Wednesday, 11 Dec 2019
Temukan Kami di :
Investasi

Meski Banjir Investor, Startup Dinilai Rawan Rugi

Indah Pratiwi - 07/10/2019 14:31

Beritacenter.COM - Dunia startup berteknologi tengah menjadi tren di masa kini. Ada banyak perusahaan teknologi startup yang digunakan masyarakat di Indonesia, seperti Grab, Gojek, Tokopedia, Traveloka dan lainnya.

Namun, perusahaan startup belum tentu menghasilkan keuntungan. Berbeda dengan perusahaan tradisional yang langsung menghasilkan keuntungan di hari pertama mereka memulai.

Salah satunya Google berusia 21 tahun itu hanya butuh 3 tahun untuk mendapat keuntungan pertama mereka. Selain itu, Amazon baru mendapat keuntungan setelah 9 tahun. Amazon sendiri dimulai dari Bezos yang berjualan buku pada 1994 silam.

Amazon sempat memutuskan untuk menjual saham perdana ke publik (IPO). Ketika memutuskan untuk IPO apakah Amazon sudah mendapat untung? Jawabannya adalah tidak.

Walau ada pemasukan sebesar US$1,6 miliar (sekitar Rp22,4 triliun; US$1=Rp14,039.20) pada 1999, akan tetapi Amazon tetap harus menenggak rugi US$719 juta (Rp1 triliun). Selain itu, Bezos juga sempat meelakukan PHK sepertujuh karyawannya dan menutup sejumlah pusat distribusi perusahaan mereka.

Dan pada tahun 2003, Amazon mendapat keuntungan pertama. Meski untung, pada 2011 dan 2013 Amazon sempat membukukan kerugian. Keadaan berbalik signifikan pada 2015 lalu. Mengapa investor rela sampai mengeluarkan uang lebih untuk startup?

Kebanyakan, sebagian besar perusahaan teknologi itu berakhir gagal. Menurut pengajar senior di Harvard Business School, Shikhar Ghosh, 75 persen startup yang telah didanai pemodal ventura sangat rawan gagal.

Karena tingginya tingkat kegagalan perusahaan startup teknologi ini, maka bagaimana dengan tingkat kerugian investor? Sampai mereka rela memberi investasi gila-gilaan untuk mereka?

Meski memiliki tingkat risiko yang tinggi terhadap kerugian, namun keuntungan berlipat sering menggiurkan para investor. Salah satunya adalah yang dialami oleh Peter Thiel yang merupakan investor dari Facebook Inc.

Mereka juga berani berperan besar agar startup yang mereka suntik bisa menjadi penguasa pasar mayoritas, sebagaimana yang ditulis The Conversation. Hal ini yang terjadi pada Google dan Facebook.

Selain hitung-hitungan uang, ada hal-hal intrinsik lain yang menjadi motivasi investor berinvestasi yakni ingin menjadi bagian inovasi masa depan.

Hal-hal inilah yang membuat orang tergiur dengan investasi di perusahaan startup yang belum tentu menghasilkan keuntungan.




Berita Lainnya

WOW! Emas Antam Turun Rp4000 Hari Ini

22/10/2019 09:48 - Anas Baidowi
Kemukakan Pendapat


BOLA