Sunday, 25 Aug 2019
Temukan Kami di :
Opini

Selamat Tinggal Pro Khilafah

Indah Pratiwi Budi - 19/07/2019 20:03

Pupus sudah agenda pro khilafah di Indonesia. Ruang geraknya semakin tidak ada tempat di hati rakyat, peluangnya di politikpun semakin terjepit.

Paham pro kilafah pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1983 lewat Hizbut Tahrir Indonesia, yang dibawa oleh Abdurrahman al-Baghdadi yang seorang mubalig dari Yordania dan juga aktivis Hizbut Tahrir Australia.

Awal mula masuknya Hizbut Tahrir Indonesia adalah dengan mengajarkan pemahamannya kepada beberapa kampus di Indonesia hingga dapat menghimpun anggota yang cukup banyak.

Hizbut Tahrir adalah gerakan yang menekankan pada perjuangan untuk membangkitkan umat Islam di seluruh dunia, mengembalikan kembali kehidupan Islam dengan menegakkan Khilafah Islamiyah.

Hizbut Tahrir didirikan di Al Quds, Palestina pada tahun 1953 yang kemudian berkembang ke negara-negara Arab di Timur Tengah, Asia Tengah dan Afrika, Mesir, Libya, Sudan, serta Aljazair. Hingga kini Hizbut Tahrir telah tersebar di 45 negara, sangat aktif di beberapa negara Barat terutama Inggris.

Seiring berjalannya waktu Hizbut Tahrir justru banyak ditolak di negara islam itu sendiri, karena dianggap menyimpang.



Negara-negara yang menolak Hizbut Tahrir adalah : Malaysia, Yordania, Suriah, Turki, Libya, Arab Saudi, Bangladesh, Mesir, Kazakhstan, Pakistan, Tajikistan, Kirigistan, China, Denmark, Perancis, Spanyol, Jerman, Australia, Tunisia.
Dan Indonesia adalah negara ke 21, yang menolak dan membubarkan Hizbut Tahrir.

Indonesia patut berbangga dengan Jokowi, yang dengan tegas membubarkan organisasi tersebut. Jokowi tidak mau kecolongan seperti negara-negara timur tengah yang hancur lebur oleh politisasi agama. Kita semua tahu politisasi agama di Indonesia sangat terasa sejak pemilu 2014 dan pilkada DKI.

Walaupun Hizbut Tahrir Indonesia sudah di bubarkan dan menjadi organisasi terlarang, negara harus tetap berhati-hati dengan bahaya doktrinasinya. Berbagai usaha masih dilakukan untuk tetap bisa bertahan.

Usaha mendompleng untuk tetap eksis di lakukan pada pemilu 2019 ini. Ini sangat terlihat takkala rekonsiliasi Jokowi dan Prabowo terjadi. Mereka yang pro khilafah sangat marah dan tidak terima dengan momentum tersebut. Kenapa, karena peluang agenda mereka sudah hilang dari bumi Indonesia.

Tapi kita harus tetap waspada, karena mereka akan selalu mencari peluang politik untuk bisa tetap bertahan. Mungkin ke depan bisa berafiliasi pada partai politik tertentu atau tokoh individu tertentu.

Kita Gasri

#Team10
#KitaGASRI

Sumber : Status Facebook KP Norman Hadinegoro




Berita Lainnya

Beda Sikap MUI Pada Somad dan Ahok

24/08/2019 18:20 - Indah Pratiwi Budi

Wujudkan Perdamaian di Papua, Kita Adalah Indonesia

23/08/2019 19:50 - Indah Pratiwi Budi

Freeport Dan Ketegangan Papua

22/08/2019 21:54 - Indah Pratiwi Budi

Ternyata Jokowi Orang Papua

22/08/2019 19:30 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA