Tuesday, 20 Aug 2019
Temukan Kami di :
Opini

Kebaya dan Sanggul, Akulturasi Budaya Dunia dalam Budaya Indonesia

Indah Pratiwi - 04/07/2019 19:27

Beritacenter.COM - Hari ini beberapa perempuan pecinta budaya Nusantara menggelorakan kampanye "Selasa Berkebaya". Suatu langkah yang sangat baik dan perlu mendapat apresiasi dan dukungan dari kita semua.

Dengan mencermati semakin derasnya budaya asing dalam mempengaruhi cara berbusana perempuan Indonesia, langkah yang diinisiasi oleh komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia ini merupakan angin segar bagi kelestarian salah satu warisan leluhur yang sudah ditetapkan sebagai busana nasional tersebut.

Kalau kita telusuri sejarah kebaya, kita akan mempunyai kesimpulan bahwa ternyata kebaya merupakan hasil dari proses akulturasi budaya dunia menjadi budaya khas Indonesia. Sejarah kebaya tidak bisa dipisahkan dari negara Arab, Tiongkok, dan Portugis. Istilah kebaya sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu "abaya" yang artinya pakaian penutup.

Kebaya sudah ada sejak abad ke-15 Masehi, di mana saat itu kebaya menjadi busana khas perempuan Indonesia, khususnya perempuan Jawa. Kebaya terdiri atas baju atasan yang dipadu dengan kain panjang khas Jawa.

Pada pertengahan abad ke-18, terdapat dua jenis kebaya yang dipakai oleh perempuan Indonesia, PERTAMA Kebaya Encim, yaitu kebaya yang dikenakan perempuan Tiongkok peranakan di Indonesia dan KEDUA Kebaya Kutu Baru, yaitu kebaya bergaya tunik pendek warna-warni dengan motif cantik.

Memasuki abad ke-19, kebaya sudah dikenakan oleh semua kelas sosial setiap harinya, baik perempuan Jawa atau pun perempuan peranakan Belanda. Bahkan, kebaya sempat menjadi busana wajib bagi perempuan Belanda yang hijrah ke Indonesia. Pada tahun 1940-an, Presiden Soekarno menetapkan KEBAYA sebagai busana nasional, karena dianggap sebagai lambang emansipasi perempuan Indonesia. Apalagi, dalam kesehariannya Raden Ajeng Kartini kerap memakai kebaya.

Selain dipadu dengan kain panjang aneka motif, awalnya berbusana kebaya yang terbuat dari kain sutera, beludru atau brokat selalu dibarengi dengan penggunaan sanggul sebagai tata rambut. Pada saat kita melihat perempuan Indonesia berbusana kebaya dan bersanggul, yang terpancar darinya adalah keanggunan seorang perempuan yang berkelas, terhormat dan bermartabat.

Sanggul atau konde sebenarnya sudah dikenal sejak zaman Mesir kuno. Ketika itu, perempuan Mesir Kuno memiliki kebiasaan mencukur bersih rambut di kepalanya demi acara keagamaan, juga demi kebersihan. Mereka biasanya mengenakan rambut palsu (sanggul) pada acara-acara tertentu. Sanggul tidak hanya terbuat dari rambut manusia, tapi bisa terbuat dari bulu hewan atau serat daun palma.

Dari manapun asalnya, busana kebaya yang dipadu dengan wastra Nusantara dan sanggul saat ini sudah dikenal dunia sebagai busana tradisional khas Indonesia. Sebuah proses akulturasi budaya yang terserap dengan indah yang terpadu dengan keanggunan khas perempuan Indonesia.

Secara filosofis busana kebaya mengandung nilai-nilai kehidupan yang lebih dari sekedar kebutuhan berbusana saja. Bentuknya yang sederhana mewakili wujud kesederhanaan masyarakat Indonesia. Desainnya yang membebat tentu menjadikan wanita sukar bergerak cepat. Karena memang perempuan pada masanya diharapkan untuk bersikap halus, lemah lembut, gemulai, patuh, sabar dan tawadhu. Dan potongan kebaya yang mengikuti bentuk tubuh bermakna seorang perempuan harus bisa menyesuaikan dan menjaga dirinya.

Kini dengan perkembangan zaman bentuk dan motif kebaya sudah beraneka ragam. Kebaya juga bisa secara luwes dipadu-padankan dengan aneka kain panjang yang khas dari berbagai daerah di Indonesia. Entah berupa kain batik maupun tenun songket.

Dalam beberapa tahun ini dunia wastra Indonesia sudah berkembang dengan pesat. Melalui para perancang busana modern seperti Ghea Panggabean, Anne Avantie, Amy Atmanto, Adjie Notonegoro dan perancang busana lainnya menjadikan desain kebaya dan kain bawahnya sudah berkembang tanpa batas. Para perancang busana tersebut telah mampu memodifikasi kebaya menjadi lebih unik dan beragam dengan menghadirkan keanggunan modern, sehingga kebaya juga bisa dikenakan pada saat pesta dan kegiatan keseharian lainnya.

Untuk tata rambut pun saat ini sudah beraneka ragam. Artinya berbusana kebaya tidak harus bersanggul, dengan rambut digerai indah atau pakai penutup kepala (hijab)pun keanggunan perempuan berkebaya tidak berkurang sedikitpun.

Susahkah mengenakan kebaya dan sanggul?

Sahabat saya Mbak Yanthi Tambunan mengutarakan :

"Dengan cara saya yang sederhana, saya bisa berbusana kebaya dan melakukan tata rambut bersanggul hanya dengan kurang dari 30 menit. Ini saya ajarkan kepada Ibu-ibu untuk menunjukkan bahwa berbusana kebaya dan bersanggul itu mudah, murah dan tidak menghabiskan waktu. Bisa dilakukan sendiri tanpa harus ke salon. Easy and so simple. Dan saya siap memberikan tutorial berkebaya dan bersanggul dengan mudah".

Semoga warisan budaya leluhur kebaya ini dapat dilestarikan oleh para perempuan hebat Indonesia. Mari kita kembali ke busana nasional identitas bangsa Indonesia.

Salam SATU Indonesia,
02072019

(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)




Berita Lainnya

Somad, Ahok Dan Penistaan Agama

19/08/2019 21:51 - Indah Pratiwi Budi

Somad, Penista Agama yang Sering Kumat

19/08/2019 20:40 - Indah Pratiwi Budi

Menyemai Nasionalisme Pemuda di Era Post-Truth

16/08/2019 14:00 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA