Saturday, 20 Jul 2019
Temukan Kami di :
News

Minta Kubu 02 Buktikan Klaim Kecurangan, Mahfud: Siapa yang Bohong Akan Ketahuan!

Hukum itu perlu bukti, kalau dia katakan dapat 52 juta, karena ada perubahan di sini, di sini, di mana itu? Tunjukkan formulir nomor berapa, TPS berapa, bedanya berapa. Kalau itu (dgital forensik) tidak bisa secara hukum, secara ilmiah bisa

Aisyah Isyana - 20/06/2019 23:20

Beritacenter.COM - Mahfud MD menyebut orang-orang yang melakukan kebohongan dan berdrama dalam memberikan keterangan di sidang sengketa Pilpres, pasti akan ketahuan. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini mengimbau masyarakat untuk terus memantau jalannya sidang sengketa pilpres di MK.

"Siapa yang bohong akan ketahuan, siapa yang berdrama akan ketahuan, kan gitu. Rakyat kan tidak bodoh," kata Mahfud di Kantor Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Jakarta, Kamis (20/6).

Sejauh ini, Mahfud menilai keterangan sejumlah saksi yang dihadirkan tim hukum Prabowo-Sandi, masih mentah. Salah satu contohnya, Mahfud menyebut keterangan keponakannya, Hairul Anam, yang disebutnya hanya sebatas persepsi tanpa bisa memberi bukti.

Baca juga :

Menurutnya, setiap saksi harus bisa menunjukkan bukti dari setiap klaim kecurangan yang disuarakan. Mahfud menilai, sejauh ini bukti yang disampaikan tim hukum Prabowo hanya berupa digital forensik saja. Mahfud menyebut bukti digital forensik itu tak bisa dikatakan sebagai bukti yang menguatkan terkait klaim terjadinya penggelembungan suara.

"Hukum itu perlu bukti, kalau dia katakan dapat 52 juta, karena ada perubahan di sini, di sini, di mana itu? Tunjukkan formulir nomor berapa, TPS berapa, bedanya berapa. Kalau itu (dgital forensik) tidak bisa secara hukum, secara ilmiah bisa," ujarnya.

Untuk itu, Mahfud berharap agar hakim MK dapat menuangkan argumentasi yang jelas dalam menilai setiap butir pernyataan saksi dari tim Prabowo-Sandi pada pertimbangan putusannya nanti. Dia menegaskan, setiap kesaksian yang dianggap salah harus disertakan dalil dan fakta-fakta pendukung.

"Itu namanya MK yang benar. Jangan hanya mengatakan gugatan dikabulkan, misalnya, atau gugatan ditolak. Jangan hanya begitu," ujarnya.

"Ya ini pengalaman saja, bukan karena saya. Dulu tahun 2009 ramenya bukan main, begitu saya putus jam 4, jam 5 sore udah selesai semua tahun 2009. Karena kita argumennya jelas, setiap dalil itu dibahas," kata Mahfud menambahkan.




Berita Lainnya

Kabar Duka, Arswendo Atmowiloto Meninggal Dunia

19/07/2019 20:20 - Fani Fadillah
Kemukakan Pendapat


BOLA