuk memuluskan segala bisnis kotor mereka dan hanya Abas yang mampu bahkan tega melakukan itu, meskipun yang menjadi korbannya adalah rakyat sendiri.

Seperti apapun cara kita beropini, waktu'lah yang akan membuktikan semuanya secara pasti. Dan saya berani taruhan, siapapun yang bakal Nyapres di tahun 2024 nanti, bisa jadi rival terberatnya adalah Abas.

Misi saya untuk menguburkan Abas dari peredaran informasi ga akan berpengaruh banyak, saya pun menyadari itu, namun intinya saya berusaha dan tidak diam.

Waktunya nanti, mata para pendukung Bapak Jokowi akan terbuka, bahwa Misi yang sedang saya jalankan ini benar...

"Bayangkan kamu sedang melihat seseorang terjatuh dari gedung tinggi. Kamu mungkin berteriak sekencang-kencangnya. Tapi plisss... Tolong percaya sama saya bahwa teriakanmu tidak akan membuat orang yang sedang jatuh itu tertarik kembali keatas. Dia pasti terhempas kebumi, itu hukum alam" !

Seperti ketika kamu percaya "Ahok sungguh-sungguh tidak bersalah", namun fakta hari ini Ahok tetap SAH sebagai "orang bersalah".

Seperti ketika kamu percaya bahwa "Bung Karno telah dilengserkan saja oleh Soeharto", namun fakta hari ini Soeharto tetap SAH sebagai "penyelamat Negara"

Apa yang saya maksudkan dengan mengibaratkan kasus-kasus diatas ?

Maksud saya adalah: "Jangankan suaramu, bahkan jantungmu kau congkil dan kau sobek-sobek, tetap saja apa yang telah didesain oleh kekuatan Oligarki, itulah yang akan berlaku !

Bapak Jokowi terlalu tulus mengabdi kepada Bangsa dan rakyat, saya pun tahu...

Beliau berniat merombak secara total "Sistem dan Bisnis Politik Pengelolaan Negara" yang sedang bejalan, yang dianggapnya salah. Hal itu dilakukannya demi keadilan sosial dan kesejahteraan hidup seluruh rakyat Indonesia.

Tentu saja niat tersebut sungguh mulia.

Tapi saya harus jujur bahwa langkah Bapak Jokowi diakhir periode pertama Kepemimpinannya hingga jalan periode kedua ini terlalu kasar sehingga menciderai tubuh Oligarki yang juga telah turut menopang kepemimpinannya diperiode pertama.

Oh andai pengelolaan Lahan HGU tidak diusik Jokowi...

Andai permintaan JK untuk tetap mendampingi beliau di periode kedua itu dikabulkan...

Andai sistem Impor Migas tidak diusik Jokowi...

Saya yakin Negara ini jauh lebih "aman"

Mestinya periode saat ini jauh lebih kuat ketimbang periode sebelumnya. Mengapa..? Karena parlemen didominasi oleh koalisi Pemerintah !

Bahkan rival terberat Jokowi di 2014 dan 2019 yakni Prabowo telah menjadi bagian dari Kepemerintahan.

Namun apa yang kita saksikan sejauh periode kedua ini berjalan ?

Meskipun saya tetap percaya pada kemampuan dan bijaksananya seorang Jokowi, namun saya tidak bisa pungkiri bahwa periode kedua kepemimpinan Jokowi sangat rentan dan rapuh.

Bapak Jokowi nyaris hilang semaraknya dimata masyarakat yang tidak memahami apa persoalan sesungguhnya dibalik semua hiruk-pikuk dunia politik.

Tidak sesederhana yang kita bayangkan..... Bapak Jokowi tersandera diantara kepentingan Politik dan rasa cintanya terhadap rakyat.

Beliau begitu mencintai dan ingin sekali berbuat sebanyak-banyaknya untuk kesejahteraan rakyat selama kesempatan dirinya menjabat sebagai Presiden RI, namun dari sisi yang tersembunyi dirinya diserbu oleh kepentingan.

Saya tahu ada campur tangan pihak internal Partai Pengusung juga, padahal Partai pengusung tersebut bisa melambung dan berjaya berkat nama Jokowi.

Jadi sampai disini kita bisa memahami kenapa diperiode pertama kepemimpinan Bapak Jokowi terasa lebih greget ketimbang periode saat ini.

Karena diperiode pertama ada kawan dan ada lawan, sedangkan diperiode saat ini kawan ikut-ikutan jadi lawan. Dan dia benar-benar tersandera !

Sedikit menelisik kebelakang....

Andaikata Jokowi berhasil dilengserkan diperiode yang lalu, apakah pernah terlintas difikiran anda bahwa Prabowo'lah yang akan naik menjadi Presiden RI menggantikan Jokowi ???

Kalo anda pernah berfikir seperti itu, maka saya ingin katakan bahwa anda keliru.
Pemikiran tersebut terlalu lugu dan lucu.

Dan saya ingin anda tahu saat ini bahwa andaikata Jokowi berhasil dilengserkan kala itu, maka yang berpotensi menjadi Presiden RI menggantikan Jokowi adalah Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla.

Itulah hukum pemindahan kekuasaan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia.

Beruntung Bapak Jokowi mampu menyatu eratkan POLRI dan TNI secara emosional dalam waktu singkat, meskipun belum sempurna.

Saya kira itulah konci keselamatan Negara saat itu dan Doa-doa kita juga.

Tubuh Oligarki memang berisi orang-orang Nasionalis, tapi mereka juga punya bisnis. Dan siapa yang rela jika sistem usahanya diusik ?

Bapak Jokowi perlu belajar "ilmu semut" Oligarki itu seperti "Semut rangrang"

Dia akan menggigit dan menghambat anda agar tidak mendekati sarang/tempat segala aktifitas produksi dan reproduksi berlangsung.

Ketika anda ngotot menerobos hingga mencapai sarangnya kemudian mengobrak-abrik itu, apakah dia akan musnah ? TIDAK !!!

Besoknya anda akan melihat mereka telah merakit sarang lagi, dan bukan hanya satu. Itulah Oligarki. Anda hanya bisa membasminya menggunakan semut juga, yakni semut hitam/ada yang menyebutnya semut gila.

Semut hitam ini saya ibaratkan "orang-orang kecil yang siap digigit bahkan siap mati" Ketika anda melepaskan semut hitam diarea kekuasaan semut rangrang, semut hitam tersebut akan langsung disergap dan digigit hingga mati. Tapi beberapa detik kemudian jika anda perhatikan, semut rangrang itupun mabuk kemudian mati.

Jadi langkah Bapak Jokowi menerobos dan mengobrak-abrik itu baik. Niat tulusnya sungguh mulia yakni demi menegak'kan keadilan sosial dan kesejahteraan hidup seluruh rakyat Indonesia.

Tapi apakah langkah itu akan efektif ??? Saya yakin tidak !!!

Seperti semut rangrang mereka akan membangun sarang lagi, dan tidak hanya satu. Yang saya sesalkan adalah, mereka telah mebangun sarang-sarang baru dibelakang Abas...

Kembali ke apa yang telah saya ketengahkan diatas bahwa tubuh Oligarki berisi orang-orang Nasionalis, tapi mereka juga punya bisnis dan tidak rela bisnisnya diusik.

Mereka tidak membutuhkan orang pintar dan hebat untuk memimpin Bangsa ini, mereka hanya butuh sosok yang bisa dikendalikan agar dapat memuluskan segala urusan bisnis mereka, tidak peduli rakyat yang dikorbankan "yang penting usaha saya mancur", begitulah prinsip mereka.

Dan hanya Abas yang mampu dan tega melakukan itu.

Sampai disini paham sayang....?

Salam Waras
Krisyanto Yen Oni




Berita Lainnya

Inilah Contoh Pejabat Indonesia Yang Langka

10/07/2020 12:20 - Indah Pratiwi

KAYU CENDANA DAN SI TUKANG KAYU

10/07/2020 10:06 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA