Saturday, 11 Apr 2020
Temukan Kami di :

Cerita Seniman Di Balik Taman Ismail Marzuki

Indah Pratiwi Budi - 20/02/2020 15:17 Oleh : Ramadhan Syukur

WAKTU Ahok merencanakan akan mengalihkan pengelolaan TIM (Taman Ismail Marzuki) dari BP PKJ (Badan Pengolola Pusat Kesenian Jakarta) ke tangan UPT (Unit Pengola Teknis), seniman meradang.

Mereka menilai pendekatan UPT ini berbasis pada kekuasaan yang birokratis dan materialistik, bukan pendekatan pelayanan.

Lalu budayawan Radhar Panca Dahana berteriak.

“Kalau rumah kami mau direbut, kami mau tinggal di mana? Langkahi dulu tulang kami, kalau perlu lindas,”

Ketika Ahok (di)lengser(kan) dan diganti Anies, mumpung si pemilik tulang gak ada, traktor pun diam-diam masuk ke TIM biar gak ada yang kelindas. Dan TIM pun dengan mudah direbut dan dihancurkan.

Padahal Ahok dulu bilang, sebetulnya, "Saya lebih suka TIM dipegang oleh seniman. Tapi mereka minta uang APBD,"

Masalahnya, menurut peraturan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) pemerintah daerah dilarang mengalokasikan dana dalam bentuk hibah selama tiga tahun berturut-turut.

Ahok meragukan kemampuan para seniman dalam mengelola TIM. Apalagi sejak jaman Ali Sadikin, TIM emang gak dituntut bisa nyari duit. Rugi terus gak apa-apa asal seniman bisa terus berkesenian.

"Kalau (seniman) mampu, saya kasih kelola dan bubarkan UP semua. Ngapain gaji PNS banyak-banyak."

Intinya Ahok gak kepingin TIM disubsidi terus. Tapi kalo TIM dibiarkan mengelola sendiri, mereka juga gak punya anggaran. Jalan keluarnya maka dibentuklah UPT. Seniman diajak bergabung. Belajar cari duit deh sendiri. "Saya tinggal bikinin suratnya," kata Ahok.

Setelah itu ribut-ribut soal TIM hilang tenggelam. Ahok sudah gak ngurusin, karena dia sendiri sibuk didemo berjilid-jilid dengan tuduhan penistaan.

Dan seniman Ibu Kota yang tergabung dalam Komunitas Seniman Taman Ismail Marzuki (Kostim) bersama Barisan Anak Jakarta (Bajak) ternyata juga gak kalah galak, ikut mendemo Ahok.

"Mari satukan langkah dan gerak para seniman untuk mendukung gubernur yang membela kepentingan para seniman. Maju kotanya bahagia warganya," teriak Koordinator Kostim, Ari Harwanto. Keren pokoknya dah.

Tapi itu dulu.

Hari ini Seniman Peduli TIM yang dipimpin Radhar Panca Dahana akan diterima dan akan mengadukan nasibnya pada Komisi X DPR RI yang bakal dipimpin Dede Yusuf. Gak tahu apa yang bakal dibahas. Yang jelas bukan tawaran Ahok yang dulu dianggap gak berguna itu.

TIM, tempat jaman gue kuliah suka nongkrong di sana, sudah porak poranda. Andai dulu usul Ahok diterima, mungkin Graha Bakti Budaya masih ada. Tapi sudahlah. Lupakan Ahok yang sekarang makin sibuk di Pertamina dengan program transparansinya.

Para seniman pasti pahamlah, dalam dunia teater ini namanya tragedi komedi.

Sumber : Status facebook Ramadhan Syukur




Berita Lainnya

Tunda Mudik Selamatkan Keluarga Dari Covid-19

10/04/2020 12:16 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA