Tuesday, 23 Jul 2019
Temukan Kami di :
Opini

"Jokowi Jangan Dicemari"

Indah Pratiwi Budi - 08/07/2019 17:50

Kita sadar, sesadar-sadarnya bhw munculnya Jokowi sbg pemimpin bersih Indonesia dizaman tingkat polusi korupsi yg sdg dipuncak prestasi kdg sulit dipercaya, kok ada manusia setengah dewa disamudra pendosa. Muncul sbg pasangan ideal bersama BTP memimpin Jakarta, Indonesia bak mendapat oksigen baru dlm kebenaran yg lama sirna, sayang BTP dijegal oleh para begal brutal. Dan kita tau siapa kadal cebol yg ikut membobol moral, dia tampil bak kancil, kerdil mecicil.

Kita kehilangan BTP membenahi Jakarta, yg skrg jd kembali porak poranda ditangan manusia sampah yg sulit dipilah.

Menyisakan Jokowi ditampuk pemimpin tertinggi adalah sebuah berkah. Hantaman, serangan dan nyaris menumpahkan darah terus mereka kelola dgn seksama, karena targetnya mengembalikan Indonesia dikejayaan orba agar para setan bisa kembali berpesta dan poya². Ini jelas, mereka akan membawa Indonesia sesuai dgn seleranya.

TSM yg dituduhkan kepada kemenangan Jokowi adalah prilaku mereka sendiri dari segala lini. TSM dlm kebohongan, Hoaks, Doktrin pembodohan, Fitnah, dsb. Sebenarnya bila mereka sadar, semuanya sdh dijawab Tuhan sesuai doanya mereka, agar yg tak benar dan curang dikalahkan. Jadi tak perlu menunggu bisikan malaikat, karena ketidak benarannya telah bgt terang melebihi cahaya.

Selesai sidang di MK, gugatan yg memang tak bs dibuktikan malah dibalikkan seolah MK bersekutu dgn yg curang. Entah kesumpal setan apa otak dan hati mereka bgt kusam dan tak bisa bercahaya. Sampai seluruh jagat raya tertawa ada orang kalah minta dilantik karena merasa menang dgn hitungannya sendiri.

Selesai kontestasi ada brp kali kubu Jokowi mencoba utk bicara ttg bangsa dan negara, bak jagoan neon yg lagi oyong, bahasanya merendahkan ajakan kebaikan. Katanya negarawan diajak bcr kebangsaan yg keluar gestur bajingan. Sekarang ada bahasa rekonsiliasi, saya dari awal sampaikan rekonsail itu cuma bisa dilakukan kalau ada masalah yg perlu klarifikasi, la ini kan bukan masalah menang-kalah, tapi kalah melulu, terus marah nuding yg menang curang. Orang gila diladeni, mana ngerti dia arti rekonsiliasi, dia cuma tau mau menang sendiri.

Terus, ada jubir bibir tafir, syarat rekonsail bawa kadal gurun pulang, lha apa urusannya. Manusia kotor, mulut molor, kelakuan bocor mau dimasukkan syarat membicarakan kebaikan. Ini kan ibarat mau masak rawon super, pas mau dimasak dimasukkan bangke tikus, apa itu arti rekonsiliasi.

Singkatnya, ajak saja mereka menjadi orang baik, kalau mau, karena dungu juga pilihan jitu, mungkin kelasnya cuma disitu. Awasi saja jgn sampai mengganggu, dan tidak usah diajak jadi sekutu. Sebaik apapun mereka tetap menyimpan ketidak sukaan, karena maunya mereka bukan berbaikan namun merebut kekuasaan sesuai yg mereka impikan.

Jadi solidkan saja koalisi agar Jokowi bisa konsentrasi tanpa dicemari. Koalisinya jg hrs tau diri, jgn bilang berjuang tanpa pamrih, setelah menang mulai merintih. Alasannya capek berdiri, skrg mau duduk dikursi.

Ahhh..rekonsiliasi yg dicemari..ya jadinya begini, kawan sendiripun mulai unjuk gigi..

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)




Berita Lainnya

Pendekar KPK ?

22/07/2019 17:20 - Indah Pratiwi Budi

Anies Memang Rasis

22/07/2019 15:50 - Indah Pratiwi Budi

"LOGIKA ANEH SANG PECUNDANG"

22/07/2019 14:30 - Indah Pratiwi Budi

Nggak Penting Koalisi Apa Oposisi

20/07/2019 17:36 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA