Sunday, 05 Apr 2020
Temukan Kami di :
Politik

Kursi Bersayap Di Kendari

Indah Pratiwi Budi - 14/02/2020 15:42

Amin Rais adalah kursi coklat susu yang beterbangan di ruang kongres sebuah partai politik, di Kendari. Amin politisi tua paling tua yang keukeuh mau memegang erat klaim atas partai. Ia ingin seperti Megawati, SBY dan Prabowo.

Hari ini kita melihat Partai Grosir. Bukan partai politik. Semua partai di republik ini bertujuan kepada kekuasaan. Kekuasaan untuk uang. Jadilah rakya kecil tak punya uang seperti sekarang. Amanat penderitaan rakyat sebagai lahan berdirinya negara ini, untuk tumbuhnya nilai gotong royong dengan pandangan dunia Pancasila, cenderung diabaikan.

PAN kini tidak lagi identik dengan Muhammadiyah. Muhammadiyah tak bar-bar seperti di Kendari kemarin. Rahim Muhammadiyah masih melahirkan tokoh sehebat dan secemerlang Buya Syafii Maarif. Yang mampu mengkritik dengan jernih bangsanya yang ketipu membeli rongsokan peradaban Arab yang gagal produk. Tadinya PAN lahir dari Muhammadiyah, tapi ia seperti anak Nuh yang mengandalkan dirinya dan gunung, menolak perahu penyelamatan Tuhan. Anak itu anak biologis, bukan anak ideologis.

Saatnya sekarang rakyat mencurigai isi hati partai. Kata 'partai' punya dua homonimitas makna partai untuk suatu kesatuan konsep politik. Dan kata 'partai' yang bermakna grosir lawannya eceran.

Lawan dari yang politik adalah yang kecenderumgan pada kesenangan. Orang cenderung pada kesenangan makan, seks, rumah bagus, mobil bagus, uang banyak, itu semua kesenangan. Yang politik adalah lawan dari yang kesenangan itu, artinya yang politik adalah kecenderungan mencari kebaikan untuk semua orang. Di dalam filsafat politik paling tua dan lengkap Al Farabi membagi politik dalam kadar kesucian : politik setan paling bawah - menghalalkan segala cara, politik hewan bicara kesejahteraan jasmani, politik akal membangun peradaban, politik ilahi tegaknya keadilan menyeluruh. Tapi Indonesia telah mencampurnya yang kesenangan kepada yang politik. Jadilah politik koplo.

Kongres PAN di Kendari mengkritik bangsa ini, memberi sinyal kuat bahwa sekarang ada yang salah dalam batin partai politik di Indonesia. Luarnya ia banyak berjanji pada rakyat, lima tahun mereka ingkari, musim Pemilu datang lagi membawa janji lagi. Dalamnya mereka ngariung bersama murak APBN dan APBD, rakyat ditinggal. Tak diajak ikut bancakan.

Sarwin, seorang Ketua RT di Tanah Hitam kelurahan Asano, protes saat Musrenbang. Katanya, kalian pemerintah terlalu banyak bicara. APBD itu isinya dua saja. Belanja pegawai dan belanja proyek. Kalian urus
Rakyat belanja sendiri-sendiri tambah susah. Padahal pendapatan dari APBD itu adalah pajak yang ditari dari kami rakyat Indonesia. Baku tipu. Stop sudah baku tipu begini. Mari bikin yang baik, kata Sarwin.

Nasib bangsa semakin terpuruk. Diganggu terus oleh musuh dan munyuk-munyuk. Gaduh saban hari, orang ibadah direcoki. Padahal jelas kita telah sepakat ini negeri Pancasila. Semua silahlan menyembah Tuhan dengan masing-masing keyakinan. Tapi satu kelompok mengalami kelainan, mereka terjangkit penyakit rongsokan peradaban Arab. Tuhan hanya milik mereka saja, yang lain silahkan sewa atau kost. Dan penyakit kelainan ini dibiarkan saja oleh kita. TNI -Polri takut HAM Amerika. Padahal ketika isi sembelih manusia tidak bicara HAM.

Santri Kalong : Apakah kita rakyat perlu bangkit bikin partai yang bukan grosir Kang?

Kang Mat : Ini saya mau pergi ke Kemenkumham. Mau daftar partai politik baru.

Santri Kalong : Rencanaya namanya partai apa Kang.

Kang Mat : Hijbullah (Partai Allah)

Bung Cebong : Sama dengan Pak Amin dong ?

Kang Mat : Implementasi politik Tuhan adalah hadirnya para nabi di tengah-tengah kita. Dan pemimpin pengganti nabi.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA