Sunday, 05 Apr 2020
Temukan Kami di :
Opini

Hilangnya Kesantunan Anak Negeri

Indah Pratiwi Budi - 30/09/2019 18:00

Menjadi PR besar bagi menteri pendidikan Indonesia periode selanjutnya untuk bisa membuat kebijakan yang benar-benar membuat Indonesia melahirkan generasi terdidik yang tidak hanya unggul dalam bidang keilmuan, tapi juga beradab, beretika, dan punya sopan santun. Ini menjadi harga mati jika tidak ingin kehilangan jati diri bangsa Indonesia.

Presiden adalah simbol wibawa sebuah negara, sosok yang harus dihormati oleh rakyat. Saking terhormatnya seorang presiden, sampai ada pasal penghinaan presiden. Barangsiapa yang menghina presiden akan dihukum. Meskipun Presiden Jokowi justru menolak pasal itu dan tak mempermasalahkan dirinya dihina dan dicaci maki, tapi sebagai rakyat yang beradab dan beretika yang masih memegang teguh pancasila, tidak selayaknya terus menerus mencaci maki presiden.

Masih bisa dimaklumi ketika kalangan awam yang tidak mengenyam bangku pendidikan yang melakukan perbuatan tidak terpuji itu. Namun ironisnya, perbuatan menghina presiden entah lewat tulisan di medsos, dengan kata-kata makian, dengan sikap yang tidak bersahabat, dan ragam penghinaan lain justru dilakukan oleh kalangan terdidik.

Hanya karena merasa pintar lalu kemudian merasa ada yang tidak beres dengan kerja presiden, lalu dengan seenaknya mencaci maki, menggerakkan massa, melakuakan sebuah tekanan. Padahal seharusnya mereka adalah kelompok yang paling tahu mekanisme hukum untuk menolak sebuah kebijakan, aturan, bahkan undang-undang.

Melihat video mahasiswa menurunkan foto Jokowi dengan tali lalu dilempari di kantor DPRD Sumbar, hati ini ingin berontak. Sudah separah inikah kualitas budi pekerti generasi terdidik di Indonesia? Jika tidak bisa menghormati Presiden Jokowi sebagai presiden, setidaknya bisa menghormati beliau sebagai orang yang lebih tua.

Melihat mahasiswa berdebat dengan orang-orang tua seperti Menkumham Yasonna, Ketua Staf Presiden Moeldoko, Hingga Anggota DPR Komisi III, Asrul Sani, saya menjadi ingin bertanya, apakah ketiga orang ini adalah orang jahat sehingga seolah-olah perlu untuk dipermalukan di depan umum? Apakah pernah membayangkan bagaimana perasaan anak-anak dari ketiga orang di atas melihat ayahnya didebat dengan kurang santun di forum yang ditonton banyak orang?

Membaca berita Aliansi Mahasiswa menolak bertemu Jokowi di Istana Negara, dan meminta pertemuan dengan Jokowi dilakukan terbuka agar bisa disaksikan masyarakat, saya ingin bertanya, dimana rasa hormat kepada seorang presiden yang telah bekerja keras untuk negeri? Apa alasan paling logis yang bisa dijadikan pembenaran kalau mahasiswa berhak untuk menuntut apapun ke presiden? Sudah seberapa besar kontribusi yang diberikan untuk negeri sehingga berperilaku seperti itu?

Benar bahwa presiden harus pro rakyat, harus mendengarkan aspirasi rakyat, tapi apakah tidak ada cara yang lebih beradab untuk membicarakan hal ini? Jokowi adalah seorang presiden, bukan 'bawahan' yang bebas disuruh untuk melakukan apapun yang disuka. Jangan selalu mengatasnamakan rakyat di setiap tuntutan karena bukan tak mungkin semua rakyat sepakat dengan tuntutan itu.

Saya pernah jadi mahasiswa. Bukan saya sok suci atau sok punya akhlak yang baik. Saya mendukung aksi, protes, atau apapun karena itu bagian dari ruh mahasiswa. Ruh mahasiswa dikatakan hilang ketika sudah tidak peka dan peduli dengan kondisi yang terjadi di negeri ini. Tapi sebagai negara timur, saya berharap jangan meninggalkan etika dan sopan santun dalam mengawal kepedulian itu.

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)




Berita Lainnya

Lockdown Bagi Rakyat Kecil

04/04/2020 10:35 - Indah Pratiwi Budi

Saat Wabah Covid-19 Melanda, Percayalah Pada Pemerintah

04/04/2020 07:00 - Indah Pratiwi Budi

Mewaspadai Radikalisme Racuni Generasi Muda

03/04/2020 17:10 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA