Monday, 25 May 2020
Temukan Kami di :
News

Soal Klaim Menang 52% Prabowo-Sandi, MK: Dalil Pemohon Tak Beralasan, Tak Bisa Dibuktikan!

Bukti pemohon tidak dapat membuktikan hasil penghitungan berdasarkan formulir rekapitulasi yang sah untuk seluruh TPS. Mahkamah berpendapat dalil pemohon a quo permohonan tersebut tidak beralasan menurut hukum

Aisyah Isyana - 27/06/2019 19:30

Beritacenter.COM - Dalil gugatan Prabowo-Sandiaga terkait klaim kemenangan 52 persen, disebut Mahkamah Konstitusi (MK) tak beralasan. MK menyebut klaim kemenangan kubu Prabowo tak dapat dibuktikan.

"Pemohon mendalilkan, berdasarkan dokumen C1 yang dimiliki pemohon, perolehan suara pemohon adalah 68.650.239 atau 52 persen," kata hakim MK Arief Hidayat saat sidang pembacaan putusan di gedung MK, Kamis (27/6/2019).

Dalam hal ini, kubu Prabowo-Sandiaga mengklaim ada perbedaan hasil suara sebenarnya dengan versi KPU. Dari hasil KPU, perolehan suara mencatat pasangan Jokowi-Ma'ruf meraup 85.607.362 suara, sementara Prabowo-Sandiaga 68.650.239.

Baca juga :

KPU dalam hal ini menjawab dalil gugatan Prabowo-Sandi tak benar dan tak berdasar hukum, karena hasil benar adalah hasil rekapitulasi tingkat nasional dari KPU. KPU menyebut kubu Prabowo tak bisa menguraikan perolehan suara tiap provinsi, kota, dan kecamatan. Terlebih, perolehan suara versi KPU sendiri berdasarkan rekapitulasi berjenjang yang dihadiri saksi dari kedua pasangan calon.

"Dalil pemohon yang tidak merujuk pada perolehan suara pada tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan adalah dalil yang tidak benar dan tidak berdasar," ucap Arief membacakan tanggapan KPU.

Terkait klaim kemenangan 52 persen, pihak Jokowi-Ma'ruf menyebut kubu Prabowo-Sandi sama sekali tak bisa menunjukkan dimana saja suara 01 berkurang. Kubu Prabowo juga dinilai tak bisa menunjukkan dimana letak kesalahan sehingga ada perbedaan perhitungan suara.

"Pemohon mendalilkan suara pihak terkait di Sumsel berjumlah 0 suara, suatu hal yang di luar akal sehat," kata Arief membacakan tanggapan pihak terkait.

MK memaparkan, perbedaan klaim Prabowo ada pada suara Jokowi-Ma'ruf yang berjumlah 63.573.169, sementara suara yang ditetapkan KPU sebesar 85.607.362 suara. Untuk suara Prabowo-Sandiaga sendiri, baik versi KPU maupun versi 02 tetap sama.

"Dengan demikian, yang didalilkan sebenarnya adalah penambahan terhadap suara pihak terkait, bukan perbedaan suara pemohon," kata Arief.

Prihal dalil yang digugatkan, MK menyebut Prabowo tak melampirka bukti rekapitulasi yang lengkap untuk 34 provinsi. Sementara untuk provinsi yang bukti rekapitulasinya dilampirkan, form C1-nya ternyata tidak lengkap untuk semua TPS.

"Sebagian besar C1 adalah hasil foto atau pindai scan hasil C1 yang tidak diuraikan dengan jelas mengenai sumbernya dan bukan salinan C1 resmi yang diberikan kepada saksi pemohon di TPS," paparnya.

Menurutnya, Prabowo-Sandiaga juga tak menguraikan ada atau tidaknya koreksi C1 atau keberatan dari saksi pemohon saat rekapitulasi suara berjenjang. Hakim MK menilai, dalil gugatan Prabowo-Sandi tidak lengkap dan tak jelas, lantaran tidak secara khusus menunjukkan di mana perbedaan hasil suara yang dimaksud. 

Prabowo-Sandi juga tidak membuktikan dengan alat bukti yang cukup untuk meyakinkan mahkamah bahwa hasil penghitungan menurut pemohon itu merupakan hasil penghitungan yang benar.

"Bukti pemohon tidak dapat membuktikan hasil penghitungan berdasarkan formulir rekapitulasi yang sah untuk seluruh TPS," ucap Arief.

"Mahkamah berpendapat dalil pemohon a quo permohonan tersebut tidak beralasan menurut hukum," pungkasnya.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA