Monday, 17 Feb 2020
Temukan Kami di :
News

Pengamat: Ini Etika Politik, Prabowo-Sandiaga Tunda Rekonsiliasi Jika Tak 'Ucapakan Selamat'

Kalau pada level elite, calon presiden atau wakil presidennya nggak begitu (mengucapkan selamat kepada yang menang) apalagi pada level masyarakat di bawah. Itu kan artinya menunda memberi selamat itu menunda penyelesaian masalah, menunda rekonsiliasi

Aisyah Isyana - 01/07/2019 08:50

Beritacenter.COM - Sandiaga Salahudin Uno menyebut pemberian ucapan selamat kepada pemenang Pilpres sebagai budaya barat, bukan budaya Indonesia. Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuian Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris menilai ucapan selamat ke Jokowi-Ma'ruf tak ada ada hubungannya dengan budaya barat.

Menurutnya, pemberian ucapan selamat dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ke Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin selaku pihak pemenang Pilpres, merupakan syarat mutlak dari rekonsiliasi itu sendiri.

Baca juga : Tim Jokowi: 'Ucapan Selamat' Sikap yang Dicontohkan Rasulullah, Salah Sandi Sebut Budaya Barat

"Ini soal sederhana, yang namanya kompetisi pemilu itu pasti ada yang kalah dan yang menang. Ya nggak mungkin menang semua, mesti ada pengakuan terhadap yang menang, mengaku kalah dan memberi selamat (kepada yang menang) itu nggak ada hubungannya dengan budaya Barat atau Timur, itu soal etika politik saja," ujar Haris saat dikonfirmasi, Minggu (30/6/2019).

Haris mengatakan, sosok Prabowo-Sandiaga sebagai elite politik akan memberi dampak kurang baik bagi masyarakat jika tak memberi selamat kepada Jokowi-Ma'ruf Amin.

"Kalau pada level elite, calon presiden atau wakil presidennya nggak begitu (mengucapkan selamat kepada yang menang) apalagi pada level masyarakat di bawah. Itu kan artinya menunda memberi selamat itu menunda penyelesaian masalah, menunda rekonsiliasi," katanya.

"Jadi bagi saya syarat rekonsiliasi yang pertama mengakui kekalahan, memberi selamat kepada yang menang, itu syarat rekonsiliasi. Jadi tidak akan ada rekonsiliasi selama itu tidak berlangsung, itu artinya Prabowo membiarkan massa di bawah tetap terbelah. Ya apa susahnya, apa beratnya (memberi selamat kepada Jokowi)," lanjutnya.

Baca juga : Prabowo Tak Akan Hadir Saat Penetapan Jokowi, TKN: Gimana Mau Rekonsiliasi dan Mahfud MD: Tak Ada Ribut Politik, Rekonsiliasi Selalu Terjadi dan Tak Bisa Dihindari

Menyinggung soal pernyataan Sandiaga yang menghubungkan budaya barat dengan ucapan selamat ke Jokowi, dinilai Haris sudah sangat tidak tepat. Dia pun mempertanyakan apakah keberadaan demokrasi sendiri bukan berasal dari budaya timur.

"Kalau dihubungkan dengan budaya barat, demokrasi itu apa budaya timur? Itu badaya barat juga, pemilu (budaya barat), semua juga kan kita impor, jadi nggak tepat kalau dikaitkan ke situ (budaya barat)," tuturnya.

Selain itu, Haris juga menyinggung sejarah kontestasi politik di Indonesia selama ini. Dia menilai, sudah menjadi suatu hal yang lazim dilakukan jika seseorang yang kalah memberikan ucapan selamat kepada pemenang.

"Nggak usah jauh-jauh, dalam Pemilu presiden sebelumnya 2004, 2009, itu yang kalah-kalah juga memberi selamat kepada yang menang, nggak usah dibawa ke barat atau ke timur," imbuhnya.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA