Tuesday, 23 Jul 2019
Temukan Kami di :
Teknologi

Terungkap, SDM Huawei Ternyata Mantan Spionase

Indah Pratiwi - 10/07/2019 21:40

Beritacenter.COM - Presiden AS Donald Trump belum lama menyebutkan akan menerapkan larangan transaksi perdagangan terhadap Huawei. Tapi kini Paman Sam kemungkinan tidak akan menindak sama sekali pabrikan China tersebut.

Kabar tersebut merupakan angin surga bagi Huawei, tapi bagi pengamat industri, hal itu menyisakan kebingungan. Perusahan China yang baru dinyatakan sebagai ancaman terhadap keamanan nasional AS, tiba-tiba aman digunakan?

Dilansir Laman Phone Arena melaporkan, akibat kebingungan ini digelarlah sebuah penelitian mendalam oleh sebuah lembaga independen. Hasilnya mencengangkan!

Memang berdasar hasil investigasi, tidak ada kekhawatiran tentang hubungan mendalam Huawei dengan Pemerintah China. Akan tetapi perusahaan dinilai secara aktif merekrut mantan pegawai pemerintah yang ditugaskan melakukan peretasan atau spionase industri. Mereka melakukan kegiatan siber terhadap perusahaan-perusahaan Barat, termasuk di Asia.

Hal ini terungkap dari studi Christopher Balding, Associate Professor di Fulbright University Vietnam dan think tank konservatif yang berbasis di London Henry Jackson Society. Investigasi itu memeriksa karyawan Huawei yang dibocorkan secara online dari database yang tidak aman dari situs web perusahaan perekrutan.

Terlihat, salah satu CV (curiculum vitae) yang diinspeksi menggambarkan seorang karyawan Huawei yang juga memegang peran di universitas militer tempat mereka dipekerjakan oleh Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA). Karyawan itu terkait dengan kemampuan ruang perang, cyber, dan elektronik militer China. Diduga Sumber Daya Perusahaan Huawei itu merencanakan spinose melalui perangkat elektronik di smartphone besutan mereka.

"Saya tidak memiliki bukti bahwa negara China telah secara langsung memerintahkan karyawan Huawei untuk melakukan tindakan spionase atau perilaku serupa. Saya katakan itu hanya karena saya tidak memiliki rekaman audio pesanan atau email yang menunjukkan pesanan tersebut," kata Balding.

"Namun, saya dapat mengatakan CV melakukan pembicaraan tentang perilaku seperti intersepsi informasi dan kami tahu contoh di mana seorang karyawan Huawei memegang posisi ganda dalam Angkatan Dukungan Strategis PLA yang mengawasi peperangan elektronik dan unit perang nontradisional serupa. Jadi saya tidak bisa mengatakan itu telah dipesan, tetapi kesimpulan posisi dan perilaku yang mereka sebutkan pada CV mereka tampaknya mengindikasikan bahwa mereka terlibat dalam tindakan ini," katanya disitat laman Phone Arena.




Berita Lainnya

Begini Cara Percepat Koneksi WiFi yang Lemot

18/07/2019 21:29 - Fani Fadillah
Kemukakan Pendapat


BOLA