Thursday, 22 Aug 2019
Temukan Kami di :
News

Aktivis Soal Pelebaran Trotoar Cikini: Pejalan Kaki Terzalimi, Selalu Ngalah sama Motor dan PKL

Selama ini pejalan kaki pun mengalah sama pemotor, PKL, dijadikan parkiran-lah. Jadi selama ini pejalan kaki terzalimi

Aisyah Isyana - 22/07/2019 08:57

Beritacenter.COM - Berbagai dukungan terus berdatangan mengapresiasi proyek pelebaran trotoar di Cikini, Jakarta Pusat. Salah satu dukungan datang dari Koalisi Pejalan Kaki, yang menyebut nasib pejalan kaki selalu terzalimi dengan para pedagang kaki lima (PKL), hingga pemotor yang kerap melintasi trotoar.

"Selama ini pejalan kaki pun mengalah sama pemotor, PKL, dijadikan parkiran-lah. Jadi selama ini pejalan kaki terzalimi," kata Pendiri Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus, seperti dilansir detik, Minggu (21/7/2019) malam.

Baca juga : Jawab Protes Ferdinand soal Pelebaran Trotoar Cikini, Pakar: Pejalan Kaki Itu Prioritas, Nomor Satu!

Polemik soal pelebaran trotoar di Cikini menjadi sorotan usai mendapat kritikan Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Demokrat, Ferdinand Hutahean. Dia menilai, proyek itu membuat jalan untuk kendaraan bermotor menjadi sempit dan macet. Menanggapi hal itu, Alfred menyebut penyebab utama kemacetan justru pengguna kendaraan pribadi.

"Pengendara kendaraan pribadi teriak macet, padahal mereka penyumbang utama kemacetan. Pada dasarnya koalisi penjalan kaki bukan hanya mendukung pelebaran trotoar, tapi juga semua mode transportasi yang nantinya terintegrasi dengan trotoar," imbuh dia.

Menurutnya, sejauh ini pejalan kaki sendiri masih kekurangan fasilitas yang beradab di Ibu Kota. Untuk itu, jelas Alfred, koalisi pejalan kaki mendukung penuh setiap proyek pelebaran trotoar di Jakarta.

"Koalisi pejalan kaki mengapreasiasi setiap pembangunan trotoar di Jakarta. Kita ini masih sangat minim fasilitas yang beradab bagi pejalan kaki di Ibu Kota. Ketika ada pembangunan itu, kita harus dorong bersama," ungkap Alfred.

Alfred juga mengingatkan kepada para pengendara bermotor untuk tak melupakan jati diri mereka yang juga sebagai pejalan kaki. Dalam hal ini, Alfred menilai suatu kota akan menjadi kota yang beradab jika memberikan keberlanjutan bagi para pejalan kaki.

"Para pengendara itu jangan melupakan jati dirinya, kalau mereka juga pejalan kaki. Bagaimana kota ini bisa suistanable-nya lebih kepada manusianya, bukan kepada mesin yang mati," tutur Alfred.

"Kita harus melihat juga peradaban kota itu bisa dilihat dari cerminan trotoarnya seperti apa. Kalau mau kota anda tidak beradab, ya bangunlah jalan raya setinggi-tingginya, gedung yang ada di jakarta, kita tinggal lihat nanti seperti apa Jakarta-nya," sambung dia.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA