Monday, 03 Aug 2020
Temukan Kami di :
Opini

Fitnah yang Tak Pernah Berhenti

Indah Pratiwi Budi - 27/03/2020 15:25 Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Dalam sejarah Nusantara dan Republik Indonesia..., belum pernah ada cacian..., hinaan..., dan fitnah yang paling buruk...; baik dari sisi manusia maupun agama..., kecuali cacian..., hinaan..., dan fitnah yang diarahkan kepada Presiden Jokowi.

Tidak ada satu pun Raja atau Presiden..., yang menerima sebutan terburuk selain dirinya.

Di negeri yang saat ini bermayoritas muslim..., dan konon menjunjung tinggi tradisi kesusilaan serta budaya..., selama bertahun-tahun memuja kata-kata kotor yang diarahkan kepada pemimpin negara dan bangsa..., sementara kebijakan pemerintahannya tetap diikuti dan menikmati karyanya.

Perlu daftar panjang menyusun kata-kata berikut penjelasannya..., untuk menguraikan cacian..., hinaan..., dan fitnah serta berbagai tuduhan itu....:

Presiden anjing.., Pemimpin LGBT..., Presiden yang akan menghalalkan babi panggang..., melegalkan aborsi..., Anak PKI..., Cina tulen..., Antek asing..., Antek Yahudi..., nama aslinya Oei Hiong Liong..., sundal alias pelacur..., shalat jenazah ndak pakai duduk..., mengganti rupiah dengan mata uang Tiongkok..., burung unta..., sinting..., bebek lumpuh..., idiot..., plonga plongo..., dungu..., tidak tahu apa-apa..., anak pungut..., pengecut..., ingusan.., bodoh..., tukang mebel tak pantas jadi presiden..., banci..., presiden boneka..., dan lain-lain.

Belum yang bernuansa agama...:

Pemimpin toghut..., Firaun..., Dajjal..., Kafir..., Munafik..., laknatullah..., iblis..., dan lain-lain.

Belum lagi yang fitnah..., dan hoax yang dilontarkan.

Ada sebutan yang lebih buruk dari itu...?

Tidak ada.

Jokowi adalah makhluk manusia ternista dan terjahat sepanjang penciptaan manusia di muka bumi..., melebihi Firaun atau Dajjal.

Dan...

Sebagian besar lontaran atau sebutan itu disampaikan oleh orang-orang yang mengaku beragama..., orang-orang yang mengaku paling suci.

Luar biasa bukan...?

Ini bukan soal baper...., bukan soal tidak terima.

Tapi ini soal seberapa banyak kebencian yang kita miliki dan tertanam..., serta seberapa dalam akhlak dan etika yang bisa kita lakukan.

Di negara paling liberal atau paling atheis pun..., tidak kita temukan fenomena seperti di negeri dengan mayoritas muslim terbesar di muka bumi ini.

Bahkan..., setelah seluruh proses pilpres usai dan pemenangan ditentukan...; apakah cacian..., makian..., hinaan..., hujatan..., fitnah..., dan hoax akan berhenti...?

Dan kini ketika ibunda beliau wafat..., apakah makian dan hujatan juga berhenti....?

Ternyata tidak....

Akan semakin banyak orang merasa lebih beriman..., sambil memupuk benci dan segala tuduhan.

Beruntungnya..., tukang mebel kurus itu bersabar dan diam..., tidak membalas balik dengan makian dan hujatan.

Kita sedang menulis sejarah kita sendiri..., yang telah terjadi di NKRI tercinta ini.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya




Berita Lainnya

Menguatkan Regulasi Pembinaan Pancasila

03/08/2020 11:20 - Indah Pratiwi Budi

Penyebaran Radikalisme Meresahkan

03/08/2020 07:55 - Indah Pratiwi Budi

DJOKO TJANDRA, BURONAN ERA SBY DITANGKAP DI ERA JOKOWI

01/08/2020 11:15 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA